Mengangkat Citra Masakan Nusantara Lewat Food Plating

Tidak dapat dipungkiri, Indonesia merupakan salah satu negara dengan ragam kuliner terkaya di dunia. Ada ribuan makanan khas yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dan mengandang kekayaan bahan, tata cara memasak, hingga latar belakang budaya dibalik hidangan tersebut.
Wike Dita Herlinda | 20 November 2017 15:19 WIB
Festival Kuliner Kampoeng Tempp Doeloe - dokumentasi

Bisnis.com, JAKARTA - Tidak dapat dipungkiri, Indonesia merupakan salah satu negara dengan ragam kuliner terkaya di dunia. Ada ribuan makanan khas yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dan mengandang kekayaan bahan, tata cara memasak, hingga latar belakang budaya dibalik hidangan tersebut.

Sayangnya, kuliner khas Nusantara seringkali tidak dipresentasikan dengan optimal sesuai dengan kaidah-kaidah kuliner yang diakui secara internasional. Tidak banyak yang menyadari bahwa tata penyajian makanan memberi pengaruh besar dalam promosi kuliner ke tingkat global.

Pakar kuliner dan aktivis makanan Nusantara William Wongso mengatakan kelezatan dan aroma makanan memang hal utama dalam sebuah nilai kuliner. Namun, penataan yang optimal akan lebih mengerek apresiasi konsumen terhadap sebuah hidangan.

“Itulah mengapa di dalam dunia memasak dikenal yang namanya seni food plating atau teknik penataan masakan dan hidangan, yang merupakan elemen yang sangat perlu diperhatikan tetapi kerap kali diabaikan,” ujarnya di sela-sela Zen Food Plating Competition 2017 belum lama ini.

William, yang juga penggagas organisasi Aku Cinta Masakan Indonesia (ACMI), berpendapat food plating harus memperhatikan posisi dan komposisi makanan agar nilai seni dan cita rasa yang tinggi dari sajian tersebut dapat terangkat.

Selama ini, lanjutnya, food plating lebih banyak dilakukan oleh para chef profesional atau chef selebritas yang memang sudah terlatih. Padahal, teknik penyajian hidangan sebenarnya dapat pula dipelajari dan diterapkan untuk masakan sehari-hari di rumah.

“Meningkatnya kesadaran artistik yang muncul dari interaksi intensif masyarakat Indonesia dewasa ini melalui penggunaan berbagai media sosial, membuat penyajian hidangan secara optimal mulai banyak dilakukan oleh masyarakat awam,” jelasnya.

William mengakui memang tidak semua konsep makanan tradisional seusai dengan standar food plating internasional. Bagaimanapun, dia berpendapat tata penyajian yang baik untuk makanan tradisional harus tetap dikembangkan untuk menambah nilai estetika jika Indonesia memang serius ingin memperkenalkan khasanah kulinernya ke mata dunia.

“Food plating ini memang sebenarnya hanya formalitas saja. Namun, kalau tidak dipelajari, kita akan tertinggal. Bayangkan kalau ada tamu negara, lalu kita menyajikan nasi tumpeng dengan penataan yang baik, maka citra dari tumpeng akan terangkat sebagai ciri khas Indonesia.”

PENUHI KAIDAH

William menjelaskan setidaknya ada sepuluh kaidah dalam food plating yang harus diperhatikan ketika menyajikan makanan tradisional agar citra dan estetikanya dapat terangkat.

Pertama, perhatikan bahan utama yang digunakan. Dalam penataan sajian, hidangan utama harus menjadi menu yang menghabiskan paling banyak ruang di atas piring. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian calon penikmat makanan tersebut.

Kedua, warna. Saat melakukan penataan, pilihlah warna makanan yang saling melengkapi atau pilihlah satu menu dengan warna cerah yang bisa menjadi focal point di atas piring saji atau tempat penyajian lainnya.

Ketiga, bentuk. Ada baiknya kita membentuk makanan-makanan yang ada di atas wadah saji untuk menciptakan tingkat dan struktur. Keempat, tekstur. Beraneka tekstur dari setiap unsur makanan yang disajikan harus terlihat di atas wadah saji.

Kelima, garnis. Sebaiknya pilihlah garnis yang dapat dimakan dengan warna dan tekstur kuat. Keenam, kontras. Dalam penyajian, sebaiknya tempatkanlah bentuk dan warna yang kontras secara berdekatan untuk menambah daya tarik visual.

Ketujuh, seimbang. Perhatikanlah keseimbangan proporsi dan komposisi makanan dalam wadah saji. Jangan menyajikan hidangan dengan penataan yang ‘berat sebelah’. Kedepalan, sederhana. Jaga kombinasi makanan agar tidak terlihat terlalu padat dan penuh di piring.

Kesembilan, saus. Saus dapat ditempatkan di bawah makanan protein utama atau dikreasikan dengan membuat titik saus di sekitar piring atau wadah saji untuk menambah daya tarik visual. Kesepuluh, wadah. Pilih wadah dengan ukuran dan susunan yang sesuai untuk hidangan.

Managing Director Indo Porcelain, Vivi Anggara, menyarankan untuk memilih piranti saji dengan ragam desain dan corak yang artistik, sehingga Anda dapat terinspirasi untuk menyajikan masakan dengan sebaik-baiknya.

“Kami terus menghadirkan piranti dengan desain yang artistik dan motif yang semakin beragam agar ibu-ibu di rumah dan para chef profesional tidak saja memikirkan bagaimana menghadirkan masakan yang lezat, tetapi juga menyadari pentingnya seni penyajian hidangan,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fast food indonesia

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top