WAROENG PATIN: Menu Nikmat Tanpa Pengawet

Jika Anda penikmat satai, maka tak ada salahnya mencoba sensasi baru di Waroeng Patin, Jalan Taskurun Pekanbaru, Riau.
News Writer | 16 Juni 2013 12:30 WIB

Jika Anda penikmat satai, maka tak ada salahnya mencoba sensasi baru di Waroeng Patin, Jalan Taskurun Pekanbaru, Riau.

Seperti namanya, menu andalannya adalah satai ikan patin. Delapan tusuk satai patin akan memberikan sensasi berbeda menikmati satai. Selain itu, juga ada lalapan seperti selada dan mentimun, dalam menu tersebut.

Kuahnya juga tidak seperti biasa. Bukan tepung juga bukan kacang, melainkan kuah dengan campuran sambal, saos, cabe rawit, kecap, cuka, dan mayones.

Ketika mencicipinya, sensasi bermacam-macam pun dirasakan. Awalnya pedas, lama kelamaan rasa masam dan juga manis. “Kami harus keluar dari pakem satai kebanyakan, termasuk juga kuahnya,” kata Eriyanto Ramadhoni, pemilik Waroeng Patin.

Suasana Waroeng Patin, didominasi warna merah marun, mulai dari kursi, meja hingga hiasan dinding. Warung itu memang baru dibuka sejak 1 bulan lalu.

Ramadhoni mengatakan awalnya mereka berjualan melalui media sosial macam Twitter dan Facebook. Namun, karena distribusinya lumayan merepotkan, maka gerai khusus satai patin pun dibuat.

Bagi para pengunjung Waroeng Patin, selain satai patin juga menyediakan Moneybag atau makanan yang terbuat dari cacahan udang, ikan, sayuran, dan mie.

Ada juga yang berbahan udang tempura, siomay, atau samosa. Waroeng Patin juga menginginkan makanan yang sehat, enak dan kaya gizi. “[Makanan] kami bebas bahan pengawet,” ujar Ramadhoni. Masalah harga juga jangan khawatir. Semua menu bisa dinikmati hanya dengan Rp14.950.

Ide membuat satai ikan patin, katanya, muncul pada tahun lalu berkat eksperimen selama 1 bulan. “Karena awalnya tak mungkin menjadikan patin menjadi satai, soalnya dagingnya bisa hancur, tapi dengan selalu berusaha ditemukan juga formulanya,” papar Ramadhoni.

Pembuatan satai patin tergolong mudah. Kulit ikan patin segar diibuang dan dagingnya dipotong. Setelahnya, daging murni tersebut dipotong macam dadu, kemudian dicampur bumbu rempah seperti kunyit, bawang merah, bawang putih dan ketumbar.

Kemudian ditusuk dan dimasukkan ke dalam lemari pendingin supaya bumbu lebih meresap dan daging tidak mudah hancur ketika dibakar. “Tapi ingat, bahan bakunya harus patin dengan berat minimal 4 kilogram karena antara kulit, tulang dan dagingnya mudah dipisahkan,” terangnya.

Tak hanya itu, Waroeng Patin pun memiliki visi jangka panjang menjadi tempat makanan yang cukup gizi, tanpa bahan pengawet dan memelopori industri hilir patin di Riau. Keyakinan itu didapatkannya karena produksi ikan patin di Riau melimpah.

“Sekarang tinggal perlakukan dalam budidaya ikan dan bagaimana pemerintah memberikan akses kepada pengusaha kecil untuk mengembangkan usahanya, misalnya, dengan membantu teknologi dan akses pasar,” kata Ramadhoni.

(AANG ANANDA SUHERMAN)

Tag : waroeng patin, eriyanto ramadhoni
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top