Polah Tingkah Ah Meng & Si Centil Canola

Sekitar pukul 09.00 pagi ratusan orang memadati salah satu restoran di Singapore Zoo untuk sarapan. Di Ah Meng Bistro mereka tampak sudah siap berada di meja, sedangkan sebagian lainnya masih sibuk memilih menu.
Bambang Supriyanto | 23 Agustus 2018 13:50 WIB
Aksi sekelompok Orang Utan di Singapore Zoo - Jibi/bambang supriyanto

Sekitar pukul 09.00 pagi ratusan orang memadati salah satu restoran di Singapore Zoo untuk sarapan. Di Ah Meng Bistro mereka tampak sudah siap berada di meja, sedangkan sebagian lainnya masih sibuk memilih menu.

Restoran tersebut menyediakan beragam jenis makanan untuk sekadar breakfast. Ada menu untuk orang Eropa dan menu bagi orang Asia.

Sarapan bersama orang utan menjadi salah satu daya tarik unik untuk menggaet turis asing berkunjung ke Singapura. Mereka juga tampak menunggu kehadiran orang utan yang masih berada di atas pohon.

Bersama dengan rekan dari tiga media lain, Bisnis mendapatkan kesempatan untuk menikmati suasana breakfast di Ah Meng Bistro atas undangan dari Wildlife Reserves Singapore (WRS), pengelola Singapore Zoo, pada 5-8 Agustus.

Singapura seakan tiada habis ide untuk mempromosikan potensi wisata kepada turis asing. Negeri Kota yang berada di Selat Malaka ini selama ini dikenal mumpuni untuk mengemas promosi objek handmade unggulan kepada wisatawan mancanegara.

Salah satu yang dipromosikan adalah objek wisata kategori ‘zaman old’, yakni Singapore Zoo, Night Safari, dan Jurong Bird Park tetapi selalu di update agar tetap diminati pengunjung asing.

Sebelum mengeksplorasi beraneka satwa di Singapore Zoo, pengunjung ditawari sarapan di Ah Meng Bistro. Ide kreatif karena memang semua orang tidak perlu repot mencari sarapan di sekitar kebun binatang tersebut.

Pengunjung harus membayar 35 dolar Singapura, sekitar Rp350.000 per orang untuk merasakan sensasi sarapan bareng orang utan. Nikmati makanan sepuasnya tetapi dibatasi waktu, yakni dari pukul 09.00 hingga pukul 10.30 alias sekitar 1 jam 30 menit saja.

Salah satu syarat yang tidak boleh dilakukan pengunjung adalah tidak boleh memberikan makan kepada orang utan.

Satu per satu orang utan pun turun mendekat ke restoran Ah Meng untuk menyapa para pengunjung. Ada lima ekor orang utan yang mendekat, termasuk seekor betina yang menggendong bayi yang diberi nama Zakhira beruusia 4 bulan.

Ada juga seekor orang utan yang bernama Ah Meng. Dia adalah Ah Meng generasi kedua, sedangkan generasi pertama alias Ah Meng telah meninggal yang merupakan orang utan dari Sumatra. Dia adalah cikal bakal dari puluhan orang utan yang tinggal di Singapore Zoo yang hidup pada 1980 an .

Meskipun ramai dan padat tetapi para pengunjung tertib antre untuk foto bareng orang utan. Petugas sudah menyediakan makanan berupa jagung, tebu, dan kuaci.

Ah Meng dan kawan-kawan terlihat cuek dan kelihatan sudah terbiasa sarapan bersama dengan primata lainnya, yakni para pengunjung Ah Meng Bistro. Sesekali mereka terlihat beraksi dan sedikit acting saat diajak foto bareng oleh manusia.

Menyuapi Manati

Setelah makan siang, objek berikutnya yang menarik banyak pengunjung adalah River Safari. Sebuah objek yang baru diperkenalkan pada 2014. Wahana rekreasi ini menawarkan petualangan air sambil menikmati aneka satwa koleksi dari River Safari.

Pengunjung bisa menikmati ikan dan satwa terkait dengan air dan satwa yang hidup di cuaca dingin, seperti Panda. Sejumlah ikan langka dan cat fish dari Sungai Mekong yang legendaris juga bisa dinikmati di wahana River Safari.

Pengunjung pun bisa menikmati sejumlah binatang dengan naik kapal kecil mengelilingi wahana, seperti kera laba-laba alias spider monkey, burung flamengo, tapir, dan harimau.

Salah satu sesi yang menarik adalah bercanda dengan satwa air berukuran besar, Manati. Satwa ini satu keluarga dengan Dugong. Manati sekilas mirip dengan Dugong. Akan tetapi, jika dicermati ada perbedaan mencolok, seperti moncong dan sirip. Moncong Manati berada di depan, sedangkan Dugong di bawah. Sirip Manati juga relatif lebih besar.

Lucu dan menggemaskan tingkah mereka, terutama pada saat diberi makan. Mereka sangat lahap makan aneka dedaunan dan sayuran.

Paling tidak, pengelola memberikan makanan 200 kg untuk 12 ekor Manati per hari. Makanan yang disediakan berupa kol, kacang panjang, dan wortel. Mereka juga mendapatkan asupan berupa daun pisang.

Kami harus mengenakan baju khusus anti air serta sepatu booths karet sebelum masuk ke tepi kolam. Dua petugas, yakni Joan dan Dona menemani dalam sesi feeding tersebut. Kendati simpel tetapi tidak boleh sembarangan dalam memberikan makanan. Ada trik tersendiri. Paling tidak, pengunjung harus kenalan dahulu.

Dengan beberapa tepukan di atas air, beberapa ekor Manati pun mendekat seakan mereka siap untuk disuapi. Sambil disuapi Manati suka dielus di bagian kepala. Agak ragu awalnya mengeluas satwa dari lautan Hindia Barat itu karena ukurannya yang besar. Ada seekor Manati yang berbobot 1.200 kg dengan panjang 4 meter.

Ada informasi unik dari Joan, yakni membedakan jenis kelamin betina dan jantan. Sekilas sangat susah menebak jenis kelamin mereka. Sama-sama punya lubang tiga di bagian bawah tetapi ada dua lubang berdekatan di dekat bagian kloaka betina. Sebaliknya, untuk jantan dua lubang berdekatan berada di bagian pusar.

Hari itu ada seekor Manati yang berulang tahun ke-4, yakni si Canola yang kelihatan senang dan sedikit centil saat dinyanyikan lagu ulang tahun. Manati berbobot 300 kg ini pun kelihatan nyaman berlama-lama dengan pengunjung yang menyuapinya. Manati, hewan mamalia tersebut memang dikenal sangat dekat dengan manusia.

Tag : singapura
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top