Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bubur Pedas Sajian Khas Ramadhan di Medan

Bisnis.com, MEDAN - Masyarat Melayu di Sumatra Utara bisa dipastikan tidak asing lagi dengan sebutan bubur pedas. Sajian penganan dengan bahan rempah-rempah ditambah beras dan lainnya, selalu akrab ketika memasuki bulan Ramadhan.
Sukirno
Sukirno - Bisnis.com 06 Agustus 2013  |  23:35 WIB

Bisnis.com, MEDAN - Masyarat Melayu di Sumatra Utara bisa dipastikan tidak asing lagi dengan sebutan bubur pedas. Sajian penganan dengan bahan rempah-rempah ditambah beras dan lainnya, selalu akrab ketika memasuki bulan Ramadhan.

Khusus selama bulan puasa, bubur pedas ini dapat dinikmati secara cuma-cuma oleh masyarakat sebagai hidangan khas ketika berbuka puasa.

Menurut sejarahnya, tradisi warisan berbuka puasa dengan bubur pedas ini telah ada sejak masa Kesultanan Deli pertama kali pada 1909.

Saat itu Tanah Deli dipimpin Tuanku Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alam Syah. Dan warisan budaya tersebut terus berlangsung sampai saat ini, ketika umat Islam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan 1434 H tahun ini.

Banyak sekali cerita yang muncul dari kebiasaan menikmati masakan khas Melayu yang memang cukup lezat dan hangat bagi tubuh ini. Ada yang menikmatinya karena memang gemar, ada yang karena penasaran dan ada yang menjadikannya sebagai kebiasaan.

Tapi ada yang paling menarik dari kebiasaan itu, yaitu masyarakat yang menikmatinya melintasi batas suku dan ras. Artinya bubur pedas ini tidak hanya diminati dan dinikmati oleh masyarakat Melayu, tapi berbagai macam suku yang ada di Sumut menjadikannya sebagai makanan yang sulit dilewatkan ketika bulan Ramadan.

Bubur yang rasanya pedas itu dibuat dengan bermacam jenis rempah. Namun, kini bumbu untuk bubur tidak selengkap dahulu karena beberapa bumbu sudah sulit ditemui.

Seiring dengan berjalannya waktu, sajian itu berubah menjadi bubur sop karena sulitnya mendapatkan bahan dasar resep bubur pedas, warisan Tuanku Sultan Makmum Al Rasyid Perkasa Alam Syah.

Untuk memasaknya, menggunakan kayu bakar. Karena dengan kayu bakar, rasa akan lebih enak jika dibandingkan dengan menggunakan kompor atau gas. Walaupun dengan kayu bakar, memasaknya pun tidak terlalu lama. Hanya memakan waktu 3 sampai 4 jam. Mulainya sesudah Shalat Zuhur dan selesai setelah Shalat Ashar.

Porsi bubur pedas ini, dibagikan ke masyarakat sekitar dan musafir yang berbuka puasa di Masjid Raya. Dengan cara membagikan bubur pedas kepada masyarakat di sekitar Masjid Raya dan Istana Maimoon yang letaknya berjarak 200 meter.

Sebagian ada yang dibawa pulang, dan sebagian untuk berbuka puasa di Masjid.  Karena telah dinikmati begitu lama oleh masyarakat ketika bulan puasa, keberadaan bubur pedas menjadi ikon yang tidak mungkin dipisahkan lagi dengan Masjid Raya.

Karena itu, perhatian pemerintah untuk mempertahankan tradisi ini di Masjid Raya harus menjadi hal penting yang harus tetap dapat dilaksanakan.

Bukankan keberadaan bubur pedas telah melampui batas suku maupun ras masyarakat Sumut yang terkenal pluralitas, juga telah merentas batas kehidupan, sebab dia disukai oleh semua kalangan.

Oleh karena itu, perhatian pemerintah terutama Pemkot Medan agar tradisi leluhur ini terus berjalan, harus menjadi prioritas yang harus dipertahankan. Hal ini disampaikan mengingat sajiannya tak pernah lekang setiap zaman. Anda ingin mencobanya?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

melayu bubur pedas
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top