TREN BISNIS KULINER: Menyulap Pesawat Menjadi Restoran

Persaingan bisnis kuliner di Indonesia kian sengit. Oleh karena itu, para pelaku lini bisnis ini semakin berlomba-lomba putar otak untuk menyuguhkan sesuatu yang berbeda; tidak hanya dari menu-menu sajiannya tetapi juga konsep desain interior dari restorannya. Beberapa tahun belakangan, mulai dijumpai tren baru di dunia bisnis kuliner Tanah Air. Para pengusaha kuliner mencoba menyajikan pengalaman berbeda kepada konsumen dengan mendaur ulang sarana transportasi publik menjadi restoran.
Wike Dita Herlinda | 22 November 2017 18:27 WIB
Ilustrasi Steak 21 - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Persaingan bisnis kuliner di Indonesia kian sengit. Oleh karena itu, para pelaku di lini bisnis ini semakin berlomba-lomba dan memutar otak untuk menyuguhkan sesuatu yang berbeda; tidak hanya dari menu-menu sajiannya, tetapi juga konsep desain interior dari restorannya.

Beberapa tahun belakangan, mulai dijumpai tren baru di dunia bisnis kuliner di Tanah Air. Para pengusaha kuliner mencoba menyajikan pengalaman berbeda kepada konsumen dengan mendaur ulang sarana transportasi publik menjadi restoran.

Berbagai ide kreatif dituangkan untuk menyulap alat transportasi (mulai dari pesawat terbang, bus, hingga gerbong kereta) menjadi restoran kekinian yang sangat cozy yang menjajakan berbagai pilihan menu khas.

Meski belum banyak, fenomena mendaur ulang sarana transportasi menjadi restoran mulai jamak dijumpai di kota-kota besar Indonesia; mulai dari Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bandung, Yogyakarta, Palembang, Gianyar, dan Surabaya.

Beberapa pebisnis menggunakan pesawat asli bekas maskapai untuk membuat restoran bernuansa aerial, seperti Keramas Aero Park di Gianyar Bali, Taman Santap Rumah Kayu di Ancol Jakarta, The Captain Urban Lounge di Yogyakarta, dan Steak 21 & Red Suki di Karawang.

Ada juga pebisnis yang menggunakan bus sungguhan untuk mendirikan restoran atau kafe berjalan. Misalnya saja Kafe Bus Kodam IV Diponegoro di Semarang, Street Gourmet di Bandung, Beus Café di Bandung, dan Bus Café di Probolinggo.

Lantas, bagaimana sebenarnya prospek bisnis restoran dari daur ulang kendaraan umum tersebut? Apakah ini hanya menjadi gimmick pemasaran atau ada manfaat lebih yang bisa didapatkan konsumen? Bagaimana pula proses mendaur ulang alat transportasi untuk bisnis kuliner?

Berikut penuturan Lilis Musliawati, Manager Steak 21:

Bagaimana ide awal mendirikan restoran dari daur ulang alat transportasi? Apa yang menginspirasi? Apa pula tujuannya?

Untuk konsepnya, kami ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda. Kami ingin menyajikan sensasi makan di dalam kabin. Kenapa pesawat yang dipilih? Karena memang di daerah Karawang masih ada kalangan masyarakat yang belum pernah naik pesawat.

Jadi, meskipun mereka belum pernah naik pesawat, kami mencoba menghadirkan sensasi naik pesawat melalui restoran ini. Selain itu, karena kami adalah restoran keluarga, kami juga memiliki misi memberikan edukasi.

Orang tua bisa mengajak anak-anaknya untuk belajar lebih banyak tentang pesawat dan dunia penerbangan. Biasanya, anak-anak yang susah makan akan lebih lahap jika makan di tengah suasana yang menyenangkan.

Di restoran kami, semua kru menggunakan seragam seperti awak kabin. Pegawai pria menggunakan seragam ala pilot, sedangkan yang perempuan menggunakan pakaian ala pramugari dengan rok belahan tinggi.

Peraturan untuk makan di restoran kami juga dibuat semirip mungkin dengan di bandara. Setiap pengunjung diberi boarding pass kalau mau makan di dalam kabin.

Jadi, sebelum masuk ke restoran, mereka masuk ke ruang tunggu atau boarding room di bawah dan memesan menu. Lalu, mereka akan mendapatkan boarding pass untuk menentukan tempat duduk di dalam kabin.

Setelah itu, mereka akan dipanggil lengkap dengan musik panggilan seperti di bandara. Ketika sudah di dalam kabin, mereka akan disambut oleh tim kami. Pramusaji akan mengulangi pesanan mereka, dan memberi kode untuk menekan tombol ‘lampu baca’di atas kursi kalau-kalau mereka membutuhkan bantuan.

