TREN KULINER: Budaya Brunch Ala Australia di Ibu Kota

Jika Anda adalah penggila jelajah kuliner saat berada di Bali, tentunya familiar dengan kafe bernama Sisterfields. Boutique caf populer pemenang penghargaan di kawasan Seminyak itu kerap dijadikan tempat tongkrongan wajib saat berkunjung ke Pulau Dewata.
Wike Dita Herlinda | 22 Maret 2018 18:57 WIB
Pendiri Sisterfields Adam McAsey saat sesi konferensi pers di Jakarta - Jibi/Wike D. Herlinda

Jika Anda adalah penggila jelajah kuliner saat berada di Bali, tentunya familiar dengan kafe bernama Sisterfields. Boutique café populer pemenang penghargaan di kawasan Seminyak itu kerap dijadikan tempat tongkrongan wajib saat berkunjung ke Pulau Dewata.

Sejak buka pada Februari 2014, kafe tersebut menyedot perhatian wisatawan, sosialita, dan para pecinta kuliner Bali. Salah satu keunikannya terletak pada konsep untuk membagikan esensi budaya brunch ala Australia di jantung pariwisata Indonesia.

Selang empat tahun sejak buka di Bali, Sisterfields membidik pangsa pasar pecinta kuliner di Jakarta dengan membuka cabang keduanya di Pantai Indah Kapuk (PIK) Avenue Mall, Jakarta Utara.

Lagi-lagi, brand kafe ikonik dari Negeri Kanguru ini bermisi mewakili budaya brunch ala Australia dengan menyajikan aneka varian kopi berkualitas premium dalam setiap sajian yang dihidangkan.

Kafe yang baru dibuka awal Maret ini memiliki areal indoor dan outdoor nan cozy ala restoran casual dining. Menu-menu yang dijajakan bertema all-day brunch kontemporer yang sedang populer di Australia.

Misalnya saja, beragam smoothies, jus, kopi artisan, serta aneka kue bernuansa rustic. Tidak hanya itu, pengunjung juga bisa menikmati aneka pilihan cocktail, wine, serta spirit sebagai pelengkap acara santai bersama rekan-rekan.

Setiap cocktail, wine, bir premium, dan mocktail dipilih secara selektif dan diracik khusus oleh bartender pemenang penghargaan di Indonesia, Arey Barker, yang juga merupakan Head Mixologist Bikini dan 8 Degree Projects Group.

Adapun, seluruh menu di Sisterfields Jakarta dikoreografikan secara matang oleh Creative Culinary Director, Chef Jethro Vincent. Dia memboyong beberapa menu favorit di Bali dengan menambahkan sederet menu baru khusus untuk konsumen Ibu Kota.

Menurut Jethro, beberapa signature dishes yang menjadi andalan di Bali mencakup sajian-sajian diet sehat seperti Acai Berry Bowl, Smashed Avocado, dan Sisterfields Dirty Burger. Namun, khusus untuk konsumen Jakarta dia menambahkan beberapa menu klasik dengan sentuhan khas Australia.

Dia mengatakan seluruh menu yang dihidangkan hanya diolah dari produk terbaik dan bahan-bahan berkualitas premium yang dimasak dari dasar, termasuk untuk saus, susu dari kacang-kacangan, es krim, bahkan selai.

“Makanan yang kami sajikan merupakan perpaduan antara cita rasa khas Australia dengan produk lokal yang mengutamakan kualitas premium, baik dari bahan baku maupun cara pengolahannya,” ujarnya saat pembukaan Sisterfields Jakarta belum lama ini.

Lebih lanjut, Jethro mengaku hubungan Sisterfields dengan para penyuplai bahan baku mengedepankan nilai-nilai yang ditanamkan dalam kekuatan budaya. Hal itu merupakan aspek terpenting yang terefleksi dalam setiap makanan yang disajikan.

Selain menu-menu all-day brunch, Sisterfields memiliki daya tarik sajian tradisional seperti Lamb Shoulder & Pearl Barley Salad, Sticky Nam Jim Pork Belly dengan vermicelli salad khas Asia Tenggara, Chipotle Chicken Taco, dan Chili Prawn & XO Fried Rice.

Atmosfer Khas

Tidak hanya menjajakan aneka menu ala Australia, Sisterfields memastikan setiap pengunjung puas dengan atmosfer khas yang merupakan buah desain dari studio interior Travis Walton Architects yang memenangkan penghargaan interior desain di Australia.

Kafe ini ini membawa pengalaman kuliner superior di Jakarta dengan suasana taman yang modern di siang hari, dan bertransformasi menjadi bar nan elegam saat malam hari. Kafe ini memiliki high bar dengan bartender sebagai pusat dari areal bar, tempak duduk komunal, dan sofa.

Sebagai aksen, interior Sisterfields dilengkapi dengan pintu rangka baja industrial, marmer, dan kayu alami berdetail kuningan serta palet warna cerah dari balok baja yang dicat dengan warna khas Sisterfields. Adapun, lantai terasonya dirancang khusus dan furniturnya dibalut kulit asli.

Secara keseluruhan, kafe ini mengambil elemen urban yang membuat pengunjung betah dari pagi hingga malam. “Kami ingin membuat pengalaman yang sedikit berbeda di Jakarta, tetapi dengan sentuhan akhir, bahan, dan detail yang sama seperti di Sisterfields Bali,” kata Travis.

Pendiri Sisterfields, Adam McAsey, mengatakan dirinya memiliki visi khusus terhadap dunia kuliner di Indonesia. Semua itu dimulainya sejak membuka restoran perdananya di Bali lima tahun lalu.

Pria asal Melbourne yang juga pendiri 8 Degree Projects itu meyakini konsep yang diusung Sisterfields dapat dikembangkan di lokasi lainnya di Indonesia, apalagi di Jakarta.

“Ini merupakan progres yang alami dan mengetahui bahwa masyarakat Jakarta adalah pecinta kuliner, sama seperti di Melbroune; kami sedikit menyesuaikan menu kami dengan menu yang tepat untuk pasar Jakarta dan menawarkan apa yang kami tawarkan di Bali khusus untuk Jakarta.”

Tag : kuliner
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top