Kolaborasi Seniman Jepang-Indonesia Ditampilkan di Ubud Bali

Tiga perupa Jepang Kazunobu Yanagi, Yasu Suzuka, dan Minako Hiromi bersama seniman Indonesia Trie Utami akan berkolaborasi dalam pembukaan pameran bertajuk ‘Teratai Salju’ di Mandala Bidadari, Ubud, Gianyar, Sabtu (4/8/2018) malam ini.
Ema Sukarelawanto | 04 Agustus 2018 08:31 WIB
Tiga perupa Jepang Kazunobu Yanagi, Yasu Suzuka, dan Minako Hiromi bersama seniman Indonesia Trie Utami akan berkolaborasi dalam pembukaan pameran bertajuk Teratai Salju di Mandala Bidadari, Ubud, Gianyar, Sabtu (4/8 - 2018) malam ini.

Bisnis.com, DENPASAR—Tiga perupa Jepang Kazunobu Yanagi, Yasu Suzuka, dan Minako Hiromi bersama seniman Indonesia Trie Utami akan berkolaborasi dalam pembukaan pameran bertajuk ‘Teratai Salju’ di Mandala Bidadari, Ubud, Gianyar, Sabtu (4/8/2018) malam ini.

Ketiga perupa asal Jepang akan memamerkan karya di Mandala Bidadari 4-25 Agustus 2018. Seniman Kazunobu Yanagi menampilkan instalasi lukisan, sedangkan Yasu Suzuka dan Minako Hiromi memamerkan karya seni rupa. Dalam pembukaan pameran ini Trie Utami merespons karya rupa tersebut dengan musik dan pertunjukan seni. 

Pemilik Mandala Bidadari Hiromi Wada mengatakan perhelatan ini digelar untuk ikut merayakan 60 tahun hubungan diplomatik Jepang dan Indonesia.

“Melalui kegiatan ini saya berharap memberikan dharma kebaikan, keteduhan, kedamaian dan untuk keakraban dua bangsa, Jepang-Indonesia, yang telah lama memiliki hubungan emosional maupun budaya dan spiritual,” katanya, Jumat (4/8/2018) malam.

Selain kolabirasi keempat seniman, dalam prosesi pembukaan juga menghadirkan sejumlah pendeta Buddha dan Hindu yang akan memanjatkan mantra dan doa agar segala energi baik yang membawa kedamaian di muka bumi ini datang. 

Hiromi Wada yang juga penggagas pameran ini mengatakan Teratai Salju diharapkan mampu menghadirkan semangat Asia seperti terkandung dalam makna filosofi Teratai Salju yang berkaitan dengan pembersihan jiwa. Teratai Salju diyakini tumbuh dan mekar di air suci atau air surgawi.

Melalui karya seniman Jepang dalam pameran ini diharapkan pula membuka berbagai kemungkinan landasan kajian yang bukan sekadar wacana kesenian. “Lebih dari itu barangkali peristiwa kesenian ini menjadi semacam respons dari tingkat kesadaran yang tinggi dalam dialog budaya anatara Jepang dan Indonesia,” kata Hiromi Wada.

Karya-karya seniman Jepang yang meletakkan mandala sebagai pusat perhatian, seperti meditasi sangat mengemuka dalam lingkaran dengan simbol-simbol yang melekat. Hadirnya citra Borobudur dan stupa Buddha dalam pameran ini menjadi identitas bahwa dari peradaban sejarah yang menunjukkan akar kedekatan konsep “mandala” dalam Hindu dan Buddha baik di Indonesia dan Jepang. 

Kazunobu Yanagi pada pembukaan pameran membuat performing art yang mengupas hubungan manusia dalam perjalanan kehidupan melalui simbol-simbol dalam bentuk lingkaran, bidang yang kesemuanya diinstall di atas tanah. 

Lebih lanjut, pameran Teratai Salju menjadikan kesadaran seorang seniman akan posisinya secara sosial maupun spiritual dan mempraktikkannya sebagai gerakan kebudayaan.

Tag : bali
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top