Lemonilo Kenalkan Jaringan Kafe dengan Menu Sehat

Perusahaan pangan berbasis teknologi, Lemonilo, mendorong afiliasi gerakan kafe dan ropang (roti panggang) sehat dengan menggandeng pengusaha kuliner Jakarta.
Anggara Pernando | 29 Juli 2018 02:00 WIB
Produk makanan sehat Lemonilo. - Lemonilo.com

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan pangan berbasis teknologi, Lemonilo, mendorong afiliasi gerakan kafe dan ropang (roti panggang) sehat dengan menggandeng pengusaha kuliner Jakarta.

Shinta Nurfauzia, CEO Lemonilo, menuturkan gerakan ini mendorong masyarakat agar selalu menjaga kesehatan tubuh mereka dengan memilih menu yang lebih sehat dan terjangkau. Dalam gerakan ini puluhan pengusaha kuliner berpartisipasi dengan menyediakan menu sehat dan bebas pengawet.

"Gerakan ini diikuti What’s Up Cafe, Department of Juicetice, Warung Overtaste, Farmer’s Bowl, Roti Eneng, Kolary Coffee, dan Medifit. Lemonilo juga membuka kesempatan bagi pelaku bisnis kuliner lain bergabung dalam gerakan ini," kata Shinta dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Sabtu (28/7/2018).

Dalam gerakan ini, Lemonilo mendorong para produsen kuliner untuk membuat pilihan menu yang lebih sehat di tempat-tempat yang sebelumnya tidak menawarkan menu sehat. Dengan pola ini diyakini bisa membantu masyarakat Indonesia untuk memulai pola hidup yang lebih sehat secepatnya.

Lebih lanjut, Shinta menjelaskan bisnis kuliner sangat menjanjikan di Jakarta. Dalam riset Jakarta Dining Index oleh Qraved tercatat penduduk Jakarta setiap tahunnya mengunjungi restoran hingga 380 juta kali. Dari jumlah kunjungan yang masif ini mereka merogoh kocek hingga Rp21,4 triliun.

"Di sisi lain, gaya hidup sehat juga tengah marak di Indonesia. Sayangnya, jumlah restoran yang menawarkan menu makanan sehat selain masih sangat terbatas, harganya pun terkadang tidak pas untuk kantong. Seakan-akan bisnis kuliner di Indonesia memfokuskan diri dalam menawarkan gaya hidup yang tidak sehat melalui junk food," katanya.

Kementerian Kesehatan melaporkan pada 2016, penduduk Jakarta menempati posisi pertama untuk angka obesitas dengan persentase sekitar 39.7 persen (data Renstra Kemenkes 2015 – 2019).

Persentase ini 2,5 kali lebih besar daripada persentase tingkat obesitas terendah yaitu Nusa Tenggara Timur yang hanya 15,2 persen.

Mahesa Paranadipa, Ketua bidang Organisasi dan Sistem Informasi Kelembagaan PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), mengatakan hal itu disebabkan kebiasaan dan pola makan orang Jakarta yang hobi mengonsumsi makanan tidak sehat (junk food), stres, serta kurangnya aktivitas fisik.

Tag : kuliner
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top