Plaza Semanggi Perkuat Citra Baru Sky Dining

Tren rooftop dining bukan hal baru di lingkungan perkotaan. Sudah sejak lama atap atau lantai teratas gedung pencakar langit menjadi lahan menjanjikan bagi pelaku bisnis kuliner dan gaya hidup.\n\n
Wike Dita Herlinda | 31 Mei 2017 01:50 WIB
Kuliner Indonesia - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Tren rooftop dining bukan hal baru di lingkungan perkotaan. Sudah sejak lama atap atau lantai teratas gedung pencakar langit menjadi lahan menjanjikan bagi pelaku bisnis kuliner dan gaya hidup.

Dengan menawarkan sensasi pemandangan cakrawala kota dan suasana yang lebih mewah dan eksklusif; berbagai perusahaan berlomba-lomba mengincar tempat di rooftop gedung untuk mendirikan bar, cafe, restoran, maupun venue pergelaran.

Salah satu rooftop dining yang paling populer di kalangan warga Jakarta adalah Plangi Sky Dining yang terletak di puncak gedung Plaza Semanggi. Areal Sky Dining dikelola oleh perusahaan operator mal terbesar di Indonesia, Lippo Malls Indonesia.

Berbeda dengan kebanyakan rooftop dining yang terkesan elite dan mahal, Sky Dining menawarkan sensasi rooftop dining mewah tetapi ramah di kantong. Mereka menggandeng berbagai vendor restoran dan menjadikannya semacan food court.

Lalu, seperti apa geliat bisnis Sky Dining? Bagaimana pula Sky Dining bertahan di tengah persaingan bisnis rooftop dining yang kian ketat di Ibu Kota? Berikut penuturan PR Manager Lippo Malls Indonesia, Nidia Niekmasari Ichwan:

Sejak kapan Sky Dining dibuka? Apa yang melatarbelakangi Lippo Malls untuk membuka bisnis rooftop dining di Plaza Semanggi ini?

Sky Dining kembali dibuka pada Januari 2017, dan kami masih terus melakukan perbaikan baik dari segi makanan maupun perubahan lainnya. Sky Dining yang sekarang sangat jauh berbeda dari yang dulu.

Kami merombaknya menjadi lebih bagus dan cocok untuk tempat hangout yang menawarkan keindahan panorama Jakarta dari atas ketinggian.

Sebenarnya yang melatarbelakangi Lippo Malls mendirikan bisnis rooftop dining di Plaza Semanggi adalah karena kami melihat tren yang sedang berkembang di kalangan masyarakat urban saat ini.

Pusat perbelanjaan bukan sekadar menjadi tempat tujuan belanja, tetapi sekaligus menjadi tempat berkumpulnya komunitas dan orang; entah untukhangout, jalan-jalan, atau berwisata kuliner.

Dengan melihat tren perilaku konsumen tersebut, kami mengambil kesimpulan bahwa sebuah mall harus memiliki nilai tambah yang diperlukan masyarakat. Salah satunya adalah tempat hangout di atap gedung seperti Sky Dining ini.

Apa kelebihan Sky Dining dibandingkan dengan kafe/bar/restoran berkonsep rooftop dining lainnya?

Sekarang ini tren rooftop dining di Jakarta lebih banyak dikuasai oleh restoran-restoran yang menawarkan harga mahal, karena mereka terletak di puncak hotel bintang lima atau gedung perkantoran.

Nah, di Sky Dining kami menawarkan harga yang lebih terjangkau tetapi tetap eksklusif dengan menawarkan pemandangan kota Jakarta dari atas ketinggian. Meskipun harga [makanannya] terjangkau, interiornya tetap kami kemas sedemikian rupa agar tidak kalah bagus dengan rooftop dining lain.

Keunggulan lainnya adalah lokasinya di Plaza Semanggi, yang memang sebelumnya sudah tenar. Karena terletak di sentral Jakarta, Sky Dining ideal untuk meeting point sambil menunggu macet berlalu.

Apa tema yang diusung oleh Sky Dining setelah dibuka kembali? Apa ada yang baru?

Tema yang kami usung adalah Deja Vu, karena berdasarkan ulasan masyarakat di media sosial tentang Plaza Semanggi, sebagian besar adalah pelanggan setia yang masih rutin ke sana. Banyak juga yang memiliki kenangan di Sky Dining.

Jadi, sebelum sempat ditutup selama empat tahun terakhir, Sky Dining terkenal sebagai tempat hangout para first jobbers di daerah Sudirman. Nah,sekarang ini banyak dari mereka yang sudah mapan tetapi tetap datang ke sana karena punya kenangan di sana.

Selaras dengan tema Deja Vu itu, kami menghadirkan menu-menu makanan yang lebih tradisional dan populer di kalangan masyarakat Jakarta. Selain itu, kami menawarkan hiburan musik yang menghadirkan suasana nostalgia.

Sebulan sekali kami mengundang musisi-musisi [dari era 1990-an sampai awal 2000-an] seperti Maliq and The Essentials atau reuni Indonesian Indol musim pertama. Konsepnya kami ingin menghadirkan live music nostalgia untuk mengenang masa kejayaan mereka.

Selain itu, setiap harinya kami juga menggelar live music dari house band kami, dan juga mendatangkan DJ setiap akhir pekan. Kami buka setiap hari pukul 16:00—22:00. Khusus Jumat dan Sabtu, kami tutup pukul 24:00, dan Minggu kami tutup.

Bagaimana respons pengunjung terhadap Sky Dining?

Sementara ini pengunjungnya cukup bagus walaupun sedang musim hujan. Sky Dining memiliki kapasitas 200 orang. Kalau hari biasa, kursi bisa terisi 50%-70%. Kalau akhir pekan atau saat ada acara spesial pengunjung bisa mencapai 500 orang, termasuk yang berdiri.

Apa saja menu yang disajikan?

Konsepnya adalah food court, masih sama seperti dulu. Bedanya, kalau dulu kami menggandeng vendor-vendor restoran, sekarang ini kami menjadikannya semacam bazaar dengan menu-menu lokal yang sudah populer.

Beberapa di antaranya adalah sate padang Ajo Ramon, sate ayam RSPP, kedai bakso Irfan Hakim, ayam taliwang Mbok Sutil, cakwe Master, es durian Iko Gantinyo, kue cubit, kuliner Bhineka, nasi bakar Wijaya, siomay F4, dan masih banyak lagi.

Bagaimana memilih vendornya? Apa yang menjadi pertimbangan?

Kami mencari vendor makanan apa yang banyak dicari orang. Selain itu, kami mencari vendor-vendor yang tidak ada di restoran di dalam mall, jadi menu-menu yang ditawarkan di Sky Dining bisa melengkapi apa yang dijajakan di dalam Plaza Semanggi.

Saat ini persaingan bisnis rooftop dining semakin ketat. Apa strategi Lippo Malls untuk membuat Sky Dining tidak tertinggal dalam persaingan tersebut?

Core business kami sebenarnya adalah mall. Namun, kami juga memperhatikan gaya hidup masyarakat urban terus berubah. Mall menjadi destinasi kuliner dan wisata, sehingga kami tergerak untuk melakukan perubahan-perubahan [pada konsep Sky Dining] sebagai bentuk pelayanan pada konsumen. Itu yang kami lakukan untuk bisa terus memenuhi kebutuhan pelanggan.

Tag : kuliner
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top