Pengembangan 100 Destinasi Digital & 4 Nomadik Tourism Dipercepat

Untuk nomadic tourism tahun ini kami prioritaskan ada 4 destinasi yakni Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika dan Borobudur.
Yanita Petriella | 03 Agustus 2018 20:39 WIB
Wisatawan menikmati suasana senja di Pantai Laendra, Desa Kemujan, Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, Minggu (22/7/2018). Pantai berpasir putih yang dikelola oleh warga lokal keturunan Suku Bugis di kepulauan wisata bahari Karimunjawa berlokasi 22 kilometer ke arah utara dari pusat alun-alun Karimunjawa tersebut menjadi destinasi baru wisatawan untuk menikmati pemandangan matahari tenggelam. - Antara/Aji Styawan

Bisnis.com, BANDUNG - Kementerian Pariwisata mempercepat pembangunan 100 destinasi wisata digital dan 4 destinasi wisata nomadik pada tahun ini.

Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata Guntur Sakti mengatakan destinasi wisata digital dan wisata nomadic ini diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara terlebih pada 2019 ditargetkan dapat mencapai 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). 

"Untuk nomadic tourism tahun ini kami prioritaskan ada 4 destinasi yakni Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika dan Borobudur," ujarnya, Kamis (2/8) malam.

Nomadic Tourism merupakan destinasi wisata glamp camp, home pod, dan caravan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan khususnya pelancong asing yang menginginkan pilihan selain menginap di hotel berbintang. Kemenpar, lanjut Guntur, membuka pintu lebar investasi bagi para pelaku usaha yang ingin membuat nomadic tourism. 

"Kami permudah regulasinya. Saat ini fasilitas glamping mulai dikembangkan di sejumlah destinasi unggulan di Tanah Air seperti Bali, Lombok, Belitung, dan Jabar. Salah satunya di Kabupaten Bandung. Memang untuk nomadic tourism ini banyak dibuat oleh korporasi. Namun pemerintah juga membuat homestay bersama masyarakat," tuturnya.

Nomadic toursim ini merupakan sebuah terbosan dala memenuhi tuntutan pasar atau permintaan wisatawan serta untuk mengatasi keterbatasan tersedianya amenitas sebagai unsur penting dari 3A (Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas) di daerah tujuan wisata yang mengandalkan unsur budaya, alam, dan buatan manusia.

Menurutnya, nomadic tourism memiliki prospek bisnis yang cerah dan memiliki pasar yang besar di mancanegara. Pasalnya, memiliki value ekonomi tinggi dan treatmentnya juga relatif mudah sehingga menarik para pelaku industri pariwisata untuk mengembangkan bisnis ini terutama untuk aksesibilitas dan amenitasnya karena konsep ini cepat memberikan keuntungan komersial

Menurut data jumlah backpacker atau wisatawan kelana di seluruh dunia mencapai 39,7 juta terbagi dalam tiga kelompok besar.

Ketiga kelompok besar tersebut yakni flashpacker atau digital nomad sekitar 5 juta orang yang menetap sementara di suatu destinasi sembari bekerja, glampacker atau milenial nomad sekitar 27 juta orang dengan mengembara di berbagai destinasi dunia yang instagramable  dan luxpacker atau luxurious nomad sebanyak 7,7 juta orang lebih suka mengembara untuk melupakan hiruk-pikuk aktivitas dunia.

"Para luxpacker ini lebih menyukai fasilitas amenitas glamping di kawasan wisata alam seperti danau, pegunungan, pantai, atau sungai," ucap Guntur.

Perwakilan Manajeman Glamping Lakeside Rancabali, Ciwidey, Bandung Selatan Lutfi Naufal menuturkan sepanjang tahun ini tingkat hunian kamar glamping  telah mencapai sebesar 75%, sedangkan untuk kunjungan wisata alam di area glamping telah mencapai sekitar 700.000 orang sepanjang tahun ini.

"Karena destinasi ini sangat instagramable jadi banyak yang berkunjung. Terlebih yang kami tawarkan di sini ada konsep kapal pinisi di pinggir danau sehingga menghilangkan kerinduan masyarakat Bandung akan wisata laut," katanya. 

Ke depan, pihaknya akan membuka wisata baru yakni penginapan dengan fasilitas lengkap di tengah alam bebas yang sangat disukai oleh wisman dan wisnus.

"Banyak wisata di Bandung Selatan ini yang belum tersentuh seperti rafting dan air terjun. Kami ingin agar banyak yang datang ke wilayah Bandung Selatan ini," ujar Lutfi.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Agus Firman Zaeni mengungkapkan total kunjungan wisman dan wisnus ke wilayah kabupaten Bandung sepanjag tahun lalu telah mencapai 2,6 juta wisatawan atau melebihi target kunjungan tahun 2017 yang sebanyak 2,25 juta. 

Hingga kini, kunjungan wisman dan wisnus ke wilayah kabupaten Bandung telah mencapai 2,5 juta dari target tahun ini yang sebanyak 2,3 juta.

"Wisman baru dikit. Untuk wisman baru sedikit hanya 1.000 saja dari total kunjungan tahun lalu sebanyak 2,6 juta. Memang orang jarang ke Bandung Selatan karena jauh. Mereka ke Lembang sambil pulang ke Jakarta lewati Subang," tuturnya.

Kendati demikian, ruas Tol Soreang-Pasir Koja (Soroja) yang telah beroperasi meningkatkan 20% kunjungan wisatawan ke Kabupaten Bandung, khususnya wilayah selatan.

"Signifikansi (kenaikan wisatawan) 20%, padahal belum sampai setahun. Jadi memang saat ini problem lain, macet. Macet tetap terjadi karena semakin banyak orang datang, sedang akses ke sini masih kecil," katanya. 

Tag : pariwisata
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top