Menyusuri Sejarah Islam Cirebon di Keraton Kanoman dan Keraton Kasepuhan

Ada dua keraton di Cirebon yang menyimpan sejarah panjang agama Islam di wilayah ini, yaitu Keraton Kanoman dan Keraton Kasepuhan. Simak cerita sejarah di dua lokasi bersejarah ini.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 23 Oktober 2018 19:30 WIB
Keraton Kasepuhan Cirebon. - Bisnis/Gloria Fransisca Katharina Lawi

Bisnis.com, JAKARTA -- Ada dua keraton di Cirebon yang menyimpan sejarah panjang agama Islam di wilayah ini, yaitu Keraton Kanoman dan Keraton Kasepuhan. Simak cerita sejarah di dua lokasi bersejarah ini.

1. Keraton Kasepuhan

Keraton ini didirikan oleh Pangeran Cakrabuana pada masa perkembangan Islam sekitar 1529. Pangeran Cakrabuana atau Pangeran Emas Zainul Arifin adalah putra Raja Pajajaran.

Awal pembangunan keraton ini merupakan bagian dari Keraton Pakungwati, yang terletak di sebelah Timur Keraton Kasepuhan. Keraton Pangkuwati adalah keraton yang berdiri pada 1430 di Kota Cirebon.

Pakungwati sendiri adalah sebutan Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Dia wafat pada 1452 bersamaan dengan pembangunan Tajug Pejlagrahan tepat di sebelah Timur posisi keraton. Sunan Gunung Jati pun memakai nama almahrum istrinya menjadi nama keraton.

Total luas lahan Keraton Kasepuhan adalag 25 hektar yang terdiri dari berbagai macam bangunan. Misalnya bangunan Siti Hinggil merupakan bangunan pertama atau bangunan paling terdepan saat pengunjung memasuki kawasan keraton.

Siti Hinggil yang berarti tanah yang tinggi atau lemah duwur dalam bahasa Cirebon. Siti Hinggil terbuat dari susunan bata merah dan memiliki gaya arsitektur Majapahit yang mengikuti perkembangan zaman pada saat itu.

Di dalam kompleks Siti Hinggil ada lima bangunan tanpa dinding, dengan bangunan utama bernama Malang Semirang. Bangunan ini memiliki enam tiang yang melambangkan rukun iman. Secara keseluruhan, bangunan ini memiliki tiang berjumlah dua puluh yang melambangkan sifat-sifat Tuhan.

Masuk  ke kompleks keraton, pengunjung meluhar gapura bergaya Majapahit. Kata Gapura diambil dari bahasa arab, yaitu Al Ghafur yang artinya maha pengampun. Pengunjung juga bisa menyaksikan kereta keraton dan benda-benda pusaka di gedung baru museum yang sudah juga menyimpan peninggalan bersejarah Sunan Gunung Jati.

2. Keraton Kanoman

Keraton Kanoman adalah salah satu tonggak sejarah kota Cirebon dan tonggak berkembangnya agama Islam di Cirebon dan Jawa Barat. Kalau Anda mengunjungi keraton ini jangan terkejut karena luas Keraton Kanoman sebesar 6 hektar.

Padahal lokasinya tersembunyi tepatnya dibelakang Pasar Kanoman. Sehingga anda harus melewati pasar untuk menemukan tempat bersejarah ini. Di keraton ini juga Anda akan menemukan peninggalan sejarah dan kisah mendalam dari si pemandu wisata yang sudah menunggu Anda di pintu masuk keraton.

Dalam pantauan Bisnis, desain arsitektur keraton ini memang terkesan mistik. Ada unsur tua yang terlihat dari dinding-dinding keraton yang mengelupas. Pemandu wisata menceritakan bahwa keraton ini merupakan pusat peradaban Kesultanan Cirebon. Namun karena ada perpecahan pada keluarga keraton, alhasil terpecahlah keraton menjadi Keraton Kasepuhan, Keraton Kecirebonan, dan Keraton Keprabon.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Bisnis, Keraton Kanoman didirikan pada 1510 Saka atau 1588 Masehi. 

Ada pun pendiri keraton ini adalah Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran Kertawijaya yang bergelar Sultan Anom I. Sultan Anom tercatat sebagai keturunan ketujuh dari Syarif Hidayatullah, atau Sunan Gunung Jati merupakan sunan yang menyebarkan agama Islam di Cirebon.

Keraton Kanoman pun menyimpan jejak Sunan Gunung Jati memulai menyebarkan agama Islam di wilayah ini. Sejumlah bangunan dan perabotan tersimpan di keraton ini adalah alat syiar Sunan Gunung Jati. Maklum saja, Sunan Gunung Jati memerintah di Kesultanan Cirebon pada 1479 – 1568. 

Kesultanan Kanoman didirikan atas keinginan Sultan Banten Ki Ageung Tirtayasa yang menobatkan dua orang pangeran dari Putra Panembahan Adining Kusuma dari Kerajaan Mataram untuk memerintah di dua kesultanan.

Keraton Kanoman sampat saat ini masih taat memegang adat-istiadat pepakem. Di antaranya melaksanakan tradisi Grebeg Syawal yaitu seminggu setelah Idul Fitri ziarah ke makam leluhur dan nakam Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Cirebon Utara.

Keramik di dinding-dinding Keraton Kanoman adalah keramik Tiongkok. Hal ini menjelaskan relasi Keraton di Cirebon dengan komunitas Tionghoa sudah terbina sejak lama.

Demikianlah perjalanan pada dua keraton menyusuri jejak agama Islam di Cirebon. Siapa tahu Anda tertarik untuk melakukan perjalanan wisata religi bersama keluarga sambil menikmati udara segar dan kuliner khas Cirebon. Selamat mencoba.

Tag : cirebon
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top