Meski Mulai Tren, Wisata Karavan Dinilai Kurang Prospektif di Indonesia

Semakin banyak warga Indonesia yang mengeksplorasi cara-cara alternatif untuk membuat kegiatan pelesir mereka makin berkesan. Salah satu yang mulai menjadi tren adalah campervan alias menggunakan karavan untuk bepergian atau piknik.
Wike Dita Herlinda | 08 April 2018 19:03 WIB
Karavan sebagai pengganti sarana akomodasi konvensional seperti hotel atau resor. - www.jakartavwcampervan.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Semakin banyak warga Indonesia yang mengeksplorasi cara-cara alternatif untuk membuat kegiatan pelesir mereka makin berkesan. Salah satu yang mulai menjadi tren adalah campervan alias menggunakan karavan untuk bepergian atau piknik.

Bagi yang belum memiliki biaya untuk memodifikasi kendaraannya menjadi sebuah karavan, sudah ada banyak penyedia jasa persewaan karavan di berbagai kota. Namun, sebenarnya apakah yang mendorong tren wisata karavan ini?

Berikut analisis dari Asnawi Bahar, pengamat pariwisata sekaligus Presiden Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA):

Bagaimana menurut Anda tentang tren wisata karavan?

Saya pikir ini tren baru yang mungkin berawal dari sekadar hobi [dari segelintir kalangan]. Ini merupakan sebuah sensasi baru, yang mulai dipopulerkan oleh Taman Safari Indonesia sebagai gimmick wisata pengalaman atau experience tourism.

Wisata karavan dikembangkan supaya masyarakat memiliki pilihan atraksi di destinasi-destinasi wisata. Jadi, untuk memberikan variasi pengalaman baru. Namun, segmen pasarnya masih sangat terbatas volumenya karena ini termasuk ke dalam wisata minat khusus.

Biasanya peminat wisata ini adalah kelompok masyarakat yang ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Kalaupun berkembang, saya rasa [wisata karavan] ini tidak akan menjadi sebuah tren yang besar.

Mengapa demikian?

Sebab, kalau semua [penyedia akomodasi] menggunakan karavan atau motorhome, tentunya itu akan berdampak pada tingkat okupansi hotel. Sebab, pariwisata jenis ini kan memberikan alternatif akomodasi selain hotel atau resor.

Jadi, walaupun jumlahnya mulai marak di berbagai kota, jasa persewaan karavan ini tidak dapat menyerap pangsa pasar dalam jumlah besar. Berbeda dengan hotel atau resor.

Menurut saya, wisata karavan ini sifatnya hanya untuk mengubah pola berwisata saja, tapi tidak akan menjadi tren yang besar di Indonesia. Namun, keberadaan mereka sebenarnya juga bagus untuk memberikan alternatif bagi pecinta pelesir yang ingin mencari sesuatu yang berbeda.

Namun, sekali lagi, pertumbuhannya tidak akan terlalu besar karena memang porsi dan segmen pasarnya sangat khusus.

Apa keunggulan dan kekurangan wisata karavan?

[Keunggulannya] Sebagai alternatif akomodasi saat berwisata, khususnya di destinasi-destinasi yang infrastruktur akomodasinya memang belum memadai.

Namun, kalau kita melihat di beberapa daerah yang okupansi hotelnya belum maksimal, keberadaan wisata karavan seperti ini bisa memberi pengaruh negatif. Saat ini, kawan-kawan di [industri] perhotelan sudah mulai mengeluh dengan kehadiran Airbnb. Apalagi, jika mereka harus bersaing dengan model jasa baru seperti wisata karavan ini.

Apa yang memicu tren tersebut?

Menurut saya, ini karena karakter dan kebutuhan manusia modern yang selalu ingin mencoba sesuatu yang beda. Wisata karavan muncul karena tingkat kejenuhan dengan destinasi atau objek wisata yang sudah ada.

Mereka ingin ada sesuatu yang berbeda, yang didasarkan dari pengalaman seperti di luar negeri. Sebab, wisata karavan di luar negeri kan sudah banyak dan itu menginspirasi sebagian kalangan untuk mengadopsi dan mengembangkan ide kreatif tersebut di Indonesia.

Jadi, menurut Anda, prospek ke depannya tidak akan bagus?

Jumlahnya memang belum besar, meskipun sudah mulai bermunculan persewaan karavan. Namun, untuk menjadi tren bisnis yang populer rasanya masih perlu waktu.

Menurut saya, masyarakat hanya ingin mencoba saja, tapi berwisata dengan karavan tidak akan menjadi kegiatan yang permanen. Ini hanya dinamika dan diversifikasi saja yang baik untuk menambah keragaman produk akomodasi pariwisata di Indonesia.

Tag : pariwisata
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top