GLOBALISASI WISATA KULINER: Kota Gastronomi Bisa Dongkrak Kunjungan

Pada akhir bulan lalu, Kementerian Pariwisata menetapkan lima kota sebagai destinasi wisata kuliner, yakni Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Bali. Penetapan lima destinasi wisata kuliner ini telah melalui proses panjang.
Ipak Ayu H Nurcaya | 02 Januari 2016 19:04 WIB
Pedagang makanan di Simpang Lima Kota Semarang - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Pada akhir bulan lalu, Kementerian Pariwisata menetapkan lima kota sebagai destinasi wisata kuliner, yakni Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Bali. Penetapan lima destinasi wisata kuliner ini telah melalui proses panjang.

Ketua Akademi Gastronomi Indonesia (AGI) Vita Datau mengatakan pihaknya beserta lembaga akademi kuliner, seperti Sekolah Tinggi Bandung, Trisakti, Podomoro, dan beberapa lembaga swasta yang fokus pada bidang kuliner terpilih menjadi tim penilai.

“Kami telah meloloskan lima kota dari sepuluh kota yang kami nilai. Tahun depan akan ada kota-kota destinasi wisata kuliner selanjutnya yang sedang berlangsung penilainnya,” katanya saat dihubungi Bisnis.com pekan ini.

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) baru saja mengumumkan kota Gastronomi dunia, yaitu Belem (Brasil), Bergen (Norwegia), Burgos dan Denia di Spanyol, Ensenada (Meksiko), Gaziantep (Turki), Tucson (AS), Parma (Italia), Phuket (Thailand) dan Kota Rasht di Iran.

“Ke depan saya harap dengan program yang baik dari Kemenpar ini akan membawa salah satu kota kita [Indonesia] ditetapkan sebagai kota Gastronomi dunia oleh UNESCO,” ujar Vita.

Gastronomi atau tata boga adalah seni, atau ilmu akan makanan yang baik (good eating). Penjelasan yang lebih singkat menyebutkan gastronomi sebagai segala sesutu yang berhubungan dengan kenikmatan dari makan dan minuman.

Dia menambahkan penetapan destinasi kuliner ini dlihat dari enam kelayakan, yakni produk dan daya tarik utama, pengemasan produk dan even, kelayakan pelayanan, kelayakan lingkungan, kelayakan bisnis, serta peran pemerintah dalam pengembangan destinasi wisata kuliner.

Adapun lima kota yang tidak lolos dalam seleksi kota destinasi kuliner pada periode lalu, yakni Jakarta, Manado, Padang, Medan, dan Surabaya. “Namun, bukan tidak mungkin kota yang tidak lolos tersebut ke depan layak menjadi kota destinasi wisata kuliner, silakan jemput bola. Kuliner sekarang memiliki peranan yang penting dalam kemajuan satu daerah juga,” ujar Vita.

Menurut data dari Kemenpar, sambung Vita, sektor kuliner memberikan kontribusi kepada pendapatan negara sebesar Rp208,6 triliun dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 4,5% pada 2013.

Adapun penyerapan tenaga kerja di sektor kuliner ini mencapai 3,7 juta orang dengan rata rata pertumbuhan mencapai 26%. Bahkan, unit usaha yang tercipta di sektor ini mencapai 3 juta dengan rata- rata pertumbuhan 0,9%.

Pada 2015 diperkirakan jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 10 juta wisman dengan perolehan devisa sekitar US$10 miliar. Dari perolehan devisa ini sekitar 30% berasal dari kuliner atau sekitar US$30 miliar.

Adapun pada 2019 kunjungan wisman ditargetkan mencapai 20 juta orang dengan perolehan devisa US$20 miliar. Dari perolah devisa ini sekitar US$6 miliar berasal dari kuliner.

“Saya sebagai pihak swasta tidak mau terpaku dengan data dan jumlah. Intinya globalisasi kuliner Nusantara saat ini harus bangkit dan tidak boleh terlelap kembali. Setiap masyarakat mempunyai tugas untuk menjalankan perannya masing-masing,” ujar Vita.

Sumber : Bisnis Indonesia, Sabtu (1/1/2016)

Tag : kuliner nusantara, Kota Gastronomi
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top