Generasi Millenial Inginkan Hal Ini Dalam Perjalanan Wisata

Kehadiran kelompok yang mewakili 45% populasi di Asia Pasifik ini tidak bisa diabaikan.
Dewi Andriani | 04 Agustus 2018 18:03 WIB
Generasi milenial - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Besarnya jumlah populasi generasi millennial harus menjadi peluang yang ditangkap sejumlah penyedia layanan wisata. Kehadiran kelompok yang mewakili 45% populasi di Asia Pasifik ini tidak bisa diabaikan.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Amadeus dalam laporan Journey of Me Insights: What Asia Pacific Millennial Travelers Want terhadap 6.870 responden di 14 negara Asia Pasifik ditemukan beberapa hal menarik dari para generasi millennial.

Dikatakan bahwa generasi millennial lebih banyak merangkul teknologi, pengalaman dan cara perjalanan baru dalam melakukan  perjalanan wisata.

Sebanyak 42% millennial mengatakan mereka biasanya menggunakan aplikasi ride-sharing ketika melakukan perjalanan, dan 35% sering menggunakan layanan sharing economy untuk akomodasi.

“Menargetkan keinginan millennial untuk pengalaman-pengalaman baru merupakan peluang emas untuk penyedia perjalanan,” tulis riset tersebut dalam rilis yang diterima Bisnis, Sabtu (4/8/2018).

Riset ini menemukan bahwa setelah rekomendasi untuk membantu menghemat biaya (42%), millennial di Indonesia paling tertarik dengan rekomendasi yang bisa membuat perjalanan mereka lebih nyaman (35%), diikuti oleh rekomendasi yang dapat memberikan pengalaman baru bagi mereka (30%).

Mereka juga terbuka bagi penyedia perjalanan untuk mengirimkan rekomendasi-rekomendasi tersebut atau informasi lewat platform-platform alternatif.

Ketika 31% millennial Asia Pasifik memilih menerima informasi lewat email, hanya 19% di Indonesia yang memilihnya.

Sebaliknya, mayoritas millennial Indonesia memilih dihubungi lewat media sosial (34%), lebih tinggi secara signifikan dibandingkan rata-rata Asia Pasifik (23%).

Andy Yeow, General Manager Amadeus Indonesia mengatakan bahwa generasi millennial tumbuh dengan internet dan teknologi  sehingga mereka memiliki keterbukaan terhadap pengalaman-pengalaman baru dan ingin mendobrak status quo.

Mereka menginginkan pengalaman berbeda ketika melakukan perjalanan, karenanya industri harus memberikan pelayanan yang berbeda.

Penyedia perjalanan perlu mengadopsi teknologi baru, strategi baru, dan, terutama, cara berpikir baru jika ingin menangkap pikiran dan pangsa pasar millennial.

“Dengan mengerti apa yang mendorong millennial Asia Pasifik dan apa yang mereka hargai ketika melakukan perjalanan, dunia usaha akan lebih siap memenuhi kebutuhan generasi ini,” ujar Yeow.

Lantas seberapa pentingnya influencer dalam mempengaruhi pengalaman wisata generasi millennial? Sebagian besar millennial Indonesia menjawab keluarga dan teman, diikuti oleh situs-situs booking online atau perjalanan, dan kanal-kanal media sosial memiliki pengaruh paling besar dalam merencanakan perjalanan.

“Meskipun millennial mungkin masih mengacu pada influencer untuk tren, ide dan inspirasi, saya percaya mereka juga menjadi semakin pintar dalam mengevaluasi influencer. Dengan semakin banyak influencer yang menjadi merek bagi diri sendiri, daya tarik mereka akan menjadi pudar. ‘sesuatu yang nyata’ lebih penting dari ‘sempurna’, dan itu merupakan pelajaran yang penting untuk dipelajari oleh industri,” imbuh Yeow.

Millennial memiliki reputasi sebagai pemberani. Riset ini membuktikan hal tersebut benar adanya untuk beberapa bagian, namun tidak semuanya.

Dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya, millennial memiliki kecenderungan kecil untuk menghindari destinasi yang menjadi tempat serangan teror, politis atau demonstrasi sosial, atau destinasi yang mungkin akan terkena bencana alam seperti gempa bumi.

Sementara 59% generasi baby boomer akan menghindari destinasi yang mungkin akan terkena bencana alam, hanya 51% millennial yang berpendapat sama.

Namun, riset ini juga menemukan bahwa millennial lebih tertutup dibandingkan wisatawan yang lebih tua dalam hal berbagi informasi pribadi dengan penyedia perjalanan, sebagai imbalan untuk penawaran yang relevan atau layanan khusus.

Sebanyak 68% baby boomer dan 66% generasi X mengatakan mereka terbuka untuk berbagi informasi, sementara hanya 62% millennial Asia Pasifik berpendapat sama.

Riset ini juga menemukan bahwa millennial Taiwan (76%) dan Indonesia (75%) adalah yang paling terbuka, sementara Jepang (33%) dan Selandia Baru (45%) adalah yang paling tertutup.

Kewaspadaan ini mungkin karena millennial merupakan generasi nativ digital yang paham teknologi, sehingga lebih waspada terhadap masalah keamanan dan privasi.

“Meskipun riset ini menyoroti berbagai perilaku dan prefensi unik wisatawan millennial Asia Pasifik, penting juga untuk menunjukan bahwa terdapat banyak kemiripan antara millennial dan generasi-generasi sebelumnya. Personalisasi menjadi semakin penting, menjadi sesuatu yang nyata adalah kunci, dan wisatawan ingin terhubung dengan konten yang tepat, melalui kanal yang tepat, dan di waktu yang tepat. Yang pasti adalah industri perjalanan hanya bisa berhasil jika kita menempatkan wisatawan sebagai pusat dari semua hal yang kita lakukan,” tuturnya.

Tag : wisata
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top