Menikmati Keindahan Hoi An Dalam Dua Jam

Kota Tua Hoi An merupakan destinasi wisata yang cukup populer di Vietnam, didukung oleh statusnya sebagai salah satu Unesco World Heritage Site.
Setyardi Widodo | 07 Februari 2018 09:17 WIB
Salah satu sudut Hoi An, Vietnam yang masuk dalam Unesco World Heritage Site. - Bisnis/Setyardi Widodo

Bisnis.com, HOI AN - Kota Tua Hoi An merupakan destinasi wisata yang cukup populer di Vietnam, didukung oleh statusnya sebagai salah satu Unesco World Heritage Site.

Lokasinya dekat dengan Da Nang, sebuah kota di bagian tengah negara itu. Saya mendapat kesempatan mengunjungi Hoi An di sela-sela mengikuti Criteo Executive Summit di Da Nang, awal Februari 2018.

Meski perjalanan darat dari Da Nang biasanya memakan waktu sekitar 40 menit, rombongan kami--satu mobil berisi beberapa wartawan dari sejumlah negara Asia--hanya perlu waktu 30 menit untuk sampai di Hoi An. Perjalanan sangat lancar, tidak ada kemacetan, nyaris tidak bertemu lampu merah.

Tempat penurunan di depan lokasi pembelian tiket pun tampak sepi. Saya lantas mengira lokasi wisata ini sepi dan tidak banyak yang berkunjung.

Tetapi, ternyata saya salah sangka. Makin masuk ke Hoi An, kondisinya makin padat. Apalagi di pusat utama wisatanya, padat bukan main dan berjalan pun sampai berdesak-desakan.

Hoi An adalah kota tua yang wisatanya terpusat di pinggir sungai. Kami tiba menjelang maghrib dan lampion yang berderet mulai menyala. Indah sekali.

Sepanjang jalan dan di lokasi wisata, banyak orang berjualan souvenir. Sayangnya, hampir semua yang dijual sama bentuk, desain, maupun modelnya. Repotnya lagi, semua harus tawar menawar sehingga perlu waktu lama untuk memilih, menawar, kemudian memutuskan membeli.

Di sisi lain sungai, ada deretan restoran. Ada puluhan restoran yang tampaknya semuanya padat pengunjung.

Rombongan kami hanya punya waktu sekitar dua jam di sana, termasuk untuk makan. Jadi, saya tidak sempat mengeksplorasi keindahan Hoi An lebih jauh. Namun, jelas sekali bahwa Hoi An menyimpan keindahan yang luar biasa.

Situs Wikitravel menyebut bahwa Hoi An dulu dikenal sebagai Faifo dan memiliki sejarah yang amat panjang, lebih dari 2.000 tahun. Wilayah ini dulunya merupakan pelabuhan utama Kerajaan Champa, yang mengendalikan perdagangan rempah-rempah strategis dengan Indonesia dari abad ke-7 sampai abad ke-10 Masehi. Hoi An juga merupakan pelabuhan internasional utama pada abad ke-16 dan abad ke-17 abad.

Lantaran interaksinya dengan wilayah lain sangat besar, pengaruh budaya asing masih dapat dilihat sampai saat ini. Budaya dan warisan terbesar berasal dari orang-orang Champa--yang kerajaannya terbentang dari Hue Selatan sampai Phan Thiet (Selatan Nha Trang)–berasal dari Jawa. Barangkali sebagian dari kita juga masih ingat mengenai cerita hubungan Putri Champa dengan Kerajaan Majapahit di masa lalu.

Pusat politik kerajaan Champa adalah Tra Kieu, sedangkan ibu kota komersialnya berada di Hoi An dan pusat spiritualnya di My Son.

Orang-orang Champa semula beragama Hindu. Namun, pada abad ke-10 masuklah pengaruh pedagang Arab ke Hoi An dan sebagian warganya konversi menjadi Muslim.

Sumber pengaruh terbesar kedua setelah Jawa adalah dari orang-orang China, termasuk dari para pedagangnya.

Adapun sumber pengaruh budaya dan warisan terakhir berasal dari Bahasa Vietnam. Ini relatif baru dan terjadi setelah Champa kehilangan kendali atas wilayah ini.

Akan tetapi, saya tidak melihat peninggalan sejarah yang disebut sudah ribuan tahun itu. Sejumlah peninggalan era kolonial memang masih ada dan dipelihara, karena Vietnam pernah dikuasai Prancis pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Bagaimanapun, bagi wisatawan yang berkunjung ke Da Nang, Hoi An adalah tempat yang tidak layak dilewatkan.

Tag : vietnam
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top