Pariwisata Riau: Banyak Situs Sepi Pengunjung

Tahun demi tahun, Riau selalu sepi pelancong. Kondisi itu menjadi perhatian serius para pengusaha, pemerintah, hingga komunitas pariwisata. Riau selalu ditinggal warganya saat liburan. Bukan hanya libur akhir tahun, bahkan libur semester, libur Lebaran, dan libur nasional.
k14 | 02 Januari 2016 16:20 WIB
Candi Muara Takus. Bukan Sekadar Batu. - Indonesia.Travel

Bisnis.com, JAKARTA - Tahun demi tahun, Riau selalu sepi pelancong. Kondisi itu menjadi perhatian serius para pengusaha, pemerintah, hingga komunitas pariwisata. Riau selalu ditinggal warganya saat liburan. Bukan hanya libur akhir tahun, bahkan libur semester, libur Lebaran, dan libur hari nasional.

Sepanjang tahun ini, Riau mengalami penurunan kunjungan wisatawan. Bisa dipastikan, target kunjungan wisatawan sebanyak 60.000 orang tidak akan tercapai dan lebih rendah dari tahun sebelumnya 54.000 orang.

Meski belum terhitung secara pasti, setidaknya, tiga asosiasi pengusaha merasakan dampak lesunya industri pariwisata, sampai saat ini. Mereka ialah Asociation of Indonesian The Tours and Travel Agency (Asita), Perhimpunan Hotel dan Restoran In donesia (PHRI), dan Airlanes Operator Commute.

Warga lebih memilih liburan ke provinsi tetangga, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, dan Sumatra Utara bahkan hingga ke luar negeri, saat libur panjang. “Kalau di Riau, cuma ada kebun sawit dan pertambangan minyak. Riau ini daerah industri. Kalau di provinsi tetangga atau luar negeri, banyak pemandangan alam yang indah,” ungkap Dayat, salah seorang mahasiswa yang memilih liburan ke Sumatra Barat.

Komunitas wisatawan juga menganggap selama ini Riau kurang memperhatikan situs-situs wisatanya. Sebenarnya, Riau banyak objek wisata. Hal itu bisa diamati di media sosial, seperti Instagram, Facebook, Twitter ataupun search engine Google.

Beberapa situs wisata yang dimiliki Riau antara lain Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar, Istana Siak Sri Indrapura di Kabupaten Siak, Wisata Ombak Bono di Kabupaten Pelalawan, Taman Nasional Tesso Nilo di Pelalawan, Penangkaran Gajah di Kabupaten Siak, Pulau Rupat di Kabupaten Beng kalis dan sejumlah air terjun di beberapa kabupaten.

Sejumlah pergelaran adat dan olahraga juga rutin diadakan setiap tahun di tempat-tempat wisata, seperti Pacu Jalur di Kuantan Singingi dan Balap Sepeda Internasional Tour de Siak. Salah satu potensi wisata yang belum tereksplorasi, yaitu Pulau Rupat di Kabupaten Bengkalis.

Pulau Rupat adalah salah satu destinasi wisata yang masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Rupat memiliki luas wilayah 1.524 km2 yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka di bagian utara. Perjalanan dari Pekanbaru, Ibu Kota Provinsi Riau, memerlukan waktu sekitar 6 jam dengan jalur darat ke Dumai, kemudian menyeberang dengan kapal.

Rupat memiliki objek wisata pantai yang bersih dan putih, didukung dengan wahana air seperti jetski dan lainnya. Selain itu, ada dua pergelaran yang memancing turis, di antaranya pergelaran adat Mandi Shafar pada Rabu terakhir di Bulan Shafar yang diperingati setiap 5 Desember.

Pemerintah Kabupaten Bengkalis mengklaim sekitar 15.000 wisatawan yang didominasi oleh wisatawan dari Malaysia dan Singapura telah mendatangi Pulau Rupat.

Pengembangan potensi wisata Pulau Rupat juga mendukung program Kementerian Pariwisata yang ingin mengembangkan kawasan wisata daerah perbatasan. Pelancong ke Rupat didominasi oleh wisatawan mancanegara dari Singapura dan Malaysia. “Masih banyak warga Riau yang belum tahu Pulau Rupat atau tidak berminat ke sana,” kata Ibnu Masud, Ketua Asita Riau.

Selain itu, Candi Muara Takus juga masih sepi pengunjung. Seorang karyawan biro per jalanan mengakui pernah membawa wisatawan Singapura ke situs peninggalan Kerajaan Sriwijaya itu. Sayangnya, tidak ada nilai dan simbol historis yang menjadi nilai jual. “Wisatawan Singapura itu bilang, mereka hanya melihat batu,” kata seorang karyawan biro perjalanan kepada Bisnis.com.

Situasi itu juga terjadi di objek-objek wisata lain. Sepinya kunjung an wisatawan ini dirasakan oleh industri perhotelan, terutama di Pekanbaru. PHRI Riau mengaku kesulitan untuk mengejar target okupansi di level 65% selama setahun penuh dan tidak bisa berharap dengan momen libur akhir tahun lalu.

