Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mudik ke Surabaya, Yuk Cicipi Lontong Balap!

Jika Anda kebetulan sedang melangsungkan kegiatan mudik atau balik dari kampung halaman dan melintasi Kota Surabaya, jangan sampai lupa untuk mampir dan mencicipi sajian lontong balap.
Tim Jelajah Jawa-Bali 2017
Tim Jelajah Jawa-Bali 2017 - Bisnis.com 28 Juni 2017  |  06:59 WIB
Mudik ke Surabaya, Yuk Cicipi Lontong Balap!
lontong balap Pak Gendut Surabaya - Bisnis - Wike D. Herlinda
Bagikan

Bisnis.com, SURABAYA - Jika Anda kebetulan sedang melangsungkan kegiatan mudik atau balik dari kampung halaman dan melintasi Kota Surabaya, jangan sampai lupa untuk mampir dan mencicipi sajian lontong balap.

Ada banyak penjaja lontong balap di Kota Pahlawan. Namun, salah satu yang menjadi rekomendasi tim Bisnis Indonesia Liputan Lebaran: Jelajah Jawa-Bali (LL-JJB) 2017 adalah warung Lontong Balap Pak Gendut yang berlokasi di seberang kantor PDAM Surabaya di Jalan Prof. Dr. Moestopo.

Lontong Balap Pak Gendut begitu digemari oleh warga Surabaya sejak 1958. Makanan ini sebenarnya cukup sederhana; yaitu berupa sepiring sayur tauge, irisan tahu, dan lontong yang disiram denga kuah khas berbumbu petis, bawang putih, cabai, dan taburan bawang merah goreng.

Sebagai pelengkap, lontong balap biasanya disajikan dengan sate kerang bumbu petis yang pedas serta lento. Lento untuk lontong balap berbeda dengan lento yang digunakan pada menu tahu campur.

Lento untuk lontong balap dibuat dari campuran kacang kedelai dan tepung yang diberi bumbu gurih-pedas, dibentuk bola-bola, lantas digoreng hingga berwarna coklat tua.

Tidak hanya cita rasa dan kelezatannya saja yang membuat makanan ini begitu terkenal. Cerita dibalik lontong balap pun begitu unik.

Konon, pada zaman dahulu para penjual makanan ini membawa dagangannya di dalam semacam kuali atau gentong berukuran besar yang dipikul. Saking beratnya beban yang dipikul, mereka terpaksa harus berjalan cepat-cepat agar tidak terasa sakit di pundah.

Di antara para pedagang yang berjalan cepat-cepat ini lantas timbul semacam persaingan untuk saling berpacu atau adu cepat sambil memikul gentongnya. Mereka balapan. Dari sanalah kemudian makanan itu dikenal sebagai lontong balap.

Tim Peliput:

Wike D. Herlinda, Hadijah Alaydrus, Ashari Purwo, Gemal Abdel Nasser

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kuliner lontong

Sumber : Tim Jelajah

Editor : Riendy Astria
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top