Peles & Pelisor, Jejak Ningrat Rumania

Patung Raja Carol I masih berdiri kokoh di halaman depan istananya yang asri dan megah. Mengenakan tongkat, patung yang dibuat oleh seniman Raffaello Romanelli itu tampak berpose santai, memandang halaman yang terhampar luas di sekitarnya.
Inria Zulfikar | 15 April 2018 17:21 WIB
Patung Raja Carol I - Jibi/Inria Zulfikar

Patung Raja Carol I masih berdiri kokoh di halaman depan istananya yang asri dan megah. Mengenakan tongkat, patung yang dibuat oleh seniman Raffaello Romanelli itu tampak ‘berpose’ santai, memandang halaman yang terhampar luas di sekitarnya.

Tak jauh dari tempatnya diabadikan, pegunungan Carpathian yang indah kelihatan dengan jelas, menambah keserasian properti bersejarah yang dirancang oleh Johannes Schultz dan Karel Liman tersebut.

Istana Peles, seperti umumnya istana raja atau kalangan ningrat Eropa zaman dulu, seolah tak lekang tergerus masa. Perawatan yang baik membuatnya tetap elok sebagai ikon yang mewakili generasinya.

Tak salah bila Carol I membangun istana di lokasi yang indah itu. Kediaman bergaya Neo Renaisans itu persisnya berada di Sinaia, kota kecil yang kini menjadi kawasan resor andalan dan bagian dari wilayah Prahova. Dari Ibu Kota Rumania, Bukares, perjalanan menuju Istana Peles berjarak sekitar 70 kilometer dan dapat ditempuh dalam waktu kira-kira 80 menit dengan menggunakan bus wisata.

Sang Raja menginginkan Peles sebagai tempat retret bagi keluarga besarnya selama musim panas hingga 1947. Mulai dibangun pada 1873 dan baru selesai sekitar 10 tahun kemudian. Arsitektur, interior dan berbagai koleksi milik Peles yang kini dapat dinikmati wisatawan mengingatkan kemewahan agung masa lalu.

Tak hanya ruangannya yang berjumlah 160 buah tapi diantara bilik-bilik itu memiliki semacam ‘kasta’ juga. Kamar atau ruang yang terkenal ada yang berjuluk The Honor Hall, The Imperial Suite, Arsenal, The Playhouse dan Florentine. Setiap unit menyimpan kekayaannya sendiri.

Koleksi yang bernuansa militer misalnya, bisa dijumpai di Arsenal seperti baju zirah, senjata, pedang zaman klasik dan sebuah armada penuh Maximilian untuk pengendara dan kuda. Lain lagi dengan Florentine. Ia tampil lebih lembut dan berseni. Corak elemen Renaisans Italia terpancar kuat dari kehadiran Grand Marble Fireplace oleh Paunazio dan pintu perunggu padat besar yang dibuat di Roma. Puas menjelajahi isi kamar, Anda bisa menikmati berbagai lampu hias dan ornamen lainnya yang terbuat dari kaca.

Tak pernah sepi turis berkunjung ke Peles, bahkan di musim dingin sekalipun saat saya berkesempatan mendatanginya akhir Maret lalu.

Peles ternyata ‘bersaudara’ dengan Pelisor, berjarak hanya sepelemparan batu. Sekitar 150 meter dari akses masuk setelah areal parkir, Anda akan menjumpai marka disisi kiri. Itulah arah penunjuk ke masing-masing istana.

Pelisor tidak sebesar Peles tapi berada di posisi yang lebih tinggi, karena dibangun diatas bukit. Saat itu kurang nyaman mendekati Pelisor karena akses jalan masuk tertutup salju tebal di medan menanjak.

Namun istana ini menyimpan sejarahnya sendiri yang tak kalah masyhur. Pada 2015 organ jantung Ratu Marie dari Rumania yang merupakan cucu Ratu Victoria dari Inggris akhirnya dikembalikan ke Istana Pelisor, tempat dia wafat untuk dimakamkan. Selama sekitar 70 tahun jantung tersebut berada di Museum Sejarah Nasional di Bukares. Istri Raja Ferdinand I wafat pada 18 Juli 1938 di usia 62 tahun.

Sebelum kembali ke Pelisor, organ tubuh Ratu Marie itu sempat beberapa kali pindah. Awalnya ditempatkan di sebuah kapel yang dibangun khusus di Balcic, sebuah kota di Laut Hitam yang dulu adalah milik Rumania. Karena sejak 1940 wilayah itu milik Bulgaria, keluarga kerajaan memindahkannya ke Istana Bran yang kini populer disebut Kastil Drakula.

Dengan alasan politik di era rezim komunis Rumania, dari Istana Bran pihak keluarga memindahkan lagi organ tubuh itu ke Museum Sejarah Nasional hingga 2015.

Tag : trip
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top