Tren Bisnis Wisata Karavan Makin Diminati

-Berbagai cara ditempuh para pecinta pelesir untuk mendapatkan pengalaman liburan yang tidak terlupakan. Salah satunya adalah dengan menyewa karavan sebagai pengganti sarana akomodasi konvensional seperti hotel atau resort.
Wike Dita Herlinda | 07 April 2018 16:21 WIB
karavan sebagai pengganti sarana akomodasi konvensional seperti hotel atau resor. - www.jakartavwcampervan.com

Bisnis.com, JAKARTA - Berbagai cara ditempuh para pecinta pelesir untuk mendapatkan pengalaman liburan yang tidak terlupakan. Salah satunya adalah dengan menyewa karavan sebagai pengganti sarana akomodasi konvensional seperti hotel atau resor.

Merasakan sensasi piknik atau bermalam di atas karavan belakangan ini mulai banyak dicari oleh keluarga urban maupun generasi milenial yang gemar mengeksplorasi pengalaman baru. Apalagi, di Indonesia, sarana akomodasi seperti karavan adalah hal yang masih terbilang langka.

Mengetahui segmen wisata alternatif yang masih belum tergarap dengan baik tersebut, sebuah perusahaan di Jakarta membuka usaha khusus menyewakan mobil karavan yang dimodifikasi dari berbagai tipe Volkswagen (VW) Campervan.

Nama perusahaan tersebut adalah Jakarta VW Campervan yang berlokasi di daerah Pasar Minggu. Lantas, seperti apakah ceruk bisnis wisata karavan yang dibidik oleh perusahaan ini? Apa saja fasilitas yang mereka tawarkan?

Berikut penjelasan Doddy Samperuru, owner Jakarta VW Campervan:

Sejak kapan berdirinya? Apa latar belakang memulai bisnis persewaan mobil karavan ini?

Dari 2014. Latar belakangnya, saya adalah pertama saya penggemar VW dan kedua saya suka camping. Jadi, saya berinisiatif membangun yang namanya VW Campervan.

Alasan yang ketiga, bisnis [persewaan campervan] ini [pada waktu itu] tidak ada di Indonesia. Nah, saya ingin VW campervan ini bisa dinikmati oleh siapa saja, sehingga saya membuka persewaannya.

Siapa segmen pasar yang diincar? Bagaimana tren permintaannya?

Pada awalnya, sekitar 2013—2014, segmen yang saya incar adalah keluarga-keluarga Indonesia yang ingin pergi camping tetapi tidak mau repot. Dengan VW campervan ini, mereka bisa melakukan camping dengan praktis dan bergaya.

Namun, ternyata, dalam perkembangannya hanya sedikit sekali orang yang menyewa untuk keperluan camping. Paling banyak adalah disewa untuk keperluan wedding, branding produk, pemasaran, dan iklan di majalah atau YouTube.

Hanya ada sedikit yang menyewa untuk keperluan camping atau pariwisata. Paling banyak hanya mencakup 5% dari total penyewa. Dari situ segmen pasar saya mulai bergeser dan saya mulai bisa membaca segmen pasar karavan di Indonesia, yang memang ternyata masih di bawah ekspektasi.

Apa kendala/tantangan mengelola bisnis sewa karavan ini?

Alasan mengapa wisata karavan tidak banyak diminati di Indonesia adalah; pertama, karena terbatasnya lokasi bumi perkemahan yang bisa diakses dengan mobil. Di sekitar Jakarta saja jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Memang bumi perkemahan ada banyak, tetapi mayoritas tidak bisa diakses dengan mobil. Pengunjung harus memarkir mobilnya di suatu titik, sisanya ditempuh dengan berjalan kaki. Sama saja bohong.

Kedua, infrastrukturnya kurang. Di Eropa dan Amerika, banyak bumi perkemahan yang bisa diakses melalui jalan raya yang baik, benar, dan nyaman. Di Indoensia, masih banyak lokasi wisata dan bumi perkemahan yang untuk mencapainya dibutuhkan perjuangan karena jalannya jelek.

Ketiga, orang Indonesia masih melihat sewa campervan itu mahal. Mereka belum mau mengeluarkan banyak uang untuk sekadar pergi berkemah. Berbeda dengan penyewa untuk kebutuhan wedding atau product branding yang memang sudah menganggarkan biaya untuk itu.

Keluarga-keluarga di Indonesia merasa bahwa menyewa karavan atau campervan masih terlalu mahal bagi mereka. Dengan harga yang sama, mereka lebih memilih untuk tinggal di hotel ketimbang menyewa campervan.

Paling banyak digunakan untuk piknik ke mana?

Paling sering ke Gunung Pancar, karena lokasinya dekat dengan Jakarta.

Bagaimana potensi tren wisata karavan di Indonesia ke depannya?

Mungkin dalam waktu dekat ini bisa menjadi tren karena sekarang pemerintah sedang gencar membangun jalan tol. Ini adalah permulaan yang bagus. Saya, misalnya, hendak camping ke Baluran, Jawa Timur butuh waktu 24 jam dari Jakarta dengan naik campervan.

Namun, kalau ke depan seluruh proyek jalan tol sudah terbangun dengan baik, jarak tersebut bisa lebih dipersingkat. Itu baru Pulau Jawa. Saya yakin ke depannya, wisata karavan bisa prospektif juga di Sulawesi, Sumatra, dan bahkan Papua.

Bagaimana prospek bisnis persewaan karavan di Indonesia ke depannya?

