Ini Destinasi Wisata Rohani Nusantara yang Dapat Dikunjungi Selama Libur Paskah

Bagi umat Kristiani yang merayakan Paskah di luar Jakarta, maupun masyarakat lainnya yang memanfaatkan libur panjang akhir pekan ini untuk berlibur, ada beberapa destinasi wisata yang bisa dikunjungi.
JIBI | 31 Maret 2018 14:48 WIB
Sejumlah pengunjung melintasi Patung Bunda Maria Asumpta di Kerep, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Jumat (30/3). - ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA -- Hari Raya Paskah akan jatuh pada Minggu (1/4/2018). Namun, libur Paskah yang dimulai pada Jumat (30/3) turut dimanfaatkan oleh masyarakat non Kristiani untuk berlibur. 

Bagi umat Kristiani yang merayakan Paskah di luar Jakarta, maupun masyarakat lainnya yang memanfaatkan libur panjang akhir pekan ini untuk berlibur, ada beberapa destinasi wisata yang bisa dikunjungi. Tidak hanya dalam rangka wisata rohani, destinasi-destinasi berikut dapat menjadi kesempatan untuk menambah pengetahuan dan khazanah arsitektur Nusantara. 

Berikut daftarnya seperti dilansir dari Tempo.co, Sabtu (31/3):

1. Patung Yesus di Tomohon

Di tengah perjalanan membelah ring road baru dari Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado menuju Tomohon, pelancong akan melewati kompleks perumahan Citra Land. Jaraknya kira-kira 5 kilometer (km) dari titik nol Manado.

Lokasi pemukiman elite ini tampak diapit dua bukit. Di bagian kiri tampak Gunung Klabat, sedangkan di sisi kanan ada bukit-bukit hijau membentang. Selain lansekapnya, yang membuatnya menarik adalah Patung Tuhan Yesus Memberkati yang berdiri gagah jauh di ujung pandangan.

Patung itu dibangun 10 tahun lalu oleh pengembang Ciputra sebagai wujud syukur. Konsepnya mirip patung Yesus yang berada di Rio de Janeiro, Brazil.

Hanya, ukurannya lebih kecil. Wisatawan yang hendak ke Tomohon umumnya mampir sekadar untuk memotret patung tersebut. Disediakan pula titik swafoto yang berlokasi di dalam kompleks perumahan. Meski berada di kawasan Citra Land, siapa pun boleh masuk dan tak dipungut biaya.

2. Patung Yesus di Pulau Kei

Di atas bukit Kota Langgur, Kei Kecil, Maluku Tenggara, tokoh Yesus dengan tangan berpose memberkati terpatri kekal. Seperti di Rio de Janeiro, Brazil, sosok itu terwujud dalam rupa sebuah patung. Bila diembus angin, patung berputar sesuai dengan arah tiupannya.

"Kadang menghadap ke pantai, kadang juga menghadap ke desa," kata Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Maluku Tenggara Budhi Toffi.

Patung Yesus setinggi 3 meter itu istimewa bagi masyarakat Kei dan bukan cuma spesial untuk penduduk Nasrani. Sebab, keberadaannya menjadi simbol perdamaian yang mempersatukan semua umat di pesisir timur Nusantara.

Di puncak bukit dengan ketinggian 300 meter di atas permukaan laut, patung Yesus menghadap langsung ke tiga desa yakni Ohoi Der Tavung, Ohoi Don Wahan, dan Desa Kelanit.

Ohoi Der Tavung mayoritas dihuni oleh masyarakat beragama Protestan, Desa Kelanit dihuni masyarakat Katolik, sedangkan Ohoi Don Wahan, yang juga meliputi wilayah Lethan dan Sitngohoi, dihuni penduduk Muslim.

Menurut sejarahnya, patung ini dikirim langsung dari Vatikan pada 2000 sebagai hadiah dari Paus Yohanes Paulus II. Kala itu, Kei dianggap sebagai daerah damai yang tak tersulut konflik perseteruan. Sebab, pada era akhir 1990 menjelang 2000, Maluku sedang diramaikan oleh isu gesekan agama.

"Patung dibawa pakai kapal. Saat tiba di Kei dari Vatikan, patung Yesus diarak di satu kabupaten oleh semua orang," ujar Budhi.

