Piknik Tepi Sawah Gianyar Diminati Anak-anak

Kegiatan Piknik di Tepi Sawah menjadi salah satu acara di Festival Tepi Sawah di Kabupaten Gianyar yang diminati oleh wisatawan maupun anak-anak pengunjung yang datang.
Feri Kristianto | 09 September 2018 12:13 WIB
Salah satu pertunjukan pada hari pertama Festival Tepi Sawah di Gianyar. (Ferry Kristianto - Bisnis).

Bisnis.com, DENPASAR—Piknik di tepi sawah menjadi salah satu acara di Festival Tepi Sawah di Kabupaten Gianyar yang diminati oleh wisatawan maupun anak-anak pengunjung yang datang.

Piknik tepi sawah merupakan suguhan yang memadukan kegiatan santai di tengah taman sekitaran panggung utama dan di bawah pohon waru besar dengan kegiatan Solo Gitar oleh Renda, Sapek Dayak oleh Agus, dan   Littletalks Book Corner.

Dalam ajang ini anak-anak ini dilatih secara santai untuk menulis puisi, kemudian satu per satu dari anak-anak itu akan membacakan puisi yang ditulis mereka saat itu juga di depan teman-temannya yang lain.

“Workshop berjalan baik, saya sangat berharap bisa bermanfaat. Memang tidak mungkin segala ilmu vocal bisa tertuang hanya dalam waktu 45 menit, tetapi setidaknya ini adalah hal dasar yang bisa dilatih untuk para peserta workshop.” Ucap Trie Utami, salah satu pembicara workshop olah vocal Festival Tepi Sawah, Sabtu (8/9/2018).

Festival Tepi Sawah adalah gagasan dari tiga pelaku seni, Nita Artseen, Anom Darsana dan Etha Widiyanto ini akan melibatkan seniman berbagai cabang seni ini berlokasi di pinggiran desa. Ajang ini sekaligus integrasi elemen kreatif dengan edukasi dan implementasi tentang lingkungan berkesinambungan.

Festival ini menghadirkan karya musik dan seni yang menakjubkan. Keunikannya karena melibatkan komunitas dan maestro seni. Komunitas yang dilibatkan adalah Komunitas Rumah Berdaya, yang aktif menghapus stigma terhadap orang dengan Skizofrenia.

Adapun maestro seni yang ikut adalah Made Taro, pendongeng dan permainan tradisional anak-anak Bali. Selain itu, seniman yang ikut seperti Trie Utami, Gamelan Ceraken, Kids of Pegok.

Dalam festival ini juga akan berlangsung workshop dari berbagai cabang kesenian, food stall hingga pasar seni dari sejumlah komunitas.

Sejumlah kesenian seperti lagu dolanan Jawa, Daya Kaltim, Komposer Indonesia Timur hingga Art & Ritual from Nusantara. Pada hari pertama Festival Tepi Sawah, beberapa workshop yang bersifat edukatif dan digemari oleh anak-anak lokal Pejeng. Acara dimulai pukul 10.00 sampai senja hari hingga akhirnya pada pukul 19.00 pertunjukan malam dan opening ceremony dibuka oleh MC.

Festival yang berlatarkan sawah ini seolah dapat menimbulkan aroma asri ingatan kita akan masa lalu, yang mungkin sedikit menjadi cerminan masa sekarang, seperti kicauan burung yang bersahutan dalam rimbun dedaunan, dan celoteh anak-anak kecil.

Pada hari pertama digelar sejumlah workshop  seperti Sapek: Create to play dan bermain genggong. Kedua workshop ini sangat digemari oleh anak-anak kecil lokal pejeng yang sengaja datang untuk memeriahkan festival ini. Untuk kalangan yang lebih dewasa, tidak kalah seru: workshop olah suara bersama Trie Utami menjadi pilihan favorit kaum remaja dan dewasa.

Beberapa line up tampil menarik di atas panggung di antaranya Gamelan Ceraken, Genggong kutus, Nuswantoro Trio, Lagu dan Lenong Betawi, Trie Utami dengan lantunan lagu-lagu pertamanya, dan garapan yang paling terakhir di mana berbagai artist berkolaborasi di dalamnya untuk mengenang Almarhum Chrisye dalam Tribute to Chrisye.

Penampilan kolaborasi Trie Utami, Dian Pratiwi, Matthew Sayersz, Nita Aartsen dan Fascinating Rhythm secara jamming membuat penonton juga bersenandung dari tempat duduknya. Masih dengan latar sawah, boleh dikata, ajang ini seperti lagu-lagu panen yang dinyanyikan para petani ketika menyaksikan pada berkuningan. 

Tag : bali
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top