Tahun Ini, Upacara Adat Seren Taun Ciptagelar Digelar 15-17 September

Bagi Anda penikmat wisata budaya, rasanya wajib menikmati pengalaman Upacara Seren Taun Ciptagelar yang diadakan oleh Warga Kasepuhan Ciptagelar Kesatuan Adat Banten Kidul. Tahun ini, ritual tersebut akan diselenggarakan pada 15-17 September 2017.
Deandra Syarizka | 26 Agustus 2017 11:59 WIB
Upacara Seren Taun Ciptagelar - Budaya Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA -- Bagi Anda penikmat wisata budaya, rasanya wajib menikmati pengalaman Upacara Seren Taun Ciptagelar yang diadakan oleh Warga Kasepuhan Ciptagelar Kesatuan Adat Banten Kidul. Tahun ini, ritual tersebut akan diselenggarakan pada 15-17 September 2017.

Hal tersebut diumumkan oleh Yoyogasmana, salah seorang warga Kasepuhan Ciptagelar melalui akun instagramnya @yoyogasmana_ciptagelar. Pengumuman resmi tersebut dibuat untuk memudahkan turis yang akan berkunjung ke Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tempat upacara Seren Taun digelar.

“Seren Taun adalah pesta panen tahunan kasepuhan,” ujarnya, seperti dikutip, Sabtu (26/08).

Secara harfiah, kata “seren” berarti menyerahkan, sedangkan taun berarti tahun. Dengan demikian, upacara seren taun berarti upacara penyerahan sedekah hasil panen padi selama setahun sebagai ungkapan syukur, sekaligus upaya memohon berkah kepada Tuhan YME agar hasil panen tahun depan lebih melimpah.

Dalam upacara Seren Taun, wisatawan dapat menyaksikan serangkaian upacara adat yang sangat meriah di Ciptagelar. Wisatawan pun tak akan dibiarkan kelaparan, mengingat upacara ini merupakan simbol ketahanan pangan Ciptagelar. Beragam makanan khas Ciptagelar akan disediakan secara swadaya oleh warga bagi setiap tamu yang berkunjung.

Sebagai warga adat agraris, warga Kasepuhan Ciptagelar sangat bergantung pada budidaya padi yang mengutamakan tradisi leluhur. Sistem penanaman padi menggunakan sistem lahan kering atau huma maupun lahan basah atau persawahan, yang telah diterapkan secara turun-temurun.

Warga pun hanya menanam padi sekali setiap tahunnya. Hal tersebut dilakukan karena kepercayaan warga yang meyakini bahwa alam pun perlu beristirahat, sehingga lahan dapat kembali subur untuk ditanam. Bagi warga Ciptagelar, ini adalah prinsip keseimbangan dalam mengelola sumber daya alamnya.

Mereka juga sangat menghormati padi, yang diyakini sebagai wujud seorang dewi yaitu Nyi Pohaci Sanghyang Asri. Penghormatan warga atas hasil panen padi diwujudkan dengan adanya sejumlah pantangan, seperti larangan memperjualbelikan padi, apalagi membuang atau menyisakan padi atau nasi ketika makan. Dengan prinsip ini, kebutuhan pangan Warga Ciptagelar selalu terpenuhi.

 

Tag : wisata budaya
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top