Sebelum menjadi lokasi simbol perdamaian, bukit tersebut merupakan pusat doa semua agama di Kei. Masyarakat berbondong-bondong datang pada waktu-waktu tertentu untuk sembahyang. Aktivitas ini bertautan dengan kepercayaan lokal yang menganggap Tuhan selalu datang di tempat-tempat tinggi.

Bukit tersebut juga menjadi tujuan berziarah bagi masyarakat beragama Katolik menjelang Hari Raya Paskah. Tak heran, di jalur menanjak menuju bukit, terdapat titik-titik doa yang disebut sebagai jalur jalan salib.

Meski sarat akan nuansa religi, Bukit Tuhan Yesus Memberkati ramah dikunjungi wisatawan dari berbagai latar belakang agama. Pelancong bahkan bisa naik di badan patung untuk menyaksikan keindahan Pulau Kei Kecil dari ketinggian.

Untuk sampai ke puncak, pengunjung harus trekking selama 20 menit dengan medan menanjak cukup terjal. Di sepanjang jalur penanjakan tidak terdapat penjual atau warung. Disarankan wisatawan membawa bekal air mineral.

Adapun untuk menuju ke bukit ini, wisatawan harus menempuh perjalanan darat sejauh 11 km dari pusat Kota Langgur, yang bisa ditempuh dalam waktu 15 menit. Wisatawan bisa menumpang angkutan umum dari terminal Pasar Langgur dengan tarif berkisar Rp6.000-Rp11.000.

3. Gereja Gaya Portugis di Flores

Wisata religi terbesar di Flores, Nusa Tenggara Timur, ada di Larantuka. Konon, tempat ini adalah bekas kerajaan bernama Kerajaan Larantuka.

Para raja di sana berkerabat dengan bangsa Portugis, sehingga di kota ini pun banyak terdapat bangunan gereja tua berarsitektur Portugis. Menariknya, setiap Paskah di Larantuka ada tradisi Semana Santa.

Semana Santa adalah akulturasi budaya dari bangsa Portugis yang rutin digelar setiap tahun. Prosesinya mengarak Tuan Ma atau patung Bunda Maria dari Larantuka dan dibawa menggunakan kapal menuju Pulau Adonara. Selama masa Paskah, sepekan penuh, Larantuka berisi prosesi jalan salib di seluruh kota.

4. Gua Maria di Yogyakarta

Wisata rohani yang terkenal di Pulau Jawa adalah Gua Maria Tritis, Yogyakarta. Gua Maria Tritis dibangun dari gua alami di daerah karst.

Stalaktit dan stalagmit di dalam gua ini terbilang besar. Uniknya, ada kepercayaan di kalangan masyarakat jika orang datang berdoa dan mengambil air dari salah satu stalaktitnya, orang itu akan awet muda.

Gua ini berlokasi di Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Areanya dekat dengan kawasan Pantai Indrayanti dan Baron. Biasanya wisatawan yang dari gua langsung lanjut ke pantai.

5. Kitab Injil tertua di Papua

Kitab Injil tertua di Papua terletak di gereja tua di Kampung Yende Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Kepala Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) Ben G Saroy mengatakan gereja di kampung tersebut sudah berumur ratusan tahun.

"Di situ juga ada kitab Injil tertua di tanah Papua. Usianya diperkirakan mencapai 119 tahun sejak penginjil datang di kampung tersebut. Jasad para penginjil pun dikuburkan di situ," paparnya.

Kampung ini berada tepat di pesisir pantai. Transportasi laut menuju kampung pun saat ini sudah lebih mudah.

"Kalau kita dari Manokwari, kapal akan lebih dulu singgah di Yende sebelum ke Wasior. Pantainya bersih, suasana di kampung pun masih sangat alami," terang Ben.

Saat ini Balai Besar bersama World Wide Fun (WWF) sedang mengembangkan pariwisata di sejumlah lokasi kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Satu di antaranya di Distrik Room Teluk Wondama.

6. Patung Bunda Maria Asumpta di Semarang

Semarang tidak hanya memiliki Lawang Sewu, tapi juga obyek wisata lainnya yang menarik. Salah satunya adalah Patung Bunda Maria Asumpta di Kerep, Ambarawa, Kabupaten Semarang. Jumlah pengunjung patung Bunda Maria setinggi 42 meter yang diklaim tertinggi sedunia tersebut mengalami lonjakan saat hari libur dalam rangka Paskah atau peringatan kematian Isa Almasih.

Sumber : Tempo.co

Tag : wisata
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top