Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kaya Ragam dan Unik, Mengapa Kuliner Indonesia Tak Mendunia?

Bisnis.com, JAKARTA - Selain memiliki sumber daya alam yang melimpah, Indonesia mempunyai keanekaragaman kuliner dengan profil unik dan berspektrum luas.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 20 Agustus 2013  |  19:01 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Selain memiliki sumber daya alam yang melimpah, Indonesia mempunyai keanekaragaman kuliner dengan profil unik dan berspektrum luas.

Namun, hingga kini belum ada kuliner Indonesia yang menjadi ciri khas dan dikenal luas di mata internasional, seperti halnya Sushi dari Jepang atau masakan Thailand, Tom Yam.

Keberagaman jumlah kuliner nasional yang mencapai lebih dari 5.300 jenis tersebut, rupanya membuat pemerintah sedikit kesulitan menemukan kuliner yang secara khusus mewakili Indonesia.

Hingga akhirnya, menjelang akhir 2012 ditetapkanlah 30 ikon kuliner Indonesia yang dinilai paling layak mewakili masakan nasional di kancah dunia Internasional, dengan Tumpeng Nusantara dikukuhkan sebagai pengikat dari ke-30 ikon kuliner tersebut.

Akhyaruddin, Direktur Pengembangan Wisata Minat Khusus, Konvensi, dan Insentif Kemenparekraf, menuturkan pemerintah dan para profesional di bidang kuliner telah mencoba lebih dari 30 tahun untuk membangun image kuliner secara global. Belum adanya kuliner yang dijadikan ikon tersebut mempersulit pengenalan masakan khas Indonesia di luar negeri.

“Untuk berkiprah ke mancanegara, kita harus mampu fokus untuk menetapkan makanan yang dapat dijadikan ikon. Dengan terpilihnya ikon-ikon ini diharapkan kita mampu bersaing dan menunjukan kekhasan Indonesia,” ucapnya dalam Bincang Pengembangan Kuliner Indonesia ke Mancanegara, Selasa (20/8/2013).

BEBERAPA FAKTOR

William Wongso, Pakar Kuliner Indonesia menuturkan faktor yang membuat Indonesia kurang tampil di mancanegara ialah kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia akan potensi yang dimilikinya.

ironisnya lagi, praktisi-praktisi di bidang kuliner lebih bangga mempelajari masakan western, atau belajar tentang cara mempercantik masakan internasional.

“Sudah banyak desainer dan penata rambut Indonesia yang dikenal secara luas di mancanegara, tetapi belum ada satupun nama chef yang secara profesional mewakili masakan dengan nama Indonesia,” tuturnya.

Selain itu, dia juga meihat Indonesia belum memiliki Kampung Indonesia di luar negeri, berbeda dengan masyarakat Vietnam atau India yang mampu membuat wilayah, sekaligus memperkuat kuliner khas negaranya di kawasan tersebut.

“Dengan adanya Kampung Indonesia kita bisa memperkuat budaya Indonesia di luar negeri, terutama kulinernya. Sayang Indonesia belum ada komunitas seperti halnya Vietnam, Thailand, atau India.”

POTENSI BESAR

Dinno Patti Djalal, Duta Besar RI Untuk Amerika Serikat menuturkan masakan Indonesia yang memiliki cita rasa serta bumbu yang kaya sebetulnya merupakan potensi yang besar.

Tidak sedikit warga Amerika yang menyukai masakan khas Indonesia, selain tentu saja masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri yang sangat merindukan kuliner nusantara.

Hanya saja, masih jarang restoran Indonesia yang berkiprah di luar negeri, termasuk Amerika Serikat, terutama restoran dengan level high end yang memiliki nama besar serta dikenal luas.

Dia menuturkan hal paling utama yang menyebabkan kuliner Indonesia tidak seberkembang kuliner dari negara lain ialah kurangnya spirit entrepreneur.

“Sebetulnya peluang sangat besar dan banyak tetapi belum banyak orang Indoensia yang berani untuk membuka restoran di luar negeri. Spirit entrepreneurnya masih kurang,” tegasnya.

Padahal, untuk membuat masakan Indonesia mendunia, dibutuhkan jiwa-jiwa entrepreneur yang berani untuk mengambil resiko dan menangkap peluang besar yang tersaji di depan mata. “Banyak yang belum berani mengambil resiko, ini yang membuat Indonesia kalah dibandingkan Korea, China, dan Malaysia,” tuturnya.

Selain itu, secara desain restoran Indonesia, juga dinilai masih kurang diperhatikan. Berbeda dengan restoran-restoran masakan negara lainnya yang mampu memunculkan suasana yang nyaman, tradisional, namun modern sehingga membuat pelanggan betah berlama-lama.

“Makanan sudah enak, tapi yang juga perlu diperhatikan ialah bagaimana mempackaging dan membuat suasana menjadi lebih nyaman, dalam hal ini kita kalah dari negara lain,” tuturnya.

PROMOSI

Nurul Ikhwan, Kasubdit Bidang Promosi Badan Koordinasi Penanaman Modal mengatakan selain dari sisi pelaku usaha, pemerintah juga harus secara serius mempromosikan dan mendengungkan ikon-ikon nusantara di dunia internasional. “Format ini harus diseriusi kalau tidak, apa yang sudah dicetuskan akan mati suri,” tuturnya.

BKPM pun akan membantu menggemakan kuliner khas Indonesia terutama dalam setiap perjalanan promosi ke luar negeri yang dilakukan selama 20 kali dalam satu tahun. Pada saat itulah seluruh masakan khas Indonesia disajikan kepada para tamu negara.

Begitu pula, dia berharap agar pada setiap acara kenegaraan di luar negeri serta tamu-tamu yang datang ke Kedutaan Besar RI seharusnya disajikan kuliner khas tersebut sehingga namanya akan semakin dikenal.

Selain itu, dia juga menila perlu adanya dukungan secara rill dari pemerintah dengan memberikan insentif kepada para pelaku usaha kuliner yang akan membuka restoran di negara luar.

“Modelnya orang Indonesia itu harus ada yang ketokin pintu dulu. Oleh karena itu, Kemenparekraf dapat mengusulkan kepada Kemenkeu agar pelaku usaha diberikan insentif. Tanpa dukungan dan dari pemerintah maka akan sulit.”

Menurutnya dengan adanya dorongan dari pemerintah, maka akan semakin banyak pebisnis yang berani untuk ekspansi membuka restoran di luar negeri. Bila tidak ada  restoran khas Indonesia yang dibuka bagaimana mungkin kuliner-kuliner tersebut akan dikenali dan disukai.

Pasalnya, secara potensi kuliner Indonesia ini sangat besar. Selain dapat memenuhi kerinduan warga Indonesia di luar negeri akan masakan Indonesia, juga banyak warga asing yang juga menyukai kuliner tersebut.

“Pernah BKPM mengadakan forum koordinasi, lalu membawa chef Ragil dan ternyata makanannya disukai oleh seluruh CEO. Masalahnya, saat orang mau mencoba lagi bingung dimana nyarinya. Padahal, bila CEO sudah menyukai, dia pasti akan mempromosikan ke yang lain. Ini sebetulnya bisa menjadi bola yang harus ditangkap oleh para pebisnis kuliner,” terangnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dino patti djalal diaspora kuliner indonesia tumpeng
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top