PARIWISATA bertekad jadi sektor unggulan PDB

 
nurul
nurul - Bisnis.com 30 April 2012  |  21:13 WIB

 

JAKARTA: Pariwisata berpeluang untuk menjadi sektor unggulan yang berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia jika  pemerintah melakukan perhitungan neraca satelit pariwisata nasional (nesparnas) dengan tepat.
 
“Saat ini pariwisata masih menjadi sektor pilihan dalam kontribusi ke PDB, tapi dapat menjadi sektor unggulan bila menunjukkan kemampuan dalam neraca satelit pariwisata,” kata Wardiyatmo, Sekretaris Jenderal Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, hari ini.
 
Untuk itu, ujarnya, nesparnas menjadi alat ukur yang tengah dikembangkan di sejumlah daerah tingkat provinsi dan kabupaten (nesparda). Metode ini untuk mengetahui dampak ekonomi dari kegiatan pariwisata yaitu berapa produksi nasional pariwisata, nilai tambah pariwisata kepada PDB, gaji pegawai di sektor pariwisata dan berapa pajak tidak langsung dari pariwisata.
 
“Jadi nesparnas memang alat ukur untuk melihat peran pariwisata terhadap perekonomian nasional secara makro. Oleh karena itu pendataan neraca pariwisata sebaiknya tidak hanya bergantung pada pemerintah daerah atau provinsi, tapi juga di tingkat kabupaten bahkan oleh para pengelola kawasan pariwisata juga sehingga pendataan mengenai dampak pariwisata lebih terkoordinasi dengan baik,” katanya.
 
Wardiyatmo menegaskan pariwisata mempunyai peranan cukup besar dalam mengatasi persoalan ekonomi makro seperti inflasi, pengangguran, serta neraca pembayaran termasuk neraca perjalanan.
 
Sebagai gambaran dampak ekonomi pariwisata 2010 terhadap produksi barang dan jasa secara nasional mencapai 4,73%, kontribusi terhadap PDB sebesar 4,06 %, sedangkan terhadap tenaga kerja secara nasional sebesar 6,87%. Pada tahun 2010 sektor pariwisata menciptakan lapangan kerja bagi 7,43 juta orang, tambahnya.
 
Kasubdit Statistik Pariwisata BPS, Eko Marsoro mengatakan nesparnas juga dapat digunakan untuk memperlihatkan kontribusi pertanian terhadap produksi, nilai tambah atas PDB dan tenaga kerja di suatu bidang tertentu
 
Beberapa daerah,  kata Eko, telah memiliki nesparda yang dapat dijadikan sebagai indikator perkembangan pariwisata secara konfrehensif didaerahnya masing-masing. 
 
Sebagai contoh kontribusi sektor pariwisata DKI Jakarta terhadap PDB nasional sebesar Rp 44,24 triliun dengan menciptakan lapangan kerja sebanyak 390.512 orang, sedangkan pariwisata Bali kontribusinya sebesar Rp 19,54 triliun yang membuka lapangan kerja sebanyak 815 ribu orang.
 
 “Data ini menunjukkan ativitas pariwisata di DKI Jakarta padat modal dibandingkan di Bali,” kata Eko, seraya mengatakan kegiatan pariwisata padat modal ini terkait dengan jenis wisatanya misalnya lebih banyak wisata bisnis atau konvensi. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top