Selesai makan, mereka akan diarahkan keluar melalui pintu yang berbeda dari saat mereka masih. Jadi, saat keluar mereka akan merasa seperti benar-benar baru landing.

Kapan beroperasi? Siapa segmen yang diincar?

Kami baru beroperasi pada Januari 2017 dengan kapasitas 68 orang per kabin [17 meja x 4 konsumen]. Segmen pasar yang diincar adalah keluarga, sebagaimana outlet-outlet Steak 21 kami yang lain.

Bagaimana animonya?

Animonya sangat bagus. Restoran kami menjadi trending di media sosial, khususnya Instagram. Bahkan, kamu kaget juga karena banyak orang yang mengasosiasikan restoran pesawat kami sebagai ikonnya Karawang.

Pengunjungnya pun tidak hanya dari kalangan keluarga. Banyak anak muda, anak sekolahan, anak kuliahan, bapak-bapak kantoran, ibu-ibu arisan hingga selebritas yang datang dan makan di restoran kami.

Apa ada konsep khusus untuk menu-menu yang disajikan?

Untuk menu sama saja dengan di outlet Steak 21 yang lain, hanya tempatnya saja yang memiliki konsep berbeda.

Bagaimana mendapatkan alat transportasinya? Dimana membelinya?

Kami membeli dua Boeing 737 dari salah satu maskapai. Pesawatnya adalah pesawat yang sudah tidak digunakan lagi. Rencananya, kami akan membeli pesawat yang lebih besar lagi, Boeing 747-400 untuk membangun satu lagi cabang di Bekasi.

Bagaimana proses renovasinya?

Setelah pesawat datang, kami tidak langsung merenovasinya menjadi restoran. Kami sengaja mendiamkan dulu pesawat selama satu tahun, khususnya untuk mengosongkan avtur berikut aromanya. Gunanya untuk menghindari kebakaran saat proses pengelasan.

Saat pesawat baru datang, banyak warga yang salah sangka. Bahkan, sempat muncul pemberitaan ada pesawat yang terdampar di Karawang.

Setelah avtur benar-benar kosong, baru kami membangun tiang-tiang pancang untuk membuat dapur, musholla, dan toilet. Kalau proses pengerjaannya sendiri tidak sampai satu tahun. Yang paling lama memang proses mengosongkan bekas avturnya.

Berapa biayanya/investasinya?

Saya tidak bisa bilang.

Bagaimana bersaing dengan restoran-restoran konvensional?

Kami terus memberikan yang terbaik, khususnya dalam hal pelayanan. Kami tidak henti-hentinya melakukan perbaikan. Sebab, seunik apapun tempatnya, tanpa pelayanan yang baik akan sia-sia. Apalagi, saat ini semakin banyak restoran dengan konsep-konsep yang inovatif.

Kami juga selalu mengedepankan keramahtamahan karena kami adalah restoran keluarga. Kami selalu menganggap tamu adalah keluarga, jadi kami menggunakan pendekatan personal kepada konsumen agar mereka merasa nyaman.

Kru kami pun ditargetkan untuk mengenal setiap konsumen yang datang, apalagi kalau mereka adalah pelanggan yang sudah lebih dari sekali datang.

Bagaimana mendapatkan perizinannya?

Tentunya ada banyak izin khusus yang harus dipenuh. Namun, kami sudah melengkapi semua. Mulai dari surat jalan saat pesawat didatangkan, surat-surat dari pesawatnya sendiri, hingga surat izin usahanya.

Bagaimana prospek bisnis ini ke depannya? Inovasi apa yang dibuat untuk mempertahankan pelanggan?

Ada beberapa wacana yang sedang kami kerjakan untuk restoran pesawat ini agar orang datang tidak sekadar penasaran, sudah tahu, lalu sudah tidak mau kembali lagi. Kami sedang dalam proses pengadaan merchandize untuk menunjang promosi.

Selain itu, kami juga melakukan joint promotion dengan beberapa pihak perhotelan, perusahaan, dan pemda setempat agar restoran ini dikenal sebagai tujuan wisata di Karawang.

Ke depan, kami optimistis restoran pesawat ini akan prospektif. Meskipun daya beli masyarakat saat ini sedang turun, dan banyak jaringan restoran yang tutup. Kami yakin karena animo terhadap restoran kami tidak pernah surut.

Soal harga, kami menawarkan harga makanan/minuman yang bersaing dan cukup kompetitif. Kami selalu menyebar kuesioner untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan.

Tag : restoran
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top