Cerita Bos Sriwijaya Air Sulap Pesawat Boeing 737 400 Jadi Restoran

Restoran Taman Santap Rumah Kayu di Ancol menawarkan konsep yang cukup unik yaitu makan di pesawat.
Dika Irawan | 24 November 2017 06:56 WIB
Restoran Taman Santap Rumah Kayu di Ancol menawarkan konsep yang cukup unik yaitu makan di pesawat. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Restoran Taman Santap Rumah Kayu di Ancol menawarkan konsep yang cukup unik yaitu makan di pesawat.

Untuk saat ini di Jakarta, baru restoran itu yang menyajikan konsep tersebut. Kehadiran pesawat di restoran ini ternyata karena campur tangan salah satu pemiliknya yang juga pemilik maskapai Sriwijaya Air.

Meski begitu, restoran tersebut mengutamakan menu-menu khas Indonesia. Berikut  petikan wawancara Bisnis dengan Sales and Marketing Restoran Taman Santap Rumah Kayu Ancol Ricardo Siregar.

Bagaimana ide awal mendirikan restoran pesawat ini? Apa yang menginspirasi? Apa pula tujuannya?

Kehadiran pesawat ini tak lepas karena salah satu pemilik restoran ini adalah pemilik Sriwijaya Air. CEO Sriwijaya Chandra Lie dan Founder Restoran Taman Santap Rumah Kayu Lampung & Gading Serpong Susanto Wijaya itu joint venture.  Namun, secara managemen kami terpisah dengan PT Sriwijaya Air Group dan Restoran Taman Santap Rumah Kayu Lampung & Gading Serpong

Kami berbisnis kuliner sudah lama sejak 11 tahun lalu di Lampung, Gading Serpong hingga Ancol ini. Pimpinan kami berinisiatif untuk menghadirkan konsep restoran di pesawat ini. Tujuan utamanya tetap restoran kami ingin mempopulerkan masakan-masakan Indonesia dan juga konsep go green.

Bagaimana mendapatkan alat transportasinya? Dimana membelinya?

Pesawat ini dari Sriwijaya Air, tipe Boeing 737 400 series. Proses pembuatannya itu dipotong terlebih dahulu dulunya jadi tiga bagian. Baling-baling dilepas, mesin dilepas. Dibawa dari Cengkareng ke Ancol. Kami rakit ulang di sini [Ancol].

Berapa biayanya/investasinya?

Untuk biaya pesawatnya Rp3 miliar. Secara keseluruhan biaya restoran ini Rp 12 miliar.

Siapa segmen yang diincar?

Malah kami mengincar kelas menengah bawah dan keluarga. Lantaran di Ancol jadi kesannya mahal-mahal. Namun, target kami adalah kelas menengah bawah dan keluarga.

Bagaimana animonya?

Dari awal buka bagus sekali, karena konsep baru semoga jadi ikon baru di Ancol. Sebab, hal ini pertama kali di Jakarta.

Apa ada konsep khusus untuk menu-menu yang disajikan?

Yang pasti kami kenalkan ke pengunjung Ancol adalah menu menu masakan Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Bagaimana bersaing dengan restoran-restoran konvensional?

Kalau di Ancol banyak kompetitor, yang luas restorannya kurang lebih sama dengan kami. Namun, masing-masing punya segmen pasarnya.

Bagaimana mendapatkan perizinan  untuk mendesain alat transportasinya sebagai bisnis kafe/restoran?

Ada izin semuanya. Semua sudah kami siapkan jauh sebelumnya.  Kami izinnya itu restoran ke PHRI dengan mencantumkan konsep pesawat.

Sebagai tambahan untuk perizinan selain PHRI [Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia] kami pun ikut standarisasi kawasan wisata Taman Impian Jaya Ancol seperti IPAL [Instalasi Pengolahan Air Limbah] ,AMDAL [Analisis Dampak Lingkungan] ,TDUP [Tanda Daftar Usaha Pariwisata], SIUP [Surat Izin Usaha Perdagangan] ,DIPARDA dan lain-lainnya. 

Bagaimana prospek bisnis ini ke depannya? Inovasi apa yang dibuat untuk mempertahankan pelanggan?

Kalau untuk kami mengusung masakan Indonesia. Konsep pesawatnya hanya akan baru Ancol saja yang kami pakai. Kami buka di Palembang, tetapi tidak ada pesawatnya, tetapi go green.

Bagaimana dengan aspek keselamatan kepada pelanggan jika konsumen menikmati makanan di dalam moda transportasi tersebut?

Kami sudah siapkan semua terkait aspek keselamatan pengunjung. Kami rutin melakukan pengecekan tiap bulannya. Jika ada komponen yang harus diganti, kami segera ganti.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sriwijaya air, restoran

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top