Sampah Plastik Merusak Pariwisata Indonesia

Masalah sampah plastik dinilai menjadi penghambat daya saing pariwisata Indonesia.
Annisa Sulistyo Rini | 09 Februari 2018 19:42 WIB
Turis mancanegara di Bali - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- Masalah sampah plastik dinilai menjadi penghambat daya saing pariwisata Indonesia.

Saras Dewi, Dosen Ilmu Filsafat Lingkungan Universitas Indonesia, mengatakan masalah sampah di Bali, yang menjadi salah satu tujuan pariwisata utama Indonesia, sangat mempengaruhi citra Pulau Dewata tersebut.

"Pariwisata nasional tidak akan kompetitif kalau ada masalah sampah, kemarin ada foto-foto pantai Bali saat libur Natal dan Tahun Baru yang dipenuhi sampah. Apa yang diuntungkan dari kondisi seperti itu?" katanya seusai Press Conference Kampanye Satu Pulau Satu Suara Stop Pencemaran Sampah Plastik di Laut, di Jakarta, Jumat (9/2/2018).

Menurutnya, perbandingan kondisi lingkungan di Bali dulu dengan sekarang sangat ekstrem. Seiring dengan peningkatan kunjungan wisatawan ke Bali, konsumsi dan sampah juga ikut naik. Secara tidak langsung, lanjutnya, usaha daur ulang sampah di Bali mendesak dilakukan.

Dia juga menuturkan sampah sudah mengancam kehidupan di Bali dan mencemari laut, sehingga berdampak buruk pada lingkungan hidup, baik pada manusia maupun makhluk hidup lainnya.

Suzy Hutomo, Aktivis Lingkungan Founder SustainableSuzy.com mengatakan setiap musim hujan pulau-pulau di Indonesia panen sampah plastik dari lautan. Bahkan, baru-baru ini Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Badung mendeklarasikan keadaan darurat sampah di sepanjang 6 kilometer garis pantai yang mencakup pantai populer seperti Jimbaran, Kuta, dan Seminyak.

"Hal ini bisa berpotensi menurunkan minat wisatawan yang akhirnya berdampak pada penurunan devisa dan sektor pariwisata," jelasnya.

Apalagi, saat ini Indonesia sedang gencar mengembangkan destinasi wisata berbasis alam (ecotourism), sehingga prinsip pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) sangat penting untuk selalu diterapkan.

Dia berpendapat lingkungan dan sumber daya alam yang terawat dan bebas sampah menjadi kunci utama agar menarik kembali minat wisatawan untuk datang ke Bali maupun pulau-pulau Indonesia yang terkenal dengan keindahan lautnya.

"Permasalahan sampah plastik di laut ini perlu diatasi dengan adanya kebijakan pengelolaan sampah khususnya pengurangan sampah dari darat," kata Suzy.

Adapun, salah satu gerakan yang dilakukan untuk mengurangi sampah plastik adalah Kampanye Satu Pulau Satu Suara. Kampanye ini merupakan gerakan sosialisasi dan edukasi yang membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan, serta usaha yang berkesinambungan dan dilakukan secara terus menerus.

Kampanye Satu Pulau Satu Suara (One Island One Voice) akan kembali menyelenggarakan aksi bersih bersih pulau pada 23 dan 24 Februari 2018 yang berpusat di Bali.

Melati Wijsen, Co Founder of Bye Bye Plastic Bags & Satu Pulau Satu Suara, mengatakan pada tahun ini pihaknya akan melakukan dialog dengan Kemenko Kemaritiman, KLHK, dan Bappenas mengenai penanganan sampah di laut dan pengolahan sampah secara umum. Kampanye Satu Pulau Satu Suara juga meminta kepada pemerintah agar menerbitkan kebijakan pengelolaan sampah, khususnya pengurangan sampah dari darat untuk mengurangi sampah plastik di laut.

Menurutnya, sampah laut merupakan masalah serius yang tengah dihadapi Indonesia yang disebut sebagai negara kedua terbesar di dunia yang berkontribusi pada sampah yang masuk ke laut. Sampah laut di Indonesia diperkiraan mencapai 1,3 juta ton per tahun.

"Permasalahan sampah plastik di laut ini merupakan penghambat Indonesia yang sedang berjuang meningkatkan daya saing," katanya.

Pemerintah Indonesia menargetkan akan kurangi sampah plastik di laut sampai 70% selama tujuh tahun mendatang. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut sektor rumah tangga merupakan penyumbang sampah terbesar yakni sekitar 48%, disusul pasar tradisional sebesar 24%, dan jalan 7%.

Tag : bali
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top