Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

INVESTASI PADANG: Pengembang Pilih Bangun Budget Hotel

Berkembangnya sektor pariwisata di Sumatra Barat, menjadi alasan pengembang sektor perhotelan memilih membangun hotel budget atau skala bintang tiga guna menampung wisatawan yang datang ke daerah itu.
Heri Faisal
Heri Faisal - Bisnis.com 23 Juni 2016  |  16:50 WIB
INVESTASI PADANG: Pengembang Pilih Bangun Budget Hotel
Grand Zuri Hotel, Padang. - grand zuri
Bagikan

Bisnis.com, PADANG—Berkembangnya sektor pariwisata di Sumatra Barat, menjadi alasan pengembang sektor perhotelan memilih membangun hotel budget atau skala bintang tiga guna menampung wisatawan yang datang ke daerah itu.

Kepala Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMP2T) Padang Didi Aryadi mengatakan mayoritas investor lebih memilih mengajukan izin untuk membangun hotel budget di ibukota provinsi Sumatra Barat itu.

“Umumnya mengajukan hotel budget. Mungkin, saya kira memang permintaan pasar yang tinggi karena sektor pariwisata sudah mulai tumbuh,” katanya kepada Bisnis.com, Kamis (23/6/2016).

Dia mengakui sebagian besar pengembang yang mengajukan izin pembangunan hotel di daerah itu umumnya berada di kisaran bintang tiga dan empat.

“Kalau kami inginnya bintang empat dan bintang lima. Supaya sektor MICE juga bisa lebih berkembang. Tetapi kan tergantung investor, mereka pasti lihat pasarnya,” ujar Didi.

Pantauan Bisnis.com, sejumlah hotel bintang tiga mulai dibangun di daerah itu. Seperti Amaris Hotel, dan Fave Hotel (Aston Grup) sudah hampir menyelesaikan pembangunan dan akan dioperasikan pada semester kedua tahun ini.

Hotel budget lainnya yang akan meramaikan sektor perhotelan di Kota Padang, a.l Central Promenade Aston Condotel yang sudah mulai dibangun di kawasan Pondok, Whiz Prime Hotel dan Perwata Hotel di Khatib Sulaiman, serta Harper Hotel.

Grup Lippo melalui PT Surya Persada Lestari juga mengajukan izin pembangunan hotel di daerah itu bersamaan dengan mall Padang Landmark. Perseroan belum menentukan apakah membangun hotel dengan brand Aryaduta atau Dali Hotel.

Saat ini, setidaknya 10 hotel bintang tiga sudah beroperasi di daerah itu, seperti Ibis Hotel, Daima Prasanthi Hotel, Pangeran City Hotel, HW Hotel, The Aliga Hotel, Savali Hotel, dan hotel-hotel lainnya dengan ketersediaan kamar melebihi 1.500 unit.

Ketersediaan kamar juga dipenuhi melalui hotel-hotel bintang empat seperti Grand Inna Muara Hotel, Mercure Hotel, Kyriad Bumiminang Hotel, Pangeran Hotel, Rocky Plaza Hotel, dan brand lainnya.

Pemkot Padang, imbuh Didi, mendorong investasi hotel untuk kelas bintang empat dan bintang lima yang dilengkapi fasilitas convention untuk mendukung pengembangan industri MICE di daerah itu.

Yosi Widiotomo, Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengatakan rerata tingkat keterisian atau okupansi hotel berada di kisaran 55% di awal tahun ini.

“Belum pulih sepenuhnya, tetapi dibandingkan tahun lalu, di awal tahun ini cukup baik. Semoga sampai akhir tahun bisa stabil di kisaran 65%,” katanya.

Menurutnya, pemda perlu membatasai perizinan hotel di daerah itu agar tidak terjadi kelebihan permintaan kamar, yang berpotensi menyebabkan penurunan kinerja industri.

Adapun, data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar tingkat hunian hotel di daerah itu per April 2016 mencapai 54,66% meningkat 3,70 poin dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 50,96%.

Untuk Kota Padang dan Bukittinggi sebagai basis utama tujuan pariwisata Sumbar, okupansi hotel masing-masing 64,57% dan 46,70%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi HOTEL
Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top