Lombok Siap Jadi Pionir Marina Berstandar Internasional

Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, siap menangkap peluang wisata bahari.
Eka Chandra Septarini | 08 Maret 2018 16:53 WIB
Sebanyak 18 kapal yacht parkir di Gili Gede dengan biaya parkir sebesar US110 per bulan untuk setiap kapalnya. - Bisnis.com/Eka Chandra Septarini

Bisnis.com, LOMBOK BARAT - Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, siap menangkap peluang wisata bahari.

Salah satu titik awal yang dijajaki adalah dengan menjadi lokasi pelabuhan yacht pertama bertaraf internasional di Indonesia.

PT Marina Del Ray yang merupakan investor asal Australia menggelontorkan dana untuk membangun pelabuhan yang berlokasi di Gili Gede, Lombok Barat.

Proses pembangunan dermaga ini sebenarnya sudah digagas oleh investor Australia tersebut sejak beberapa tahun yang lalu, tetapi saat itu niat tersebut belum mendapat izin dari pemerintah pusat.

Kini pembangunan dermaga resmi dimulai dengan berbekal landasan Peraturan Menteri Perhubungan tentang Terminal Khusus dan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri setelah semua perizinan lengkap dan memenuhi syarat.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Agung Kuswandono mengatakan, selain di Lombok, Indonesia membutuhkan setidaknya 400 marina baru yang harus dibangun agar bisa menangkap peluang dari pariwisata bahari.

"Negara kita 76% laut, yacht yang masuk dan berlayar ke Indonesia ini banyak, bisa ribuan lebih. Sayangnya tidak ada yang parkir di sini. Kalau itu bisa kita kelola dengan baik, penerimaan negara dari pajak bisa masuk, ekonomi masyarakat juga bisa bergerak," ujarnya di Gili Gede, Lombok Barat.

Marina yang ada di Gili Gede ini akan menjadi contoh bagi pembangunan marina di lokasi lain yang ada di Indonesia. Pasalnya, Agung menyebut kesuksesan marina Gili Gede akan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki keseriusan untuk mendorong wisata bahari.

Bentuk keseriusan pemerintah juga ditunjukkan dengan mengupayakan agar proses perizinan bisa dilakukan lebih cepat. Pasalnya, selama ini proses perizinanlah yang menjadi momok lambatnya pengembangan kawasan untuk investasi.

"Memang harus ada banyak pihak yang diajak bertemu, tetapi untuk perizinan harus cepat. Jangan gunakan 'sistem jaman old' untuk saat ini. Kalau satu bulan bisa selesai kenapa harus sampai tahunan," tegas Agung.

PT Marina Del Ray selaku investor meyakini Gili Gede merupakan tempat yang strategis dengan kondisi teluk yang tenang sehingga cocok untuk tempat berlabuhnya kapal yacht dari perjalanan keliling dunia.

Gili Gede juga menawarkan pesona keindahan alam yang tidak ditawarkan oleh pelabuhan yatch lain seperti di Singapura dan Hong Kong. 

Pembangunan kawasan ini setidaknya akan melalui beberapa tahap. Tahap pertama berupa pembangunan dermaga dan juga yacht club yang merupakan restoran dimana para wisatawan bisa  bersantai sambil menikmati keindahan alam.

Pada tahap selanjutnya akan dibangun pula hotel, villa, dan apartemen dengan kelas bintang 4 sebanyak 50 kamar.

General Manager PT Marina Del Ray Puri Yusuf mengatakan dari keseluruhan proses, saat ini telah dimulai konstruksi sekitar 10%. Pihaknya menargetkan pada September 2018, dermaga dan yacht club sudah bisa beroperasi.

"Sekarang sudah lebih dari 10%. Untuk hotel ada sekitar 10.000 m2. Kami rasa masih kurang, jadi masih perlu pembebasan lahan lagi," ujar Puri.

Nilai ekonomi dari kedatangan wisatawan luar negeri menggunakan yacht atau kapal layar pesiar tersebut diklaim lebih besar dibandingkan yang masuk melalui Lombok International Airport.

Bagi masyarakat lokal, keberadaan marina dapat menjadi sumber pendapatan, salah satunya dengan menjadi tenaga kerja atau menyediakan jasa wisata yang dibutuhkan oleh wisatawan kapal yacht.

Pemerintah Indonesia juga akan mendapatkan keuntungan dari biaya-biaya yang harus dibayarkan oleh wisatawan yang datang menggunakan kapal pesiar.

Tag : wisata bahari
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top