Peluang Bisnis Travel Photography Diprediksi Berkembang

Peluang pasar untuk travel photography dinilai sangat besar dan akan terus berkembang selama beberapa tahun mendatang mengingat adanya beragam tren.
Ilustrasi-drone - Hackerthings

Bisnis.com, JAKARTA – Peluang pasar untuk travel photography dinilai sangat besar dan akan terus berkembang selama beberapa tahun mendatang mengingat adanya beragam tren.

Chief Executive Officer (CEO) Frame A Trip Endra Marsudi menjabarkan beberapa tren yang mendorong perkembangan bisnis travel photography.

Pertama, tren perkembangan industri pariwisata secara global termasuk Indonesia terus meningkat beberapa tahun belakangan.

Hal ini berkaitan dengan target Kementerian Pariwisata untuk bisa menjadikan sektor pariwisata menjadi penyumbang devisa negara terbesar (core economy) pada 2019.

Pada tahun depan ditargetkan terdapat 20 juta turis mancanegara yang berkunjung ke Indonesia (inbound traveling) ditambah dengan target perjalanan wisatawan domestik (outbond traveling) sebanyak 275 juta (domestic traveling).

Endra menilai hal tersebut menunjukkan agresivitas pemerintah Indonesia untuk mengembangkan sektor pariwisata dalam negeri secara maksimal setidaknya dari sisi pemasaran, investasi, dan perbaikan infrastruktur.

Di sisi lain, Mastercard mencatat wisatawan Indonesia yang bepergian keluar negeri (outbond traveling) per tahunnya memiliki laju pertumbuhan (CAGR) 8,6% dengan estimasi pada 2021 akan mencapai 10,6 juta.

“Berbagai data di atas adalah gambaran besarnya captive market bisnis tersebut, dan itu hanya sebatas angka inbound, outbond, dan domestic traveling Indonesia saja. Bayangkan jika kita masukkkan berbagai data secara global, maka pasarnya sangat besar,” ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Kedua, perubahan tren pola konsumsi, dimana saat ini sebagian masyarakat Indonesia lebih gemar menghabiskan waktu dan pendapatannya untuk kebutuhan traveling (leisure economy) dibanding konsumsi rumah tangga.

“Hal ini didorong oleh dominasi perilaku para generasi milenial dan golongan kelas menengah (middle-class and affluent consumers) Indonesia,” katanya.

Berdasarkan data Bappenas, saat ini tercatat generasi milenial Indonesia (kisaran umur 20—34 tahun) telah mencapai 90 juta (34% dari total penduduk Indonesia). Adapun, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan golongan kelas menengah Indonesia diketahui sudah bertumbuh hingga 60% dari total masyarakat Indonesia.

Kedua kelompok ini cenderung punya obsesi untuk memprioritaskan dana buat berwisata ke banyak kota di seluruh dunia sebagai bentuk aktualisasi diri, kepuasan pribadi, maupun pelarian dari kesibukan sehari-hari.

Di samping itu, tren-nya masih kuat untuk tumbuh selama beberapa tahun ke depan karena World Travel & Tourism Council (WTTC) memprediksi kontribusi total sektor Travel & Tourism di Indonesia terhadap GDP akan terus bertumbuh 6,4% per tahunnya mencapai US$115,8 miliar di tahun 2028.  

Ketiga, perubahan travel customer journey dan perilaku konsumen saat traveling. Jika dahulu kecenderungan ketika ingin mengambil keputusan untuk traveling orang sebatas melihat paparan iklan, datang ke travel agent, membeli paket wisata dan kemudian jalan-jalan.

Sementara sekarang tahapannya sudah berubah menjadi micro moments, mulai dari mencari inspirasi destinasi (dreaming) hingga membagikan foto di media sosial (sharing). Dengan adanya tahapan akhir yakni sharing, layanan travel photography menjadi sangat digemari para wisatawan.

Ditambah perilaku konsumen yang punya kecenderungan sekarang suka mengejar likes sebanyak-banyaknya di media sosial. Bagi mereka likes merupakan social currency yang menjadikan status sosial mereka terakui secara digital sebagai kalangan berkelas.

“Dan hanya lewat foto-foto yang keren dan editing yang beda, yang bisa menarik banyak likes di media sosial. Fenomena ini tentu menjadi potensi kuat peluang pasar bagi travel photography,” tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
travel, fotografi

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top