Waktunya Fine Dining Indonesia Unjuk Gigi

Sempat menyusut jumlahnya setelah kekacauan pasar modal Amerika Serikat pada 2008, restoran fine dining mulai mendapatkan kembali pamornya.
Ilman A. Sudarwan | 19 Februari 2018 01:15 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Sempat menyusut jumlahnya setelah kekacauan pasar modal Amerika Serikat pada 2008, restoran fine dining mulai mendapatkan kembali pamornya.

Keadaan ekonomi global yang membaik dalam beberapa tahun ke belakang, mendorong kembalinya menggeliatnya kuliner mewah.

Pertumbuhan ekonomi secara umum memang sangat erat kaitannya dengan perkembangan industri kuliner, tak terkecuali Indonesia.

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Sudrajat mengatakan bahwa tren pertumbuhan restoran fine dining di Indonesia juga mengalami peningkatan yang sama.

“Dalam sekitar 3 tahun terakhir, pertumbuhan restoran termasuk fine dining meningkat cukup pesat. Pertumbuhannya hampir sebesar 50%” katanya kepada Bisnis.

Sayangnya, Sudrajat belum bisa memberikan data jumlah restoran yang pasti berdasarkan klasifikasinya di Indonesia. Dia mengatakan bahwa saat ini PHRI masih menghimpun data tersebut, serta memberikan sertifikasi kepada retoran di Indonesia. “Nantinya sama seperti hotel, restoran yang terhimpun di PHRI juga akan ada kelas-kelasnya, berdasarkan sertifikasi yang tengah berjalan,” katanya.

Dia mengatakan bahwa petumbuhan restoran fine dining di Indonesia saat ini banyak didominasi oleh restoran bergaya nusantara, bukan eropa. Selain makanan Indonesia, Sudrajat juga menyebutkan restoran melayu juga mulai diminati masyarakat Indonesia.

Salah satu penyebab terus tumbuhnya jumlah restoran di Indonesia secara umum menurut Sudrajat justru disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cenderung stagnan dalam beberapa tahun ke belakang. Minimnya peluang bekerja secara formal, banyak membuat orang memilih untuk berwirausaha. Salah satu jenis wirausaha yang paling diminati adalah bisnis kuliner.

“Dengan pertumbuhan ekonomi yang cenderung stagnan di 5%, lapangan pekerjaan tidak terlalu tumbuh dengan baik. Orang akhirnya memilih berwirausaha makanan, karena makanan salah satu yang paling mudah untuk pebisnis pemula. Selain itu, pemerintah belakangan juga tengah gencar mendorong orang untuk berwirausaha,” katanya.

Senada, pengamat kuliner dari komunitas Jalansutra Harnaz Tagore mengatakan kondisi ekonomi nasional sangat erat hubungannya dengan industri kuliner. Dia menyontohkan bagaimana krisis ekonomi yang terjadi pada 1998 membuat pelaku usaha kuliner kelas atas untuk menurunkan standar mereka, menghasilkan makanan bergaya barat dengan harga yang relatif lebih rendah.

“Steak misalnya, dulu hanya bisa didapatkan di hotel berbintang dan steak house seperti Gandy. Karena krisis waktu itu, mulai muncul steak yang lebih murah seperti Abuba atau Hollycow. Harganya mungkin berbeda lima kali lipat, tapi rasanya hanya beda dua kali lipat,” jelasnya.

Belakangan, ketika kondisi ekonomi Indonesia mulai membaik justru selera makan masyarakat Indonesia sudah berubah. Para penikmat kuliner dari kalangan menengah dan atas yang tadinya mencari kuliner barat, justru lebih memilih memakan kuliner asli Indonesia. Kebosanan terhadap kuliner asing ini akhirnya mendorong tumbuhnya restoran fine dining yang menyajikan makanan Indonesia.

“Meski sebenarnya belum benar-benar mau membayar mahal untuk makanan mereka sendiri, saya rasa peluang tumbuhnya fine dining Indonesia di masa mendatang sangat potensial,” katanya.

Uniknya, menurutnya fine dining Indonesia saat ini masih diartikan dengan berbagai cara berbeda. Chef Will Meyrick yang berbasis di Bali misalnya, membuat konsep fine dining dengan mengawinkan metode memasak eropa dengan kuliner Indonesia. Salah satu menu andalannya adalah rawon dari daging sapi pilihan yang telah di-braise selama 48 jam.

“Will Meyrick adalah chef dari Australia yang menurut saya bisa mengartikan makanan Asia dengan sangat baik. Dia tidak mengubah rasa kuliner Indonesia menjadi sesuatu yang asing,” tuturnya.

Berbeda dengan Meyrick, chef dari Swiss Heinz von Holzen menurutnya punya pendekatan yang berbeda. Juru masak ini memilih untuk benar-benar mengikuti metode masak yang ada di Indonesia, tetapi mengganti bahan masakannya dengan bahan yang lebih berkualitas.

“Misalnya dia menggunakan daging sapi wagyu untuk membuat rendang. Jadi masih sangat beragam cara mendefinisikan fine dining Indonesia ini, perlu adanya usaha untuk mendefinisikan fine dining Indonesia, kita perlu mencapai konsensus soal itu,” tambahnya.

Harnaz optimis dengan perubahan tren, selera, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini, fine dining akan terus tumbuh di Tanah Air. “Saya pikir ke depan, masyarakat Indonesia tidak akan kembali mencari fine dining yang bergaya eropa, tetapi akan mencari fine dining yang punya konsep kedaerahan asli Indonesia yan unik. Saat ini baru permulaan,” katanya.

Senada, chef Chandra Yudasswara mengatakan bahwa peluang tumbuhnya restoran berkonsep fine dining sangat terbuka lebar. Namun, menurutnya pertumbuhannya tidak akan secepat restoral casual dining yang punya segmen pasar lebih luasdi Indonesia.

Sementara untuk konsep fine dining Indonesia sendiri chef Chandra punya cara pandang tersendiri. Menurutnya perpaduan perpaduan kuliner gaya Indonesia dan eropa adalah jawabannya. “Fine dining yang cocok di sini yang saya tau pasti lebih ke arah Indonesian flavour dengan presentasi unik  ala Eropa”

Tag : kuliner, restoran
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top