Cold Brew: Cara Baru Menikmati Kopi

Kopi yang diseduh dengan air panas sudah terlalu mainstream. Kini, banyak orang mulai menyajikan kopi dengan cara yang berbeda. Coldbrew adalah salah satunya.
Rezza Aji Pratama | 02 Juli 2016 14:06 WIB
Kopi - wikipedia

Bisnis.com, JAKARTA - Kopi yang diseduh dengan air panas sudah terlalu mainstream. Kini, banyak orang mulai menyajikan kopi dengan cara yang berbeda. Cold brew adalah salah satunya.

Suasana di Taman Menteng, Sabtu (25/6/2016) sore itu terlihat ramai. Puluhan stand pameran berdiri tegak menjajakan aneka produk. Wahyu Agung Perdana menjadi salah satu peserta gelaran tersebut. Di stand kecil berukuran 2 kali 3 meter, Wahyu menjual minuman dalam kemasan botol yang baru diproduksinya beberapa bulan ini, cold brew.

Cold brew adalah metode seduh kopi yang berbeda dengan cara konvensional. Jika kopi biasanya dinikmati dengan air panas, cold brewjustru sebaliknya. Untuk membuat cold brew, biji kopi diseduh menggunakan air dingin. Prosesnya berlangsung hingga berjam-jam.

Cold brew berbeda dengan es kopi  meskipun sama-sama disajikan dingin,” ujarnya.

Cold brew memang tengah menjadi primadona di kalangan pecinta kopi belakangan ini. Cold brew biasanya disajikan dalam kemasan botol sehingga mudah di bawa. Wahyu yang menyadai peluang bisnis tersebut mulai memproduksi cold brew di awal tahun ini.

Berawal dari kecintaan terhadap kopi, pria asal Malang Jawa Timur ini melakukan banyak eksperimen sebelum berani meluncurkan merekcold brew-nya sendiri. Kini, dengan merek ‘Reunion’ Wahyu menjalankan bisnis cold brew skala kecil.

Selain meracik sendiri, Wahyu juga memasarkan produknya tersebut secara independen.

“Saya jualan dari pameran ke pameran dan juga mengandalkan penjualan online,” tambahnya.

Kini, cold brew ‘Reunion’ miliknya dijual dengan dua jenis kemasan botol yaitu 120 mililiter dan 250 mililiter. Harga yang dibanderol masing-masing Rp25.000 dan Rp50.000. Dalam setiap pameran Wahyu biasanya bisa menjual 50-80 botol cold brew.

‘Reunion’ hanyalah salah satu merek cold brew indie yang tengah berkembang. Wahyu menceritakan saat ini tidak sedikit pecinta kopi yang akhirnya membuat mereknya sendiri. “Boleh dibilang demam cold brew indie mulai menjamur,” katanya.

Mengapa cold brew diminati konsumen? M. Reza Sahib punya jawabannya. Dia adalah pemilik Opatan Coffee, brand cold brew sekaligus sebuah café di Bogor. Reza yang sudah berbisnis cold brew sekitar 9 bulan ini menjelaskan saat ini pengetahuan masyarakat soal kopi sudah semakin baik. Jika dulu orang hanya mengenal kopi sachet, saat ini aneka kopi lokal sudah banyak dikonsumsi.

“Nah, karena pengetahuan orang sudah meningkat akhirnya keinginan untuk mencoba kopi dengan metode baru muncul. Salah satunya dengan cold brew ini,” tuturnya.

Reza menuturkan, membuat cold brew berkualitas bukan hal yang mudah. Selain harus menggunakan biji kopi berkualitas, prosesnya juga memakan waktu yang tidak sedikit. Biji kopi awalnya di sangrai dengan level medium sehingga tidak terlalu gosong. Setelah itu, biji kopi tersebut digiling dan langsung diseduh menggunakan air dingin atau air bersuhu kamar. Air yang digunakan juga tidak bisa sembarangan.

Reza menjelaskan air tidak boleh mengandung senyawa kimia seperti air minum dalam kemasan.

Proses penyeduhan ini bervariasi mulai dari 8 jam, 12, hingga 24 jam. Proses selanjutnya adalah penyaringan dan pengemasan ke dalam botol. Dari satu kilogram biji kopi, Reza biasanya akan menghasilkan 3 liter cold brew.

Edukasi konsumen dan petani

Wahyu dan Reza sepakat tantangan yang harus dihadapi pengusaha cold brew adalah edukasi baik kepada petani atau konsumen. Reza menceritakan untuk mendapatkan biji kopi berkualitas pihaknya memilih bertemu langsung dengan petani.

Reza juga melakukan edukasi kepada para petani untuk mendapatkan biji kopi terbaik.

“Saya memberikan syarat yang ketat kepada para petani sebelum membeli biji kopi dari mereka,” paparnya.

Syarat tersebut misalnya pemanenan hanya dilakukan ketika kopi benar-benar matang. Selain itu, proses penjemuran juga dilakukan minimal 1 meter di atas tanah. Kopi yang dijemur terlalu dekat dengan tanah biasanya akan menghasilkan aroma dan rasa seperti tanah. Tidak hanya sampai di situ, proses penjemuran juga tidak boleh terlalu kering atau terlalu basah. Idealnya, kadar air yang tersisa dalam biji kopi mencapai 13%.

Dengan memberikan banyak syarat kepada petani, Reza dan Wahyu sama-sama berani membayar dengan harga mahal. Saat ini harga kopi bervariasi mulai dari Rp70.000 hingga Rp150.000 per kilogram.

“Kami jarang nawar,” ujar Reza.

Dengan sistem tersebut, Reza menuturkan dirinya ingin agar terjadi keterbukaan antara petani dan konsumen. Menurutnya, konsumen harus mengetahui dari mana asal kopi tersebut dan bagaimana prosesnya. Dengan demikian, pihaknya bisa mendapatkan pelanggan yang loyal terhadap brand cold brew miliknya.  

Indonesia sudah lama dikenal sebagai produsen kopi. Namun, selama ini kopi-kopi berkualitas lebih banyak diekspor. Kehadiran cold brew yang merevolusi cara orang meminum kopi, kejayaan produk kopi lokal di dalam neggeri sepertinya bakal menggeliat.

 

Tag : kopi
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top