Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AGROWISATA: Pariwisata Bali Diminta Tak Kikis Lahan Pertanian

BISNIS.COM, DENPASAR– Menteri Pertanian Suswono berharap Pemprov Bali dapat memadukan antara sektor pertanian dan pariwisata. Menurut Mentan, agrowisata jika dikemas dengan baik tidak kalah menariknya dibanding jenis-jenis wisata lainnya.
Fatkhul-nonaktif
Fatkhul-nonaktif - Bisnis.com 05 Juni 2013  |  21:11 WIB

BISNIS.COM, DENPASAR– Menteri Pertanian Suswono berharap Pemprov Bali dapat memadukan antara sektor pertanian dan pariwisata. Menurut Mentan, agrowisata jika dikemas dengan baik tidak kalah menariknya dibanding jenis-jenis wisata lainnya.

“Malaysia contohnya. Mereka berhasil mengembangkan kawasan agrowisata yang banyak mendatangkan wisatawan asing di Langkawi,” kata Mentan menjawab pertanyaan wartawan terkait derasnya alih fungsi lahan pertanian menjadi area bisnis.

Mentan menyebut, Bali memiliki keindahan alam yang tidak kalah dengan Langkawi. Karena itu jika Bali juga mengembangkan agrowisata, dirinya yakin akan menarik perhatian wisatawan manca negara. “Alam Bali jauh lebih indah dibanding Lankawi,” tandas Mentan dalam siaran persnya, Rabu (5/6/2013).

Menurut Mentan, dengan pengembangan agrowisata diharapkan tidak ada lagi alih fungsi lahan pertanian menjadi area bisnis di Bali.

Mentan juga meminta Pemdai Bali segera menerbitkan Peratran Daerah  tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Perda ini sangat urgen guna melindungi lahan pertanian yang masih tersisa di Bali.

“Keberpihakan Pemda di Bali terhadap pembangunan sektor pertanian dapat diwujudkan, salah satunya  dengan kebijakan pembebasan pajak terhadap lahan-lahan pertanian produktif,” lanjut Mentan.

Salah satu yang mendorong derasnya alih fungsi lahan pertanian di Bali adalah tinggi pajak bumi dan bangunan (PBB). Hal itu disebabkan tingginya NJOP (nilai jual obyek pajak) tanah di Bali, yang dekat dengan kawasan wisata.

Mentan Suswono menambahkan, pariwisata Bali yang menjadi kontributor utama pendapatan asli daerah (PAD) Bali tidak bisa dilepaskan dari eksotisme budaya Bali yang sejatinya bernapaskan budaya agraris. Jika budaya pertanian Bali itu sampai lenyap, maka pariwisata Bali juga akan kehilangan pesonanya karena eksistensi kepariwisataan Bali sejatinya tidak bisa dilepaskan dari eksistensi budaya agraris itu sendiri.

''Kekuatan ini harus benar-benar dipahami oleh para pemimpin di Bali, sehingga penerbitan regulasi atau paket-paket kebijakan yang menjamin adanya perlindungan terhadap lahan pertanian pangan berkelanjutan itu bersifat mutlak. Pemerintah daerah di Bali wajib melestarikan eksistensi subak yang saat ini sudah jadi world heritage atau warisan dunia,'' tegasnya.

Dalam kesempatan itu Suswono juga mengingatkan, pengembangan sektor pariwisata Bali hendaknya terintegrasi dengan pembangunan sektor pertanian. Kemajuan pariwisata Bali tidak boleh mengabaikan sektor pertanian. Jika pariwisata tumbuh pesat dan pelaku yang bergerak di dalamnya meningkat kesejahteraan, maka komunitas petani Bali juga harus terdongkrak kesejahteraannya.

“Pelaku pariwisata di Bali hendaknya lebih peduli k dengan peningkatan kesejahteraan petani Bali. Caranya dengan memanfaatkan produk-produk pertanian yang dihasilkan petani Bali untuk berbagai kepentingan pariwisata,” terang Mentan. (MFM)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali agrowisata langkawi
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top