Patung GWK Rampung, Nuarta Syukuran ‘Swadharma Ning Pertiwi’ 

Pembangunan Patung Garuda Wisnu Kencana atau GWK mahakarya maestro Nyoman Nuarta telah rampung ditandai dengan pergelaran seni ‘Swadharma Ning Pertiwi’, Sabtu (4/8/2018) malam ini.
Ema Sukarelawanto | 04 Agustus 2018 12:21 WIB
Pemrakarsa Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) Nyoman Nuarta berfoto dengan latar belakang Patung GWK di Ungasan, Badung, Bali, Selasa (31/7/2018). - ANTARA/Fikri Yusuf

Bisnis.com, DENPASAR—Pembangunan Patung Garuda Wisnu Kencana atau GWK mahakarya maestro Nyoman Nuarta telah rampung ditandai dengan pergelaran seni ‘Swadharma Ning Pertiwi’, Sabtu (4/8/2018) malam ini.

Seniman Nyoman Nuarta  mengatakan GWK akan menjadi bukti bahwa kita berdaulat di bidang kebudayaan dan diharapkan menjadi kiblat kebudayaan dunia. 

“Saya berharap World Cultgure Forum yang telah dua kali digelar di Bali bisa berkantor pusat di sini [Garuda Wisnu Kencana Cultural Park],” katanya belum lama ini.

Menurut rencana Patung GWK akan diresmikan Presiden Joko Widodo yang bakal menjadi kado HUT Ke-73 Kemerdekaan RI. Kata Nuarta kapa waktu peresmiannya menunggu jadwal presiden.

Kawasan ini akan menjadi lokasi gala diner Pertemuan Tahunan IMF dan World Bank pada bulan Oktober yang diikuti belasan ribu delegasi dari 189 negara. Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim bersama Menko Perekonomian Luhut Binsar Panjaitan awal Juli lalu telah meninjau lokasi ini dan menyampaikan kekagumannya.

GWK digagas pada 1989 diproyeksikan menjadi landmark pariwisata dan ikon baru Pulau Bali. Pada 1990 ide itu dilanjutkan dengan pengembangan konsep bersama Dirjen Pariwisata Joop Ave (alm), Gubernur Bali Ida Bagus Oka (alm), dan Menteri Pertambangan dan Energi Ida Bagus Sudjana (alm).

Lokasi yang digunakan adalah perbukitan kapur di Ungasan, yang selama ini tidak produktif. Lahan ini merupakan bekas lokasi penambangan kapur liar yang sudah ditinggalkan dalam keadaan yang kurang baik dan tidak ada tanaman yang mampu hidup dikarenakan oleh minimnya top soil. 

Setelah mendapat restu Presiden Soeharto (1993) dilakukan sosialisasi di depan anggota dan pimpinan DPRD Bali, tokoh masyarakat, diliput oleh media, serta masyarakat di sekitar lokasi GWK. Awalanya menuai pro dan kontra, tetapi ground breaking pedestal GWK dilakukan pada 1997. Sebelumnya, Nuarta mengolah kawasan tersebut dengan memotong bukit sehingga menjadi landmark seperti sekarang.

Pembangunan selanjutnya mengalami pasang surut. Puncaknya ketika pemerintah menghentikan pendanaan yang telah disepakati. Padahal, Nuarta pernah rela mewakafkan 82% kepemilikan di GWK kepada pemerintah, tetapi tak ada Presiden SBY ketika itu. Lantas, Gubernur Bali Made Mangku Pastika berinisiatif agar pemprov mengambil alih, ternyata tidak mendapat persetujuan anggota DPRD Bali. 

Nuarta akhirnya melepas saham tersebut kepada PT Alam Sutra Realty Tbk. Kini ia hanya sebagai seniman yang berkewajiban menyelesaikan GWK seperti 28 tahun sebelumnya di bawah naungan PT Siluet Nyoman Nuarta. 

Patung GWK secara utuh memiliki 24 segmen yang terdiri dari 754 modul kulit patung berukuran sekitar 3 x 4 meter dengan berat berkisar 800 kg hingga 1 ton bermaterikan tembaga dan kuningan dengan rangka baja. Berat total struktur patung mencapai 3.000 ton. Permukaan kulit patung ini jika dibentangkan seluas 2,5 hektare. 

Proses pembuatan modul dilakukan di Studio Nyoman Nuarta di Bandung dan dibawa ke Bali bersama 200 pekerja yang akan merakit dan memasang patung ini.

GWK dan penyangganya kelak memiliki tinggi 121 meter dari permukaan tanah atau 271 meter di atas permukaan laut. Ini akan menjadi patung tembaga dengan teknik cor las terbesar di dunia. Teknik cor las ini menandai pertama kalinya patung sebesar GWK dikontruksi dengan pengelasan modul demi modul. 

Nuarta menemukan teknik rekayasa yang menggabungkan seni, kecerdasan buatan, dan teknologi untuk menjamin perbesaran patung sesuai model yang dirancang. Teknik pembesaran patung Nuarta ini menggunakan rumus: jika sebuah bentuk bebas (anorganis) diiris horizontal dan vertikal dengan jarak tetap, kemudian garis-garis luar (outline) diperbesar berdasarkan skala, kemudian disusun kembali sesuai koordinat yang tetap, maka akan terbentuk pembesaran menyeluruh sesuai skala yang dikehendaki. 

Proses pembesaran skala patung yang dilakukan dengan teknik las cor Nuarta ini telah dipatenkan pada 1980-an dan pertama kali diterapkan untuk patung Jalesveva Jayamahe setinggi 60 meter di Surabaya. “Dengan teknik ini seberapapun besarnya patung bisa kita buat,” kata Nuarta.

Untuk meyakinkan kekuatan struktur patung ini, Nuarta melakukan sejumlah tes di antaranya uji gempa hingga 8 skala Richter dan uji angin di Toronto, Kanada. Kata dia patung akan hancur jika dihantam angin dengan kekuatan 250 km/jam. Berdasarkan catatan BMKG Bali kecepatan angin tertinggi di Bukit Ungasan hanya 70 km/jam. Selain itu juga dilakukan tes hujan dan petir serta memperhitungkan faktor kelelahan logam.

Nuarta sangat berhati-hati untuk pengerjaan patung, termasuk pelaksana proyek ini harus memiliki ISO. Selain berkaitan dengan kualitas, juga memudahkan ketika pemilik mengasuransikan properti ini.

 “Langkah-langkah ini merupakan tanggung jawab moral dan profesional, karena nama saya melekat di sana sebagai Nyoman GWK, saya mengerjakannya sejak berambut gondrong hingga botak ha-ha-ha,” kata seniman yang juga kerap disapa Nyoman GWK ini. 

Tag : bali
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top