Ragam Penganan Lokal, Solusi Melepaskan diri Dari Candu Beras

Indonesia memiliki keragaman pangan yang luar biasa, namun keragaman justru dilupakan oleh masyarakat Indonesia. Pola konsumsi makanan pokok masyarakat Indonesia terjebak pada satu jenis karbohidrat saja, yakni nasi.
Ilman A. Sudarwan | 28 April 2018 20:45 WIB
Ilustrasi. - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia memiliki keragaman pangan yang luar biasa, namun keragaman justru dilupakan oleh masyarakat Indonesia. Pola konsumsi makanan pokok masyarakat Indonesia terjebak pada satu jenis karbohidrat saja, yakni nasi.

Dalam sebuah diskusi beberapa waktu lalu, wartawan dan pegiat diversifikasi pangan Ahmad Arif mengatakan, keragaman pengolahan dan konsumsi kini mulai tergerus akibat kebijakan politik pangan dan pertanian dari pemerintah yang bias. Penganan selain beras tidak diperhitungkan lagi sebagai salah atu makanan pokok masyarakat Indonesia.

Dia memaparkan, sejak era Orde Baru, pola konsumsi karbohidrat masyarakat semakin mengerucut pada nasi saja. Pada 1954, hanya 53,5% masyarakat yang mengkonsumsi beras. Namun, tak perlu waktu lama, hanya sampai 1987 saja, jumlah itu telah meningkat menjadi 81,1%.

Dia mengatakan, hal ini adalah sebuah jebakan yang membuat masyarakat Indonesia terjerat dalam candu beras yang tidak ada habisnya. Gizi buruk yang menimpa anak-anak di Kabupaten Asmat, Papua adalah salah satu contoh nyata.

“Asmat sebenarnya adalah tempat yang sagunya paling banyak di papua. Mereka sekarang telah meninggalkan sagu, mereka lebih memilih beras dan mie instan,” katanya.

Selain beras, dia memaparkan bahwa konsumsi kebutuhan karbohidrat masyarakat Indonesia saat ini juga mulai mengerucut pada gandum. Proporsi gandum sebagai pangan pokok melonjak dari 21% pada 2015 menjadi 25,4% di tahun 2017. Tahun lalu, total impor gandum Indonesia mencapai 11,6 juta ton.

“Indonesia menjadi negara negara importir gandum terbesar, sejak tahun 2010, pertumbuhan rata-rata produksi gandum adalah 5-10%,” ujarna.

Menurutnya, kondisi ini semakin ironis kala melihat beragamnya sumber daya pangan pokok yang tersedia di Indonesia. Sagu, barulah bagian kecil dari keragaman yang ada. Bangsa ini masih punya pangan pokok lainnya seperti pisang, umbi-umbian, sukun, dan lain-lain.

Berdasarkan data yang dimilikinya, Indonesia memiliki lebih dari 1.000 jenis pisang. Di daerah timur seperti Maluku dan Papua, masih banyak jenis pisang liar yang belum teridentifikasi. Saking banyaknya pisang, di Seram, Papua ada sebuah tradisi yang dinamakan pesta makan pisang.

“Pisang ini banyak sekali di Indonesia, moyangnya pisang itu bertemu di Indonesia, sehingga ragam varietasnya banyak sekali. Pisang bukan hanya buah, tetapi juga pangan pokok. Dia lebih mengenyangkan dari pada nasi, dan lebih lama rasa kenyangnya,” ujarnya.

Sayangnya, keragaman pangan ini tak kunjung disadari sebagai keuatan untuk melawan ketergantungan pada beras dan gandum impor. Pengamat Kuliner Jalansutra Harry Nazarudin mengatakan, salah satu alasan utamanya adalah minimnya inovasi pengolahan bahan-bahan tersebut.

“Yang harus kita terus pelajari adalah bagaimana cara mengolah pangan non beras ini. Keragaman kita jauh lebih banyak, tetapi pengolahannya kita masih kalah jauh. Kalau tidak diperbaiki, akhirnya kita kembali lagi ke beras, karena apa? Karena beras memang paling banyak di pasar,” katanya.

Senada, Arif juga mengatakan bahwa pengolahan sumber pangan non beras di Indonesia masih sangat minim. Contohnya, iles-iles yang tumbuh subur di daerah Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di tangan orang Indonesia, tak banyak pengolahan yang dihasilkan. Akan tetapi di tangan orang Jepang, iles-iles diolah menjadi konyaku shirataki yang dihargai tinggi.

“Pangan bukan sekadar komoditas, tetapi hak masyarakat Indonesia. Kuncinya ada pada kedaulatan pengolahan pangan lokal,” katanya.

Tag : diversifikasi pangan
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top