Bush Tucker, Kuliner Eksotis Aborigin yang Lama Terpendam

Jauh sebelum bangsa Eropa tiba di Australia, benua tersebut sudah memiliki budaya kuliner yang sangat mengakar di kalangan masyarakat Aborigin selama ribuan tahun.
Wike Dita Herlinda | 23 April 2017 07:56 WIB
Buah lokal Australia - abc.net.au/Oliver Strewe/Lonely Planet

Bisnis.com, JAKARTA -- Saat mendengar kata Australia’, mayoritas orang mengasosiasikannya dengan ikon-ikon seperti kanguru, koala, atau gedung opera Sydney. Hampir tak ada yang mengafiliasikannya dengan makanan tertentu. Lalu, muncul pertanyaan, ‘Apa memang Australia punya kuliner khas?’

Tak banyak masyarakat luar Australia yang akrab dengan khasanah kuliner asli Down Under. Ketika ditanya, ‘Apa makanan khas Australia?’; tidak jarang orang asing langsung menjawab ‘Vegemite!’ Padahal, Negeri Kanguru menyimpan harta kuliner eksotis yang tiada duanya.

Jauh sebelum bangsa Eropa tiba di Australia, benua tersebut sudah memiliki budaya kuliner yang sangat mengakar di kalangan masyarakat Aborigin selama ribuan tahun. Namun, lebih dari dua abad terakhir, khasanah kuliner pribumi itu seolah tenggelam ditelan bumi.

Makanan khas Aborigin/australian.com

Budaya kuliner native Australia tersebut dikenal juga dengan istilah bush tucker. Sebenarnya, bush tucker merupakan bahan-bahan pangan dan bumbu-bumbu asli Australia yang sudah digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat Aborigin Australia.

Terdapat lebih dari 5.000 jenis menu makanan pribumi Australia, sekitar 20% di antaranya menggunakan bahan-bahan flora dan fauna endemi yang sudah berabad-abad menjadi tradisi kaum Aborigin.

Berbeda dengan kebanyakan makanan OZ bergaya barat yang ditawarkan di restoran-restoran umum; kuliner bush tucker jauh lebih unik, otentik, dan inovatif. Banyak dari makanan bush tucker yang diolah dari sumber-sumber alam yang tidak biasa.

Misalnya saja, steak daging kanguru, daging buaya asap alias finger lime, atau bahan-bahan eksotis yang didapat dari perut semut madu, larva witchetty grub, kadal monitor goanna, dan nektar bunga bottlebrush.

kuliner bush tucker jauh lebih unik, otentik, dan inovatif. Misalnya steak daging kanguru, daging buaya asap alias finger lime, atau bahan-bahan eksotis yang didapat dari perut semut madu, larva witchetty grub, kadal monitor goanna, dan nektar bunga bottlebrush.

Meskipun banyak tumbuhan dan hewan asli Australia yang berbahaya jika disantap mentah-mentah, ada beragam teknik pengolahan ala bush tucker yang bisa menyulap bahan-bahan tersebut menjadi aman dan layak konsumsi.

Contohnya, dengan menumbuk biji-bijian dan sayuran atau memasukkannya ke dalam kantong gantung khusus yang dialiri air untuk menetralisasi kandungan racun. Untuk sumber hewani, daging dimasak pada api terbuka dengan akar-akaran sebagai alas perapiannya.

Emu/australia.com-Orana-Adelaide, SA.

Sayangnya, seiring perkembangan budaya bangsa Barat yang menetap di Aussie, tradisi kuliner bush tucker kian menjauh dari sorotan. Kuliner Australia justru lebih diidentikkan dengan Vegemite atau steak daging sapi angus.

Terkikisnya budaya pribumi dan semakin menjamurnya restoran-restoran pendatang membuat gaya memasak ala bush tucker seolah sirna dari peradaban. Baru pada dekade 1990-an, makanan native Australia bernama macadamia nut mulai kembali dipromosikan.

Sekarang ini, upaya untuk kembali mempopulerkan bush tucker di mata dunia sedang getol-getolnya digarap Pemerintah Australia. Mereka rajin memperkenalkan kuliner native ke luar negeri. Salah satunya dengan memboyong chef spesialis bush tucker ke Indonesia.

Melalui Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia, chef selebritas Lynton Tapp mengunjungi Jakarta untuk membagi cita rasa pedalaman Australia atau yang dikenal juga sebagai Australian Outback.

Tapp, yang tumbuh di sebuah peternakan dekat Katherine di Northern Territory mencintai masakan asli Australia sejak kecil. Dia mempelajari gastronomi native Australia; mulai dari kuliner, budaya, cerita, hingga bahasa aslinya.

Wattleseed/australian.com-Tower Hill National Park

Selama di Jakarta, chef yang mengawali karier sebagai peternak sapi itu mengunjungi Universitas Bina Nusantara dan Universitas Podomoro untuk memperkenalkan masakan favoritny pada para koki muda Ibu Kota.

Pemenang kedua MasterChef Australia 2013 itu mendemonstrasikan teknik memasak makanan menggunakan resep bush tucker nan unik, tetapi dengan bahan-bahan yang lebih umum seperti jahe, serai, ikan barramundi, lemon, dan sambal.

Dubes Australia Paul Grigson menjelaskan bush tucker kembali menuai popularitasnya dalam beberapa dekade terakhir. Sebab, bush tucker adalah khasanah kuliner yang paling tangguh dan mudah beradaptasi dengan lingkungan dan cuaca ekstrim di Australia.

Dia menambahkan bahan-bahan bush tucker telah menjadi kebutuhan wajib di dapur warga Australia, karena sangat mudah ditemukan. Bahan bush tucker bisa berupa apapun yang tumbuh atau terdapat di alam liar; baik binatang, buah, biji-bijian, serangga, atau madu lebah.

“Masakan modern Australia itu kreatif dan mencerminkan sumber daya serta produk lokal kami yang berlimpah. Outback pantry akan mengombinasikan daging sapi berkelas dunia, buah, dan beras sebagai komplimen bagi masakan Indonesia,” ujarnya.

Selain mudah ditemukan di alam liar, bahan-bahan bush market juga semakin banyak dijajakan di pasar-pasar modern. Semakin banyak peritel yang menjual daging kanguru, yang terkenal lebih berserat dan rendah lemak.

Popularitas bush tucker semakin menyeruak seiring menjamurnya restoran ala Australia yang menyajikan menu-menu daging emu, buaya, yabbies, dan belut dengan menggunakan rempah-rempah khas Aborigin.

Di Australia sendiri semakin banyak restoran yang mendukung dan mempromosikan bush tucker sebagai sebuah industri. Banyak yang memulai perkebunan lada Tasmania atau beternak belut Victoria. Sebuah kelompok inovatif juga berkembang di Australia Selatan untuk membiasakan warga menanam tomat semak, quandongs, dan jeruk endemik.

Tag : kuliner, australia, aborigin
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top