LAPORAN DARI JEPANG (1) : Inspirasi dari Gunung Fuji

Lagu Fujiyama bisa jadi menjadi penanda hubungan Indonesia-Jepang pada masa awal yang penuh gairah. Namun, hubungan selalu ada dinamika di setiap zamannya. Tidak seperti gunung yang diam mirip orang merenung, hubungan kemitraan itu bergerak seperti ombak. Dan tentu, ada masa pasang, ada periode surut.
Fatkhul Maskur | 27 Juli 2018 22:00 WIB
Gunung Fuji tampak dari kawasan wisata Oshino Hakkai, Jumat (27/7/2018). - Bisnis.com/Fatkhul Maskur

Hubungan diplomatik Indonesia-Jepang telah berlangsung selama 6 dasawarsa. Tahun ini, persahabatan kedua negara diperingati dengan berbagai kegiatan, termasuk Festival Indonesia yang akan digelar di Hibiya Park, Tokyo, 28—29 Juli 2018. Dalam rangka peringatan 60 tahun hubungan Indonesia–Jepang, saya dan beberapa jurnalis dari Indonesia berkunjung ke Tokyo atas undangan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia—pabrikan mobil yang 95% sahamnya dimiliki oleh Toyota Motor Corporation (TMC). Sebelum acara Festival Indonesia digelar, kami berkesempatan mengunjungi sejumlah objek wisata dan tempat menarik yang ada di Negeri Sakura. 

 Berikut ini laporannya.

***

Setelah terbang dari Jakarta ke Tokyo lebih dari 9 jam, kami tiba di Bandara Haneda—bandar udara tersibuk di Jepang,Jumat (29/7/2018) pukul 06.30. Waktu di Tokyo lebih cepat 2 jam dari Jakarta.

Awalnya, kami berencana langsung menziarahi Gunung Fuji, gunung tertinggi di Jepang yang menjadi ikon Negara Matahari Terbit itu. Setidaknya menapaki sampai pada level lima, ketinggian maksimal yang bisa ditempuh dengan kendaraan mobil.

Namun, rencana tersebut batal. Kata pemandu wisata, pada hari ini sedang ada acara pendakian massal sehingga akses perjalanan dengan mobil tertutup. Sebagai gantinya, rombongan mengunjungi Oshino Hakkai, adalah kumpulan delapan kolam super jernih di Oshino, sebuah desa kecil di kaki Gunung Fuji.

Kedelapan kolam itu konon mendapatkan “asupan makan” dari  salju yang meleleh dari lereng gunung yang tersaring melalui lapisan lava berpori selama lebih dari 80 tahun. Masyarakat Jepang sangat menghormati air dan kolam-kolam ini.

Selain air jernih, keberadaan ikan-ikan besar dan kecil air tawar menjadi daya tarik tersendiri. Mirip akuarium besar alami. Belum lagi udaranya yang sejuk berhawa gunung. Aneka panganan dan oleh-oleh khas juga banyak tersedia di outlet-outlet tradisional di kawasan Oshino Hakkai. Dan, pemandangan Gunung Fuji yang masih tampak jelas dari sini.

Dari Oshino Hakkai ke Gunung Fuji masih harus menempuh perjalanan lagi sekitar 47 kilometer atau sekitar 1 jam perjalanan. Fuji adalah gunung tertinggi di Jepang, yakni 3.776 m. Ketinggiannya sedikit di bawah gunung tertinggi kelima di Indonesia yakni Kerinci, 3.805 meter.

Gunung Fuji sering digambar dalam karya seni, lukisan, hingga foto. Fuji juga menjadi gunung yang favorit bagi para pendaki dan wisatawan. Dalam setahun, lebih dari 200.000 orang mendaki gunung ini, dan sekitar 30% di antaranya orang asing.

Periode paling populer bagi para pendaki adalah dari 1 Juli hingga 27 Agustus. Menurut situs japan-guide.com, pendakian bisa memakan waktu 3-7 jam, adapun penurunan gunung mencapai sekitar 2-5 jam.

***

Tak hanya bagi para pendaki dan wisatawan, jauh sebelumnya ini, Gunung Fuji telah menginspirasi Jepang untuk membangun industri fotografinya. Fuji Photo Film Co., Ltd. didirikan pada 20 Januari 1934. Dan, 28 tahun setelah itu--pada tanggal dan bulan yang sama, Jepang menandatangani Perjanjian San Fransisco, yang menandai hubungan diplomatif antara Jepang dan Indonesia.

Fuji Photo sangat populer di Indonesia. Perusahaan peralatan fotografi dan layanannya itu telah masuk ke Indonesia sejak 1971. Gerai-gerainya bahkan menjadi salah satu penanda kemajuan ekonomi suatu kota pada saat itu.

Fuji Photo berhasil melakukan pendakian ke puncak bisnis perlengkapan fotografi hingga awal 2000-an, sebelum akhirnya limbung dan terperosok ke ambang kebangkrutan akibat hantaman badai teknologi digital yang meluluh-lantakkan penjualan kamera analog dan film roll.

Namun, inspirasi kekokohan sang gunung, Fuji Photo berusaha bangkit kembali lewat jalur pendakian berbeda dengan bertransormasi ke bisnis kosmetika dan alat kecantikan.  Sisi lain dari sebuah gunung : keindahan.

Bahkan, di masa awal Indonesia dan Jepang merajut hubungan persahabatan, keindahan dan daya tarik Gunung Fuji itu telah diungkapkan oleh musisi asal Indonesia Muchcin Alatas lewat sebuah lirik lagu berjudul Fuji Yama.

Fujiyama

Menjulang sangat tinggi itu Gunung Fujiyama

Sungguh indah pemandangan berkesan di  hati

Puncak penuh salju sangat putihnya

Aduh... Berkilauan menyilaukan

Menambah indahnya panorama

Aku ingin mendaki sampai di sana puncak Gunung Fujiyama

 *

Mari kawan kawanku bertamasya bersamaku

Menikmati hawa segar selama liburan

Pasti engkau kagumi Gunung Fujiyama

Indah berkilauan menyilaukan sedap dipandang mata

Mari kita mendaki sampai di sana puncak Gunung Fujiyama 

***

Lagu Fujiyama bisa jadi menjadi penanda hubungan Indonesia-Jepang pada masa awal yang penuh gairah. Namun, hubungan selalu ada dinamika di setiap jamannya. Tidak seperti gunung yang diam mirip orang merenung, hubungan kemitraan itu bergerak seperti ombak. Dan tentu, ada masa pasang, ada periode surut.

 

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top