Nikmatnya Sajian Makanan Tradisional dan Suasana Desa di Kopi Klotok Yogyakarta

Mengunjungi Yogyakarta kurang pas rasanya jika tanpa mengunjungi Rumah Makan Kopi Klotok di Jalan Kaliurang KM 16, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Warung bernuansa tradisional ini menawarkan suasana pedesaan di bangunan lawas khas masyarakat Jawa masa lampau.
Rayful Mudassir | 03 Oktober 2018 09:27 WIB
"Malioboro Night Coffee Festival" - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Mengunjungi Yogyakarta kurang pas rasanya jika tanpa mengunjungi Rumah Makan Kopi Klotok di Jalan Kaliurang KM 16, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Warung bernuansa tradisional ini menawarkan suasana pedesaan di bangunan lawas khas masyarakat Jawa masa lampau.

Kopi Klotok dapat ditempuh sekitar satu jam dari Bandara Adisucipto, Yogyakarta. Jangan heran jika lokasi warung ini memang benar –benar berada di tengah-tengah desa. Jika sampai di sana, suasana khas terlihat dari bangunan rumah Jawa yang menghadap ke perkebunan jagung di depannya.

Tiba di lokasi, pengunjung tidak harus masuk dari pindu depan. Kopi Klotok memberikan makna filosofi lebih dengan membiarkan pengunjung memasuki bangunan dari pintu dapur. Saat masuk, pengunung dapat langsung mengantri makanan yang ada di bagian belakang bangunan.

“Kenapa tamu bisa langsung masuk dari dapur. Kami sengaja melakukan itu agar tamu masuk bisa langsung antri makan tidak harus masuk dari depan,” kata Nugroho Adi, Supervisor Kopi Klorok Yogyakarta belum lama ini.

Suasana rumah masyarakat Jawa kuno memberi nuansa berbeda bagi pengunjung. Jika biasanya melihat gedung dan rumah beton, Kopi Klotok memberikan gambaran lain. Pengunjung merasakan nuansa teduh dari dalam rumah tersebut. Belum lagi sajian makanan semakin memanjakan lidah.

Warung ini memberikan sajian makanan dan minuman terbaik di Yogyakarta. Penikmat makanan tradisional akan merasakan nostalgia saat menikmati kuliner di sana termasuk lodeh, kerupuk, telur dadar, sampai gorengan. Belum lagi kopi robusta dari Lampung menjadi sajian bahan untuk membuat kopi tersebut.

“Kami memang memasak setiap hari sayur lodeh terong, lodeh tempe ijo dan lodeh kluwih. Juga ada terong, ada juga pendampinya, sesuai jadwal yang selalu berganti,” katanya.

Dia mengatakan, para pengunjung bebas memilih makanan dan minuman yang disajikan. Para pramusaji Kopi Klotok juga tidak mencatat sayur dan lauk apa yang di ambil untuk disantap. Saat membayar di kasir, pengunjung cukup membayar makanan yang diingat saja.

“Kami hitung nasi dan sayur mau sebanyak apapun diambil dan berulangkali diambil, tetap bayar Rp11.500 untuk nasi sama sayur,” katanya.

Selama ini Kopi Klotok menjadi salah satu rumah makan utama di Yogyakarta. Bahkan di akhir pekan, pengunjung kebanyakan berasal dari kalangan komunitas, keluarga atau wisatawan yang menyukai makanan tradisional di tengah suasana kental desa.

Tag : kopi
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top