Bali Perlu Atraksi Wisata Baru untuk Pulihkan Tulamben

Bank Indonesia mendorong adanya pengembangan atraksi wisata baru di Tulamben seperti melalui festival perahu layar. Hal itu perlu dilakukan agar pariwisata daerah ini kembali bergeliat setelah terkena dampak aktivitas Gunung Agung.
Ni Putu Eka Wiratmini | 18 Februari 2018 13:50 WIB
Kondisi Gunung Agung di Bali, Sabtu (10/2/2018). - Dok. Badan Geologi Kementerian ESDM

Bisnis.com, DENPASAR -- Bank Indonesia mendorong adanya pengembangan atraksi wisata baru di Tulamben seperti melalui festival perahu layar. Hal itu  perlu dilakukan agar pariwisata daerah ini kembali bergeliat setelah terkena dampak aktivitas Gunung Agung.

Ketika Gunung Agung berstatus awas, Tulamben masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III atau berada sejauh 12 km dari Kawah Gunung Agung. Akibatnya, kawasan menjadi sepi pengunjung. Padahal, Tulamben merupakan kawasan wisata water sport seperti snorkeling maupun diving yang cukup diminati wisatawan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bali Causa Iman Karana mengatakan potensi wisata di Tulamben sangat besar, Namun lantaran terkena dampak aktivitas Gunung Agung, kunjungan wisata menurun bahkan tidak ada sama sekali. Saat ini Bank Indonesia berupaya agar pariwisata daerah ini semakin bergeliat.

Menurutnya, Tulamben memiliki potensi wisata yang sangat besar. Selain alam bawah laut yang indah, kawasan ini juga memiliki ship wreck yang menjadi atraksi memukau ketika melakukan penyelaman.

“Kalau masukan kita potensi banyak di sini, tapi juga bisa dikembangkan potensi baru seperti festival layar,” katanya saat berbincang dengan Bisnis, pekan lalu.

Causa mengakui, sejak aktivitas Gunung Agung meningkat dan menyebabkan penutupan Bandara Ngurah Rai, perekonomian Bali merugi sebanyak Rp200 miliar.

Kata dia, setelah Gunung Agung berstatus siaga sejak 10 Februari 2018, saatnya Bali untuk kembali mendorong kegiatan pariwisata, khususnya di Kawasan Tulamben yang kunjungan pada hari normal cukup ramai.

“Karena sekarang diturunkan status siaga, saatnya kita menghidupkan kembali wisata salah satu caranya kita adakan kegiatan di tempat terkena dampak seperti Tulamben,” sebutnya.

Perkembangan terbaru, sejak Februari 2018 okupansi hotel di kawasan Tulamben mulai normal dengan mencapai 40%. Pelaku wisata di Tulamben pun optimistis, okupansi akan meningkat menjadi 60% pada Maret 2018.

Tag : bali
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top