Jangan Pulang Sebelum Menikmati Lezatnya Ingkung di Sepanjang Pajangan

Berjarak sekitar 17 kilometer dari pusat Kota Jogja, pemburu kuliner bersedia blusukan untuk menikmati nikmatnya ingkung. Ingkung merupakan makanan tradisional berbahan dasar ayam.
Tim Jelajah Jawa-Bali 2017 | 29 Juni 2017 19:36 WIB
Sajian Ingkung, makanan tradisional di Bantul, Yogyakarta - Bisnis/Agne Yasa

Bisnis.com, BANTUL — Berjarak sekitar 17 kilometer dari pusat Kota Jogja, pemburu kuliner bersedia blusukan untuk menikmati nikmatnya ingkung. Ingkung merupakan makanan tradisional berbahan dasar ayam.

Dulu, ingkung sering dipakai untuk acara-acara syukuran seperti Agustusan maupun acara-acara tradisi lainnya.

Rumah makan dengan menu ingkung terdapat di Desa Kalikijo, Guwosari, Pajangan, Bantul. Sepanjang kawasan itu, menjamur rumah makan yang menyajikan masakan ayam kampung yang dikukus dan disajikan dengan kuah semacam opor.

Salah satu warung penjual masakan ingkung adalah Ingkung Kuali. Warung yang sudah membuka tiga cabang ini, menyajikan menu ingkung original dan goreng. Harga sepaket ingkung senilai Rp130.000, sudah lengkap dengan sebakul nasi dan lalapan.

Tim Bisnis Indonesia Liputan Lebaran Jelajah Jawa Bali (LLJJB) 2017, kepincut untuk menikmati sajian tradisional Jawa ini.

Dengan panduan peta dari Google, kami mengarahkan tujuan ke Ingkung Kuali, yang berada di Desa Kalikijo. Lokasinya tidak di tepi jalan Pajangan, kami harus masuk ke jalan desa yang kurang lebih 300 meter.

"Maaf, ini sudah memesan atau baru mau beli?" tutur petugas parkir Ingkung Kuali.

Ternyata, di hari libur Lebaran seperti sekarang ini, ingkung lebih cepat ludes. Kami pun balik badan, karena di restoran utama ini, makanan hanya tersedia bagi yang sudah memesan sehari sebelumnya.

Untung, kami mendapatkan cabang ketiga dari Ingkung Kuali.

Beruntung, karena kami merupakan pelanggan terakhir, karena ingkung yang tersisa tinggal satu porsi. Penasaran dengan proses masaknya, kami pun mengintip ke dapur Ingkung Kuali.

Bu Pairah, salah satu pengelola, mengatakan setiap kali pengukusan, satu kuali dari tanah liat dapat menampung 8-9 ekor. Proses pengukusannya memakan waktu 60 menit, dengan pemanasan menggunakan kayu bakar.

"Hari ramai seperti ini bisa menyajikan 40 ingkung ayam. Yang susah sekarang cari ayamnya, karena permintaan naik," tuturnya sembari meracik menu untuk pelanggan.

Dia juga menceritakan menu ingkung sudah menjadi menu favorit dalam kurun dua tahun terakhir.

Wajar jika menjadi daftar baru yang wajib dinikmati selain gudeg, bakmi jawa, lotek dan lainnya. Selain itu, ingkung ayam ini merupakan sajian wajib yang harus disediakan pada acara penting dan sakral seperti kenduri.

Akhirnya inkung kami datang, lekas cuci tangan, karena seperti kata Pak Bondan, Mak Nyuss.

Tim peliput: Agne Yasa, David Eka Issetiabudi, Feri Kristianto, Yanita Petriella

 

 

Sumber : TIM JELAJAH

Tag : kuliner, yogyakarta
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top