Saya rasa bisa menjadi populer, melihat tren yang sudah terjadi di negara-negara Eropa. Alasannya ke depannya ada harapan infrastruktur di Indonesia akan semakin siap untuk mengakomodasi pengembangan bisnis wisata campervan ini.

Namun, ada satu faktor yang mengganjal. Di negara-negara Barat, bisnis persewaan campervan bisa berjalan lancar karena kendaraannya di-cover asuransi dengan peraturan yang memungkinkan dan jelas dari pemerintahnya.

Di Indonesia, OJK melarang asuransi untuk mobil dengan usia di atas 10 tahun. Padahal, mobil-mobil campervan tergolong mobil klasik yang usianya mencapai 55 tahun. Karena tidak bisa di-cover asuransi, kami tidak bisa melakukan sistem lepas kunci saat ada yang menyewa.

Kami harus menyertakan seorang sopir, dan biayanya ditanggung oleh penyewa. Nah, padahal, kalau ada sopir yang ikut, tentunya keluarga akan merasa tidak nyaman atau tidak ada privasi saat hendak piknik. Akhirnya mereka enggak mood. Itu juga menjadi permasalahan tersendiri di dalam bisnis ini.

Ada berapa karavan yang disewakan?

Kendaraan campervan kami adalah Volkswagen klasik Type-2 Transporter atau yang lebih dikenal dengan sebutan VW Kombi. Posisi mesinnya berada di belakang, dilengkapi dengan pendingin udara dan air, juga telah direstorasi dengan apik dan standar tinggi untuk tetap mempertahankan citra retronya.

Saat ini, ada tiga kendaraan campervan yang dapat disewa, yaitu; Red Hot Chili Peppers, Deep Purple, Vanagon, dan Pink Floyd.

Apa saja konsepnya?

Deep Purple adalah nama panggilan untuk sebuah VW Kombi 1979 buatan Jerman. Dipanggil demikian karena warnanya ungu muda dan putih. Setelah direnovasi & dicat baru, campervan ini kelihatan lebih segar, lebih nyaman, handal, dan aman.

Vanagon adalah VW Type 2 T3 yaitu generasi ketiga dari keluarga VW Transporter. Mesin berkapasitas 1.9 liter masih dipasang di bagian belakang tetapi sekarang telah berpendingin air, bukan berpendingin udara lagi.

Kendaraan ini diimpor dalam keadaan utuh [CBU] pada 1980-an dan merupakan satu-satunya VW Campervan CBU yang terdapat di Indonesia dan tersedia untuk disewa. Desain Campernya adalah model Villa 3 yang dibuat oleh perusahaan bernama Holdsworth dari Inggris.

Sementara itu, Pink Floyd memiliki warna merah muda dan putih dan mengikuti salah satu model minibus Volkswagen yang sangat terkenal di dunia, yaitu Samba atau juga Sunroof Deluxe. Samba ini adalah model VW Transportergenerasi pertama [T1] yang paling mewah dan dibuat dari 1951 sampai 1967.

Masing-masing mobil memiliki kapasitas tempat tidur bervariasi, tergantung kendaraannya. Deep Purple dan Red Hot Chili Peppers mempunya tempat tidur rock-n-roll yang sangat nyaman untuk dua orang dewasa dan satu anak balita di kursi depan. Sebetulnya tempat tidur tersebut dapat memuat satu orang anak lagi tetapi kenyamanan akan berkurang.

Sementara itu, Vanagon dapat memuat 2-3 orang di tempat tidur rock-n-roll dan 2-3 orang anak-anak di tempat tidur di dalam atap pop-top. Silakan Anda membawa tenda sendiri jika lebih banyak orang yang ikut serta.

Apa saja fasilitasnya?

Fasilitas dan peralatan di dalam campervan kam mencakup kursi penumpang belakang yang dapat direbahkan menjadi tempat tidur berkapasitas untuk dua orang dewasa, kursi depan yang menyambung sehingga dapat juga dijadikan alas tidur buat seorang anak balita, kulkas mini satu pintu lengkap dengan freezer, dua buah kompor gas portabel berbahan bakar gas butana, tempat cuci piring dengan suplai air bersih sebanyak 10 liter, sebuah meja portabel yang dapat didirikan baik di dalam maupun di luar kabin, dua buah kursi kecil portabel, dua buah kursi piknik lipat, satu buah meja piknik lipat, tenda samping, rak belakang yang dapat memuat dua buah sepeda, serta rak di atap.

Apa persyaratan menyewanya?

Untuk sekarang, penyewaan kendaraan kami hanya terbatas untuk semua area di Pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lampung saja. Di luar area ini, tambahan biaya sewa akan dikenakan.

Berapa biaya sewanya?

Untuk Deep Purple sewa per harinya Rp2,25 juta, kalau kurang dari 10 jam didiskon Rp500.000. Harga sewa akhir pekan dua hari dan tiga hari masing-masing Rp3,6 juta dan Rp5,1 juta. Sementara itu, tambahan untuk biaya sopir Rp300.000 per hari, belum termasuk BBM.

Untuk Red Hot Chili Peppers sewa hariannya Rp2,75 juta, diskon Rp500.000 jika kurang dari 10 jam. Sewa akhir pekan dua hari dan tiga hari masing-masing Rp4,4 juta dan Rp6,2 juta. Tambahan ongkos sopir Rp300.000 per hari, belum termasuk BBM, tol, tiket parkir, dan sebagainya

Tag : pariwisata
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top