Menikmati Legitnya "Memek" Khas Simeulue

Memek bisa saja berkonotasi negatif bagi sebagian daerah. Akan tetapi kata itu menjadi salah satu nama makanan khas di Kabupaten Simelue, Aceh.
Rayful Mudassir | 12 Agustus 2018 06:09 WIB
Bubur "Memek" Simeulue

Bisnis.com, JAKARTA – “Memek” bisa saja berkonotasi negatif bagi sebagian daerah. Akan tetapi kata itu menjadi salah satu nama makanan khas di Kabupaten Simelue, Aceh.

Memek Simeulue merupakan makanan seperti bubur dari campuran beras dan pisang. Penganan ini biasanya terbuat dari beras ketan gongseng, pisang, santan yang telah dipanaskan, gula serta garam.

Proses pembuatannya butuh waktu sekitar satu jam, setelah matang, memek dapat disantap. Makanan khas ini dapat ditemukan di arena festival kuliner Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7. Gelaran akbar ini berlansung di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh 5 – 15 Agustus 2018.  

Makanan memek dijual di stand Kabupaten Simeuleu. Di sana, memek dimasukkan ke dalam gelas plastik dan dijual seharga Rp5.000/porsi. Makanan ini disediakan dari siang hari selama even tersebut.

Seorang penjaga stand Simeulue Almawati mengatakan, sejak hari pertama banyak pengunjung yang datang mencari makanan memek di stand milik daerahnya. Bahkan, ada beberapa pengunjung PKA yang membeli memek untuk dibawa ke Jakarta.

"Banyak yang cari memek ini bahkan sudah sampai ke Jakarta. Mereka rata-rata penasaran dengan makanan khas Simeulue ini," kata Almawati melalui rilis yang diterima Bisnis, Sabtu (11/8/2018).

Menurutnya, nama memek berasal dari kata mamemek yang berarti mengunyah-ngunyah atau menggigit. Namun saat ini masyarakat di Simeulue lebih populer menyebutnya sebagai memek.

"Jadi ini namanya memek. Gak boleh diganti karena dari nenek moyang kami namanya yaitu memek," jelas Almawati.

Selama ini, memek memang tidak setiap saat dapat dijumpai di pulau Simeulue. Makanan ini biasanya disajikan untuk menu berbuka saat bulan Ramadan. Pada bulan itu, hampir semua masyarakat membuat memek untuk disantap ketika berbuka.

"Tapi kalau hari-hari biasa jika dipesan juga ada. Karena ini bahannya santan jadi tidak tahan lama. Kami tidak pakai pengawet sehingga tidak ada efek samping saat dimakan," ujarnya.

Kepala Bidang Sejarah dan Nilai Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Irmayani mengatakan, Aceh sangat kaya dengan berbagai macam kuliner khasnya. Dari 23 kabupaten/kota di Aceh masing-masing memiliki makanan khas tersendiri.

Seluruh jenis makanan dan kuliner khas provinsi itu, tersedia selama PKA-7. Salah satu agenda yakni festival kuliner.“Ini semua tujuannya agar kuliner khas tersebut terus dipertahankan. Jangan sampai tergerus zaman,” kata Irmayani.

Tag : kuliner
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top