Ingkung & Cara Warga Kalakijo Memajukan Desanya

Mengusung slogan Gotong Royong Majukan Desa Wisata, warga Kalakijo bersama-sama membangun warung makan dengan menu tradisional Jawa
Tim Jelajah Jawa-Bali 2017 | 29 Juni 2017 22:49 WIB

Bisnis.com, BANTUL — Pondok sederhana dibalut dengan papan banner menjadi pandangan biasa yang ditemui di Desa Kalakijo, Bantul, Yogyakarta. Belasan warung makan ingkung ayam, menjadi mata pencarian utama penduduk sekitar.

Mengusung slogan Gotong Royong Majukan Desa Wisata, warga Kalakijo bersama-sama membangun warung makan dengan menu tradisional Jawa ini.

Berjarak 17 kilometer dari pusat kota Jogja, tepatnya setelah Lembaga Pemasyarakatan Pajangan. Desa wisata KalakIjo berada di kanan jalan kalau dari arah utara atau dari LP Pajangan. Lokasi yang relatif mudah ditemui, terlebih dengan bantuan peta yang ada di gawai Anda.

Salah satu rumah makan yang hadir dari penduduk Desa Kalakijo adalah Ingkung Kuali. Warung yang sudah membuka tiga cabang ini, menyajikan menu ingkung original dan goreng.

Yulia, pengelola Ingkung Kuali cabang ketiga, menceritakan hadirnya warung makan ini merupakan usaha bersama antarwarga. Sistem bagi hasil diterapkan, dengan memberikan persentase keuntungan untuk desa.

Menurutnya, untuk mengelola Ingkung Kuali, tetap menggunakan struktur organisasi. Hanya saja, pimpinan tertinggi tetap wajib melaksanakan musyawarah dalam mengambil keputusan.

Ingkung Kuali pertama dan ketiga ada di Kalakijo, sementara itu yang kedua ada di daerah Taman Siswa, Jogja.

"Nah kalo yang cabang Taman Siswa itu bagi hasil juga, tapi yang mengelola bukan warga desa ini. Yang ada di sini [Kalakijo] bekerja bareng untuk buat warung," tuturnya sembari menghitung total pembayaran, Kamis (29/6/2017).

Dalam sehari, Ingkung Kuali 1 dan 3 menyiapkan 140 ekor ayam untuk melayani konsumen. Bahkan, warung yang memiliki akun instagram @ingkungkualigeer ini, siap melayani berapapun pesanan ingkung setiap harinya.

"Kalau pas hari raya agak susah. Mencari ayamnya juga kadang susah," katanya.

Sementara itu, kepala dapur Ingkung Kuali cabang 3, Pairah mengatakan setiap kali pengukusan, satu kuali dari tanah liat dapat menampung 8-9 ekor. Proses pengukusannya memakan waktu 60 menit, dengan pemanasan menggunakan kayu bakar.

"Hari ramai seperti ini bisa menyajikan 40 ingkung ayam. Kami bisa cari ayam lagi, tapu kalau tidak terkejar, biasanya ya sudah tutup," tuturnya sembari meracik menu untuk pelanggan.

Dia juga menceritakan menu ingkung sudah menjadi menu favorit dalam kurun dua tahun terakhir. Harga sepaket ingkung senilai Rp130.000, sudah lengkap dengan sebakul nasi dan lalapan.

Berdasarkan situs desawisatakalakijo@blogspot.co.id, penduduk desa ini berjumlah 860 orang atau terdiri dari 280 keluarga. Pedusunan Kalakijo masih menjaga dan melestarikan nuansa kehidupan pedesaannya yang masih kental.

Selain mengolah sajian kuliner, desa wisata ini juga mengembangkan potensi, anyaman, lesung, pengrajin batik dan lainnya.

Tim Peliput: Agne Yasa, David Eka Issetiabudi, Feri Kristianto, Yanita Petriella.

 

Sumber : TIM JELAJAH

Tag : kuliner, yogyakarta
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top