Ketua PHRI Riau Ondhi Sukmara mengatakan PHRI mencatatkan okupansi berhasil mencapai level 65%. Ondhi mengatakan Riau selalu sepi pengunjung saat libur akhir tahun, libur Lebaran dan hari libur lainnya, karena Riau bukan daerah wisata.

“Tidak banyak wisatawan datang ke Riau. Jadi, libur akhir tahun ini tidak berpengaruh. Memang target okupansi 65% tercapai. Tapi, sulit mencapainya,” katanya.

Okupansi sempat berada pada level 30% saat libur akhir semester di pertengahan 2015 dan libur Lebaran. Kabut asap yang terjadi selama beberapa bulan juga membuat okupansi anjlok.

PHRI mencatat empat hotel melati ‘gulung tikar’ tahun lalu. PHRI belum berani menaikkan target okupansi pada tahun depan. Dia berharap pemerintah bisa mengangkat potensi pariwisata Riau agar perhotelan serta perekonomian sektor lainnya mampu tumbuh.

Sepinya pengunjung Riau juga dirasakan oleh industri penerbangan. Ketua AOC Wahyu Wijanarko mengungkapkan tingkat isian penumpang pesawat hanya 75%. Dia memastikan Riau sepi pengunjung pada libur pergantian tahun.

“Penumpang yang meninggalkan Riau hampir 70%. Jumlah penumpang yang meninggalkan Riau tidak sebanding dengan jumlah yang datang ke Riau. Kondisi ini selalu terjadi di hari liburan,” katanya.

PERAN PEMERINTAH

Asosiasi pengusaha biro perjalanan wisata serta beberapa komunitas berharap banyak dengan pemerintah agar pariwisata dapat dikembangkan, kendati mengembangkan potensi wisata adalah tugas industri, yang terlibat langsung dalam melakukan promosi pariwisata.

Masalahnya, pelaku industri pariwisata di Riau kewalahan mempromosikan, jika tidak ada pengembangan infrastruktur dari objek wisata itu. Ketua Asita Riau Ibnu Masud terang-terangan mengkritik kinerja pemerintah dalam mengembangkan pariwisata.

Dia meminta pemerintah segera menggarap serius dan merubah pola pikir. Selama ini, pemerintah terlalu bergantung dari proyek APBD dan APBN dan terkesan tidak memerhatikan pariwisata.

Ibnu menyadari bahwa antara pebisnis dan Pemerintah Riau harus bersinergi. Pemerintah dan Asita ingin mengubah pola pikir warga agar lebih baik mendukung pogram pariwisata.

“Kami ingin Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau mengubah cara pandang. Selain itu, instansi lain juga harus mendukung dengan stakeholder masing-masing,” katanya.

Asita Riau meminta pemerintah daerah di provinsi ini menghilangkan ego sektoral dalam memfokuskan kinerjanya di bidang pariwisata. Ibnu berpendapat Pemprov perlu menggelar kompetisi pariwisata dan memberikan penghargaan kepada kabupaten/kota yang paling bagus dalam menjual potensi wisatanya.

“Pembangunan infrastruktur juga diperlukan. Industri pariwisata sangat bergantung dengan pemerintah,” katanya.

Pemerintah Provinsi Riau akan menjadikan pariwisata sebagai program unggulan tahun ini. Pemanfaatan potensi wisata Riau adalah alternatif karena Riau ingin menghilangkan ketergantungan dari industri sumber daya alam, seperti minyak dan gas bumi serta sektor perkebunan.

Pemerintah juga tengah membangun infrastruktur untuk menunjang potensi pariwisata seperti memperbaiki Candi Muara Takus, mencari investor bagi Pulau Rupat serta mempromosikan objek wisata Ombak Bono dan lainnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau Fahmizal Usman mengatakan setiap 12 kabupaten/kota memiliki objek wisata. Dia meng akui bahwa pemerintah selama ini belum serius. “Pariwisata adalah salah satu program unggulan Pemprov Riau pada 2016.”

Beberapa komunitas Mahasiswa Pencinta Alam dan My Trip My Ad venture sudah menemukan banyak objek wisata air terjun. Perlu waktu sekitar 4—7 jam untuk bisa menikmati suasana air terjun.

Pemerintah menilai wisata air ter jun perlu dikembangkan sebagai wahana berpetualang. Fahmizal mengatakan terhitung lebih dari 20 objek wisata air terjun yang selama ini belum digarap serius.

“Tahun depan, potensi wisata alam air terjun akan didukung dengan beberapa fasilitas agar wisatawan bisa berpetualang. Jadi, perlu membangun akses jalan agar cepat sampai,” katanya.

Paket wisata berpetualang itu akan digarap bersama asoiasi-asosiasi tour and travel, komunitas, dan media massa. Potensi wisata adventure ini akan menghadirkan sensasi tersendiri bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Dengan kata lain, akan ada tampilan dengan suasana baru yang akan mewarnai wisata di Riau. Wisata petualang akan dihadirkan di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) di Indragiri Hulu, sepanjang jalan menuju ke Pantai Rupat di Kabupaten Bengkalis, Lokasi Taman Nasional Teso Nilo (TNTN) Kabupaten Pelalawan dan beberapa wilayah lain nya di Riau. (k14)

Sumber : Bisnis Indonesia, Sabtu (1/1/2016)

Tag : Pariwisata Riau
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top